Rabu, 31 Juli 2019

Soo hard to say goodbye.


                                                Senja yang tenggelam menjadi malam yang kelam

                Hai, aku si gadis lugu berusia kurang pantas ku sebutkan. Saat ini jam 2 pagi, aku sehabis nabung di bank rumahku rasanya tidak usahku katakan ku rasa kalian tau rasanya, sambil ditemani iringan lagu dari Banda Neira seakan membawa ku ke alam yang berbeda.

                “Rindu? Bukti untuk bertemu bukan? Hanya orang gila yang tidak mengakui rindu dasar, gadis lugu.” Katamu padaku, tapi nyata? Itu adalah ilusi, ilusi yang kau ciptakan sesaat hanya untuk sebuah penenang agar terciptanya sebuah rumah garis senyuman di wajahku tapi ia telah sirna.

                Senja (n) : adalah bagian waktu dalam hari atau keadaan setengah gelap di bumi sesudah matahari terbenam, ketika piringan matahari secara keseluruhan telah hilang dari cakrawala.
“tak usah takut wahai gadis lugu selama matahari masih menunjukan diri percayalah senja akan kembali.” Katamu kembali padaku, tapi nyatanya? Hm baiklah, hai senjaku, kapankah kau kembali bersinar lagi seperti sedia dulu kala? Jika belum tiba waktumu untuk bersinar lagi, ayo percepatlah waktunya, sebab aku merindukan kembali akan ke indahanmu, duh senjaku kau selalu juara membuatku cemas.

                Mengapa dunia adil pada senja tapi tidak pada fajar? Mengapa banyak sekali yang mengagumi jingga tapi tidak pada gerhana? Mengapa senja hanya sejenak? Begitu cepat berganti menjadi malam yang kelabu. Mengapa? Apa pantaskah aku si penikmat senja cemburu dengan adanya bulan di malam yang gelap? Bagaimana ku ingin mengungkapkan rasa yang tak pernah reda, bahkan untuk cemburupun aku tak berhak. Sangat egois memang, tapi izikan waktu yang menanti untuk masa yang tak ingin ku sudahi.

                Tentang sebuah kehilangan, senja yang jingganya mudah meredup berganti menjadi gelap yang mencengkam, tetesan air hujan yang meneduhkan berganti menjadi dingin yang menusuk, yang aku takut akan semakin menjauh, yang jauh berlari semakin tak terlihat. Sepi menjadi ruang lingkupku sendiri, damai, sunyi sudah menjadi teman baikku.

                Cinta tau kepada siapa dia tumbuh, aku minta maaf jika tak bisa merubahmu menjadi lebih berarti. Aku si gadis lugu yang tak mengerti apa-apa, hidupku monoton. Sekarang kau sudah menemukan puan yang baru, dan rumah itu bukanlah milikku lagi. Terkadang harus mencoba melepaskan agar koreng tak lagi lara. Kamu itu ciptaan orang tuamu yang dikirim Tuhan yang paling indah, setidaknya aku sedikit beruntung mengenalmu walau sedetik, tak sia-sia diriku. Kau percaya tidak? Jika tidak tanyakanlah pada semesta karena dia menjadi saksi bahwa aku si gadis lugu sangat memujamu. Meskipun kau telah tiada, setidaknya hadirmu menghadirkan makna. Tapi percayalah senja, aku baik-baik saja disini tidak meratapi pilu, tapi merasakan euforia ketenagan ombak.

                Perihal pura-pura untuk merindu sepertinya aku pemenangnya, ini seperti sudah menjadi budaya untuk diriku, menjadi kebiasaan dalam kelemahan, aku kalah. Aku tak pernah faham bahwa merindu ternyata sangat menyulitkan, selalu ada ruang kosong untuk merindu, tapi hanya kosong saja tak ada ruang untuk menghidupi ruang rindu. Tak adil juga puan barumu boleh dengan mudahnya merindu sedangkan aku tidak? Tak adil kau memberi ruang kosong yang boleh diisi sedangkan aku tidak? Sia-sia sudah, aku kalah. Kau mudah mengacuhkanku tapi tidak dengan puan barumu, berbeda denganku. Perihal rindu juga butuh waktu sabar, dan sedikit keraguan, ya ragu apakah aku akan dirindukan sebaliknya? Atau akan di acuhkan kembali? Apakah aku harus rela begitu saja agar rindu ini mati dengan sendirinya? Ku rasa tak ada hal sia-sia dalam hal menunggu, semua orang punya waktu dan caranya masing-masing, kau memang bukan bagian dariku lagi, tapi kau ingat tak ada yang mampu memperlakukan rindu ini sepertiku, ntah kapan ku harap kau segera menyadarinya.

                24/7 aku selalu mendambakan kehadiran sosok jingga di langit sore, dengan kita yang berjarak 8.5km, di ujung waktu kita menikmati hari bersama di tempat yang berbeda, semoga suatu saat nanti, dengan izin maha kuasa di tempat yang sama dengan raut manis teduh senyummu.

                Kehilangan memang menyakitkan, tapi percayalah itu adalah hadiah sengaja dari Tuhan agar kita bisa merasakan pembelajaran dalam hidup atas rasa sakit yang diberikan, sebelum di pertemukan oleh seseorang yang lebih baik darinya. Percayalah suatu saat nanti akan hadir seseorang yang mampu membahagiakanmu, mencintaimu, dan menyayangimu dengan tulus bahkan tak ada sedikit niatan darinya untuk melukaimu, memang tak mudah tapi ini proses, mulai belajarlah untuk mengikhlaskan dia yang telah melukaimu, jangan biarkan dirimu larut dalam lara, jangan sedih apa lagi menangisi dirinya yang belum tentu dia peduli denganmu, mungkin tertawalah dia melihat kau bersedih menangisi dirinya. Dia itu seperti bunga mawar, indah di pandang akan tetapi jika kita mencoba pegang durinya cukup sakit menusuk dan membuat luka yang meninggalkan bekas.

                Terntukmu senjaku, ku harap kau membaca ini. Sejujurnya aku ingin mengucapkan terima kasih dengan sangat besar untukmu dan kata maaf. Aku membuat tulisan ini tak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin mengutarakan yang inginku sampaikan. Aku tau kau lelaki baik dan bertanggung jawab, kau juga sangat humoris, adakalanya masa dimana kau membuatku jengkel tapi ku bisa memakluminya, 100 hari diriku bersamamu, terima kasih untuk waktu yang singkat namun cukup berarti. Maaf aku salah tidak pernah mengerti apa maumu, maumu yang mau aku larang dan aku ingatkan untuk sholat 5 waktu setiap harinya? Maumu aku yang bisa membuat hidup masa mudamu lebih berarti? Aku tak tau kau terhasut oleh siapa, tapi apa kau lupa dengan hal-hal yang pernah aku katakan padamu? Kemarilah sayang, mendekatlah sejenak kepelukanku, akan ku ceritakan sedikit tentang bagaimana aku ke kamu, disini dan sekarang bukan perihal siapa yang benar dan siapa yang salah, aku mengakui kecerobohanku karena terlalu membebaskanmu, nyatanya kau salah menanggapi apa yang aku maksud, tapi tak apa aku tak menyalahkanmu, semua sudah berlalu, aku ingin bilang, aku tak ingin dan bahkan aku tidak ada niatan untuk menjerumuskanmu untuk menjadi lebih buruk, tidak sama sekali, percayalah, bahkan aku berani bersumpah demi semesta yang indah ini, tak ada niatan aku ingin membuatmu menjadi pribadi yang buruk, tujuan pacarankan membuat yang buruk menjadi baik dan yang baik menjadi lebih baik, aku membebaskanmu bukan berarti aku mengizinkanmu, jika kau tau membunuh orang salah, apa kau masih lakukan? Jika aku membebaskan mu bukan berarti aku mengizinkan untuk kau membunuh orang, jika aku izinkanpun kau tau itu salah? Lalu kenapa kau masih lakukan? Balik lagi ke dirimu sendiri, kamu sudah besar tau dan harusnya bisa memilah mana yang baik dan tidak, sekarang kau sudah menemukan puan yang baru yang bisa membuatmu lebih bermakna dalam hidup, yang bisa melarang-larangmu, yang selalu mengingatkanmu untuk sholat.

                Karena kau senjaku, dia adalah bulanmu dan aku fajarmu, kau telah berhasil menyudahi sinarku agar bisa berjumpa dengannya, bagaimanapun aku berusaha aku tetap kalah dengan indahnya sinar sang rembulan. Aku sadar aku hanyalah sebuah serpihan daun yang menemani pohon disaat buah belum tumbuh ya kasarnya aku hanyalah sebuah pelarian dari masa lalumu, tak apa aku mengerti. Sangat menyakitkan memang tapi tak ada yang bisa di salahkan semua telah berubah begitu cepat sampai waktu tak sanggup untuk berganti masa, aku hanyalah peran pengganti disaat tuan kehilangan peran utama dan sedang mencari tokoh baru untuk peran utama, kehadiranku hanya sebatas tamu saja, tak lebih. Sosok gadis lugu ini tak bisa menandingi sosok masa lalunya, cinta yang fana. Terima kasih kau telah hadir menjadi sosok yang menjadikan masa SMA ku cukup berarti, menjadikan ilusiku menjadi nyata namun hampa, ya aku disini yang terkadang mengharapkan kemustahilan membawamu kembali tapi sudahlah aku harus bisa merima kemustahilan itu. Jika kau baca, ingin ku pastikan bahwa sekarang kau baik-baik saja? Jika iya, alhamdulillah dan jika tidak, semoga ada hal-hal baik selalu tercurahkan untuk dirimu. Jika sebenarnya berjodoh, ya kita berjodoh sebagai teman. Tolonglah berenti menjadi orang asing dalam diriku. Aku tau kau hanya bergurau jika kau bilang tidak membenciku, setelah hal-hal yang telah aku dengar selama ini tentangmu kepadaku. Tulisan ini hanya sebagian hal kecil yang ku ingin ungkapkan padamu, masih banyak hal lainnya tapi tidak sekarang, nyatanya yang kau harus tau, sejujurnya aku ingin menjadi orang yang berhasil membuatmu lebih berarti, yang menemanimu dari 0 sampai sukses, aku ingin menjadi orang pertama yang kau lihat di pagi hari, membuatkanmu sarapan, membantumu dalam segala hal susah maupun senang, melihat keberhasilanmu, aku ingin menjadi bagian kecil dari dirimu, selama beberapa tahun kedepan, nyatanya? Mustahil karena ku sudah tak berarti bagimu.

                                                                Selasa, 10 April 2018 – Minggu, 10 Juni 2018

                Teruntukmu di tunggu bagian keduanya.

Etnis Tionghoa Pasca Orde Baru dan Politik Identitasnya

Etnis Tionghoa Pasca Orde Baru dan Politik Identitasnya             Etnisitas adalah sekelompok manusia yang memiliki kesamaan latar b...