Nama : Intan Fatwa
Kharismatunnisa
NPM : 193501516039
BAB XI : PARTAI
POLITIK
Sejarah Perkembangan Partai
Politik
Partai
politik lahir pertama kali di Eropa Barat, partai politik telah lahir secara
spontan dan berkembang menjadi penghubung antara rakyat di sebuah pihak dan
pemerintahan di pihak lain. Berawal dari kegiatan politik dan barulah pada
akhir abad ke 19 lahirlah partai politik. Yang pada masa selanjutnya berkembang
menjadi penghubung (link) antara rakyat satu pihak dan pemerintahan di
pihak lain.
Terdapat perbedaan ideologi “Kiri” dan “Kanan”
KIRI KANAN
|
Perubahan,
kemajuan
|
Status quo,
konservatif
|
|
Kesetaraan (equality)
untuk lapisan bawah
|
Privilege (untuk lapisan atas)
|
|
Campur tangan
negara (dalam kehidupan sosial/ekonomi)
|
Pasar bebas
|
|
Hak
|
Kewajiban
|
Definisi Partai Politik
Secara umum
dapat dikatakan bahwa partai politik adalah suatu kelompok terorganisir yang
anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama.
Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut
kedudukan politik dengan cara konstitusional untuk melaksanakan programnnya.
Fungsi Partai Politik
Fungsi di Negara Demokrasi
Partai di
negara demokrasi relatif dapat menjalankan fungsinya sesuai dengan harkatnya pada
saat kelahirannya, yakni menjadi wahana bagi warga negara untuk berpartisipasi
dalam pengelolaan kehidupan bernegara dan memperjuangkan kepentingannya di
hadapan penguasa.
1.
Sebagai
Sarana Komunikasi Politik
Agregasi
dan artikulasi itulah salah satu fungsi komunikasi partai politik. Di sisi
lain, partai politik juga berfungsi sebagai memperbincangkan dan
menyebarluaskan rencana-rencana dan kebijakan-kebijakan pemerintah. Dalam
menjalankan fungsi inilah partai politik sering disebut sebagai perantara (broker)
dalam suatu bursa ide-ide (clearing hpuse of ideas). Kadang-kadang juga
dikatakan bahwa partai politik bagi pemerintah bertindak sebagai alat
pendengar, sedangkan bagi warga masyarakat sebagai “pengeras suara”.
2.
Sebagai
Sarana Sosialisasi Politik
Dalam
ilmu politik sosialisasi politik diartikan sebagai suatu proses yang melalui
seseorang memperoleh sikap dan orientasi terhadap fenomena politik, yang
umumnya berlaku dalam masyarakat di mana ia berada.
3.
Sebagai
Sarana Rekrutmen Politik
Untuk
kepentingan internalnya, setiap partai butuh kader-kader yang berkualitas,
karena dengan hanya kader yang demikian ia dapat menjadi partai yang mempunyai
kesempatan lebih besar untuk mengembangkan diri. Rekutmen politik menjamin
kontinuitas dan kelestarian partai, sekaligus merupakan cara salah satu untuk
menjaring dan melatih calon-calon pemimpin.
4.
Sebagai
Sarana Pengatur Konflik (Conflict Management)
Bagi
masyarakat yang bersifat heterogen, pasti memiliki perbedaan yang dianggap
wajar dan mendapat tempat. Disini peran partai politik diminta untuk menekan
seminimal mungkin mengurangi terjadinya konflik, atau akibat negatifnya.
Fungsi di Negara Otoriter
Sebaliknya
di negara otoriter, partai tidak dapat menunjukan harkatnya, tetapi lebih
banyak menjalankan kehendak penguasa. Menurut paham komunis, sifat dan tujuan
partai politik bergantung pada situasi apakah partai komunis berkuasa di negara
di mana ia berada atau tidak. Partai komunis bertujuan mencapai kedudukan
kekuasaan yang dapat dijadikan batu loncatan guna menguasai semua partai
politik yang ada dan menghancurkan sistem politik yang demokratis. Maka dari
itu, partai ini menjadi paling efektif di negara yang pemerintahannya lemah dan
yang rakyatnya kurang bersatu. Tujuan lainnya adalah membawa masyarakat ke arah
tercapainya masyarakat yang moderen dengan ideologi komunis, dan partai
berfungsi sebagai “pelopor revolusioner” untuk mencapai tujuan itu.
Jadi bisa disimpulkan perbedaan kedua ini adalah jika di
negara demokrasi partai mengatur keinginan dan aspirasi golongan-golongan dari
masyarakat, maka partai komunis berfungsi untuk mengendalikan semua aspek
kehidupan secara monolitik.
Fungsi di Negara-Negara Berkembang
Salah satu
peran yang sangat diharapkan partai politik adalah sebagai sarana untuk memperkembangkan
integrasi nasional dan memupuk identitas nasional, karena negara-negara baru sering
dihadapkan pada masalah bagaimana mengintergasikan bernagai golongan, daerah,
serta suku bangsa yang berbeda corak sosial dan pandangan hidupnya menjadi satu
bangsa. Sekalipun partai banyak segi negatifnya, pada dasarnya kehadiran serta
perannya di negara-negara berkembang masih penting dan sukar dicarikan
alternatifnya.
Klasifikasi Sistem Kepartaian
1.
Sistem
Partai-Tunggal
Istilah
ini telah tersebar luas dikalangan masyarakat dan dipakai baik untuk partai
yang benar-benar merupakan satu-satunya partai dalam suatu negara maupun untuk
partai yang mempunyai kedudukan dominan di antara beberapa partai lain. Suasana
kepartaian dinamakan non-kompetitif karena semua partai harus menerima pimpinan
dari partai yang dominan, dan tidak dibenarkan bersaing dengannya.
2.
Sistem
Dwi-Partai
Dalam
kepustakaan ilmu politik pengertian sistem dwi-partai biasanya di artikan bahwa
ada dua partai di antara beberapa partai, yang berhasil memenangkan dua tempat
teratas dalam pemilihan umum secara bergiliran dan dengan demikian mempunyai
kedudukan yang dominan. Sistem dwi-partai dapat berjalan baik apabila terpenuhi
tiga syarat, yaitu komposisi masyarakat bersifat homogen, adanya konsensus kuat
dalam masyarakat mengenai asas dan tujuan sosial dan politik dan adanya
konstituitas sejarah.
3.
Sistem
Multi-Partai
Indonesia
mempunyai sejarah panjang dengan berbagai jenis sistem multi-partai. Sistem ini
telah melalui beberapa tahap dengan bobot kompetitif yang berbeda-beda.
Benarkah
Pengaruh Partai Politik Turun
Hal
ini disebabkan partai dan parlemen dianggap tidak lagi mewakili rakyat banyak,
ini karena kehidupan politik moderen telah menjadi begitu kompleks dengan
bertumbuhnya globalisasi di bidang ekonomi, dan lain-lain. Nasional maupun
internasional.
Partai Politik di Indonesia
Zaman Kolonial
Pola
kepartaian pada zaman ini menunjukan keanekaragaman dan pola ini kita hidupkan
kembali pada zaman merdeka dalam sistem multi-partai.
Zaman Pendudukan Jepang (1942-1945)
Pada zaman
ini semua partai dibubarkan dan setiap kegiatan politik dilarang. Hanya
golongan islam yang diperkenankan untuk membentuk organisasi, Masyumi.
Zaman Demokrasi Indonesia
1.
Masa
Perjuangan Kemerdekaan (1945-1949)
Masyumi
dan PNI berperan dalam masa ini.
2.
Zaman
Republik Indonesia Serikat (1949-1950)
Pada
masa ini partai politik secara aktif mendukung usaha mengambungkan
negara-negara bagian ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, konstelasi
partai politik tidak banyak berubah.
3.
Masa
Pengakuan Kedaulatan (1949-1959)
Pada
masa ini stabilitas politik yang didambakan tidak tercapai, tidak adanya partai
yang mayoritas jelas karena sama-sama
kuat. Koalisis dengan partai-partai besar dapat menimbulkan masa kabinet harus
sili berganti.
Pada
masa ini dinamakan periode Segitiga, Soekarno, TNI, PKI (dengan Presiden
Soekarno di sudut paling atas) karena merupakan perebutan kekuasaan antara tiga
kekuasaan itu.
5.
Zaman
Demokrasi Pancasila (1965-1998)
Perlunya
mendirikan demokrasi dan membrntuk suatu sistem politik yang demokratis yang
merombah struktur politik yang ada.
6.
Evaluasi
Partai Politik dan Rekomendasi
7.
Zaman
Reformasi (1998-...)
Konteks
kepartaian ada tuntutan agar masyarakat mendapatkan kesempatan untuk mendirikan
partai.