Selasa, 21 Juli 2020

Partisipasi Politik - Dasar Dasar Ilmu Politik


Nama : Intan Fatwa Kharismatunnisa
NPM : 193501516039
BAB X : PARTISIPASI POLITIK
Sifat dan Definisi Partisipasi Politik
            Partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, antara lain dengan jalan memilih pimpinan negara dan secara langsung atau tidak langsung memengaruhi kebijakan pemerintah.
Banyak kelompok-kelompok masyarakat yang memengaruhi proses kebijakan umum, kelompok ini lahir di masa pasca-industrial (post industrial) dan dinamakan gerakan sosial baru (new social movement), kelompok ini kecewa dengan kinerja partai politik dan cenderung memusatkan perhatian pada satu masalah tertentu (single issue).
Partisipasi Politik di Negara Demokrasi
Pola partisipasi politik I menurut Milbrath dan Goel, bahwa masyarakat dapat dibagikan dalam tiga kategori :
a.       Pemain (Gladiators)
5-7%populasi termasuk gladiators, yaitu orang yang sangat aktif dalam dunia politik.

b.      Penonton (Spectators)
60% populasi aktif secara minimal, termasuk memakai hak pilihnya.

c.       Apatis (Apathetics).
33% populasi termasuk apathetics, yaitu orang yang tidak aktif sama sekali termasuk tidak memakai hak pilihnya.

Pola partisipasi politik II  yang disampaikan oleh David F Roth dan Frank L. Wilson
a.       Aktivis (Activist)
The Deviant (termasuk didalamnya pembunuhan dengan maksud politik, pembajak dan teroris); Pejabat publik atau calon pejabat publik; Fungsionaris partai politik pimpinan kelompok kepetingan.
b.      Partisipan (Participants)
Orang berkerja keras untuk kampanye, orang yang aktif dalam partai.
c.       Penonton (Oonlookers)
Orang yang menghadiri reli-reli politik, anggota dalam kelompok kepentingan. Pemilih; orang yang terlibat dalam diskusi politik atau pemerhati dalam pembangunan politik.
d.      Apolitis (Apoliticals)

Partisipasi Politik di Negara Otoriter
Rezim otoriter selalu mengusahakan agar presentasi politik selalu tinggi dalam pemilihan umum, hal ini dikarenakan dianggap dapat memperkuat keabsahan sebuah rezim di mata dunia.
Partisipasi Politik di Negara Berkembang
            Di beberapa negara berkembang, partisipasi yang bersifat otonom, artinya lahir dari diri mereka sendiri, masih terbatas. Kebanyakan masyarakat di negara berkembang justru apatis, hal ini adalah sebuah kendala, jika sebuah partisipasi mengalami jalan buntu, dapat terjadi dua hal yaitu “anomi” atau justru “revolusi”.
Partisipasi Politik melalui New Social Movements (NSM) dan Kelompok-Kelompok Kepetingan
            Kelompok ini muncul pertama kali pada awal abad ke 19, salah satu sebab kenapa kelompok ini muncul adalah bahwa orang mulai menyadari bahwa suara satu orang dalam pemilihan umum sangat kecil pengaruhnya terutama di negara-negara yang penduduknya berjumlah besar. Tujuan dari kelompok ini adalah memengaruhi kebijakan pemerintah agar lebih menguntungkan mereka, kelompok ini kemudian berkembang Social Movements. Gerakan ini merupakan bentuk perilaku kolektif yang berakar dalam kepercayaan dan nilai-nilai bersama.
Ada beberapa jenis kelompok
Kelompok Anomi
            Kelompok ini tidak memiliki organisasi, tetapi berasal dari individu yang mempunyai perasaan ketidakpuasan yang sama. Jika keresahan tidak segera diatasi, masyarakat dapat memasuki keadaan anomi, yaitu situasi chaos dan lawlessness yang akibatnya runtuhnya norma dan nilai yang sudah menjadi tradisi, tanpa diganti nilai-nilai baru yang dapat diterima secara umum.
Kelompok Nonasosiasional
Kelompok kepentingan ini tumbuh berdasarkan rasa solidaritas pada sanak saudara, agama, wilayah, kelompok etnis, dan pekerjaan. Kelompok ini biasanya tidak aktif secara politik dan tidak mempunyai organisasi yang ketat.
Contoh di Indonesia : Paguyuban Pasundan, kelompok penggemar kopi dan lain-lain.
Kelompok Institusional
Kelompok formal yang berada dalam atau bekerja sama secara erat dengan pemerintahan seperti birokrasi dan kelompok militer.
Contoh di Indonesia : Darma Wanita, KOPRI,  Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI)
Kelompok Asosiasional
Terdiri dari atas serikat buruh, kamar dagang, asosiasi etnis dan agama. Organisasi ini dibentuk dengan suatu tujuan yang eksplisit, mempunyai organisasi yang baik dengan staff yang bekerja penuh waktu.
Contoh di Indonesia : Federasi Persatuan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia, Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Indonesia
LSM lahir pada awal abad ke 20, lahir sebagai cerminan dari kebangkitan kesadaran golongan masyarakat menengah terhadap kemiskinan dan ketidakadilan sosial. Pada 1980-an berkembang bahwa partisipasi masyarakat nerupakan faktor penting untuk pembangunan dan perombakan sosial ekonomi secara damai.

Etnis Tionghoa Pasca Orde Baru dan Politik Identitasnya

Etnis Tionghoa Pasca Orde Baru dan Politik Identitasnya             Etnisitas adalah sekelompok manusia yang memiliki kesamaan latar b...