Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada
acara Conference on Indonesian Foreign Policy 2016: Finding Indonesia's
Place in The Brave New World yang digelar oleh Foreign Policy
Community of Indonesia (FPCI) pada 17 September 2016 lalu,
mengungkapkan kebijakan politik luar negeri yang diambil di masa
pemerintahannya. SBY menyatakan saat ia memerintah ada kebijakan yang sifatnya
melanjutkan yang sudah ada dan telah menjadi tradisi Indonesia yakni Politik
Luar Negeri Bebas Aktif. “Sejak Bung Karno, Pak Soeharto, Pak BJ Habibie, Pak
Gus Dur, Ibu Megawati hingga saya, Indonesia selalu menganut politik (luar
negeri) bebas aktif," ucap SBY. Kebijakan itu sudah menjadi jiwa dari
Indonesia. SBY menyebut, meski dasarnya sama, pada zamannya juga ada sedikit
perbedaan. Ia mengambil kebijakan luar negeri tambahan yang sesuai kondisi
dunia saat itu yang akhirnya melahirkan gagasan thousand friends zero
enemy.
Buatlah Analisa singkat apa fondasi
filosofis dan konstitusional dari Politik Luar Negeri Bebas Aktif dan jelaskan
apakah Politik Luar Negeri Bebas Aktif ini masih relevan diterapkan dalam tatanan
dan tantangan dunia saat ini?
Susilo Bambang
Yudhoyono atau lebih dikenal dengan nama SBY adalah presiden ke-lima dan ke
enam Indonesia yang dipilih secara langsung pada tahun 2004-2009 dan 2009-2014
menjabat sebanyak dua periode. Dalam masa awal dirinya menjabat sebagai
presiden, SBY berencana menyelesaikan maslah yang terjadi didalam negeri
terlebih dahulu, terutama yang terkait dengam maslash keamanan dan kepentingan
bersama. Dan setelah masalah yang ada dialam negeri terselesaikan, barulah Presiden
SBY memiliki rencana untuk mmbereskan masalah yang terjadi di internasional,
yang adanya perubahan didaerah sosial-politiknya. Adanya perubahan tersebut juga karena faktor
menguatnya peranan globalisasi. Presiden SBY melalui pendekatan konstruktif dan
dibantu para menterinya yang saat itu adalah menteri Luar Negeri Wirajuda
(2004-009) dan Menteri Luar Negeri Natalegawa (2009-2014) melakukan tugas
kebijkan luar negeri soft power.
Selama masa pemerintahan presiden SBY-pun, banyak sekali dampak positif yang
diberikan SBY untuk Indonesia, termasuk citra Indonesia di internasional,
sehingga dengan hal ini dapat membantu menaiki perekonomian di Indonesia saat
itu.
Tentunya
disetiap negara memiliki kebijakan politik luar negerinya secara berbeda-beda
karena disesuaikan dengan kondisi di negara tersebut. Dan menurut Shoelhi
(2011, hlm 134) bahwa sesungguhnya politik luar negeri itu bmerukapan cerminan,
kelanjutan politik serta dengan peluasan domestik. Dan bagi disetiap negara,
eran politik luar negeri pastinya sangat penting, karena dapat menunjnag
kerjasama antar negara, serta sebagai pendoman ke negara lain. Lahirnya politik
luar negeri di Indonesia tidak bisa lepas dari peranan founding father dan awal kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17
Agustus 1945. Oleh karenanya dapat diketahu bahwa politik luar negeri di
Indonesia merupakan sebuah warisan yang pengalaman Indonesia terhadulu dalam
mempertahankan kemerdekaan dan merahinya. Pada saat awal kemerdekaan, Indinesia
memilih tidak berkubu pada salah satu blok yang saat itu masih berperang, yakni
Amerika Serikat (Barat) dan Uni Soviet (Timur). Poiltik luar negeri secara
resmi ditetapkan pada 2 September 1948 dan peran Mohammad hatta yang mengantikan
posisi dari Amir Sjarifoeddin. Dan pada kesempatan memberikan keterangan di BP
KNIP terkait dengan kedudukan bangsa Indonesia, Hatta menjelaskan bahwasannya
Indonesia menganut sistem politik luar negeri bebas-aktif yang dimaksud juga
Indonesia dalam bersikap dengan tegas menolak masuk ke dalam salah satu blok.
Hal ini bukan semata-mata Indonesia bersikap acuh tak acuh, melainkan karena
politik luar negeri bebas-aktif itu berbeda dengan politik luar negeri netral.
Tujuan dari politik bebas-aktif adalah agar Indonesia berperan dalam meredakan
konflik masalah yang ada di dunia. Oleh karenanya saya rasa politik luar negeri
bebas-atif masih sangat relevan digunakan hingga saat ini.
Politik bebas
aktif telah ditetapkan pada tahun 1945 secara kontinyu, dan sampai sekarangpun
menajdi patokan untuk kebijakan luar negeri. Sesuai dengan teori peran
kebijakan luar negeri disuatu negara berasal dari dua hal, yakni: harapan peran
dan konseps peran. Besar pengaruh dalam menganbil kebijakan dengan menggunakan konsepsi
peran. Pada masa pemerintahan Soeharto,
di tahun 1967 Indonesia dan beberapa negara di Asia Tenggara membuat satu
kesatuan yang bertujuan untuk menyejajarkan negara berkembang dengan
negara-negara maju di dunia, dan membentuk organisasi yang namanya ASEAN (Association of South East Asia Nations).
Selama berdirinya ASEAN ini, Indonesia mengalami kemauan yang baik, terutama
dalam politik luar negerinya, karena Soeharto berusaha memfokuskan ke pusat
yang sama. Dan sekitar tahun 1998an terjadinya masa aksi besar-besaran di
Indonesia, yang menginginkan Soeharto untuk turun, dengan hal ini berdampak
juga ke maslsh perekonomian di negeri, krisis moneter, jatuhnya masa
pemerintahan di Orde Baru, yang membuat Indonesia harus segera bangkit dengan
memperbaiki lagi sistem politiknya, yang juga berdampak kepada sistem ekonomi
dan beberapa aspek, Indonesia harus bergerak ke arah sistem reformasi. Ketika
sudah tumbangnya masa pemerintahan Orde Baru, pemerintah selanjutnya mempunyai
fokus untuk penyelesaian masalah-masalah yang terjadi didalam negeri dahulu,
oleh karenanya yang berkaitan dengan politik luar negeri mencoba tidak terlalu di
jalankan.
Pada masa
pemerintahan SBY, era globalisasi yang bertujuan untuk mempererat hubungan
antar negara, namun membangun sebuah hubungan diera globalisasi ini nyatanya
tidak semudah itu dilakukan menurut SBY sendir, karena fokusnya juga untuk
mempertahankan kedaulatan negra. Indonesia harus segera aktif dan bangkit dalam
dalam melakukan kerjasama internasional, namun disatu sisi Indonesia juga tidak
boleh terlalu bergantung kepada negara lain. Pada masa pemerintahannya,
SBY membentuk sebuah kabinet bernama Indonesia Bersatu, kabinet tersebut yang
nantinya menyusun landasan operasional terkait politik luar negeri pada tiga
rencana pembangunan jangka menengah nasional tahun 2004-2009 dan isinya adalah:
a. Pemantapan
politik luar negeri dan optimalisasi diplomasi Indonesia dalam penyelenggaraan
hubungan luar negeri dan pelaksanaan politik luar negeri.
b. Peningkatan
kerjasama internasional yang bertujuan memanfaatkan secara optimal berbagai
peluang dalam diplomasi dan kerja sama internasional, terutama kerjasama ASEAN
dalam penyelenggaraan hubungan luar negeri dan pelaksanaan politik luar negeri
merupakan aktualisasi dari pendekatan ASEAN sebagai concentric circle utama
politik luar negeri Indonesia.
c. Penegasan
komitmen perdamaian dunia yang dilakukan dalam rangka membangun dan
mengembangkan semangat multiralisme yang dilandasi dengan penghormatan terhadap
hukum internasional di pandang sebagai cara yang lebih dapat diterima oleh
subjek hukum internasional dalam mengatasi masalah keamanan internasional
(Windiani, 2013, hlm. 3).
Terkait dengan thousand
friends, zero enemy sudah dianggap
tidal relevan lagi dimasa sekarang, masalah nyadap menyadap sebenarnya adalah
kegiatan lama, yang sudah ada bahkan semenjak Indonesia belum merdeka, yang
dimaksudkan dengan thousand friends, zero enemy adalah bahwa Indonesia
mampu berkerjasam dengan ngara manapun karena merasa Indonesia tidak pernah
dimusuhi oleh negara manapun. SBY juga mengajak masyarakat untuk senantiasa
mempertahankan keIndonesiaannya, dengan senantiasa percaya diri, karena dirasa
SBY Indonesia memiliki ilai lebih yang memberdakan Indonesia dengan negara
lain, seperti sikap toleransinya, kemanusiaan, serta keberagaman. Semasa
pemerintahan SBY, SBY adalah presiden yang cukup berhasil menjadikan Indonesia
sebagai tuan rumah diberbagai forum internasional. Million friends, zero
enemy diterapkan sebagai sebuah
propagandan untuk senantiasa menjaga reputasi dalam urus paradox of plenty. Dalam paradox ini,
ada sikap yang berpotensi membahayakan sikap pemerintah, Berikut merupakan
salah satu kutipan Marty selaku Menteri Luar Negeri Natalegawa tentang
bahayanya paradox of plenty,
“Diplomat di era kontemporer seperti saat ini haruslah
melek informasi. Tantangan yang dihadapi oleh diplomat bukan lagi keterbatasan
Informasi, melainkan „paradox of plenty’. Untuk itu, diplomat diharapkan mampu
mengidentifikasi informasi yang relevan dan mendiseminasikannya secara baik dan
tepat kepada seluruh pihak terkait”. (www.kemlu.go.id, 2012).
Politik luar
negeri bebas-aktif pada masa era globalisasi juga menciptakan peperangan, namun
bisa juga persahabatan. Karena pastinya setiap negara akan berusaha untuk
memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Dan selama berkembangnya arus globalisasi,
Indonesia memiliki tujuan politik luar negeri yang menjadikan hal itu sebagai
pendoman, dan tujuan pokok Indonesai dlam politik luar negeri adalah:
“Politik luar negeri Indonesia bertujuan menegakkan
kemerdekaan, perdamaian dunia, melalui pembangunan bangs-bangsa, pembinaan
persahabatan dan kerjasama regional dan internasional, tanpa membedakan
ideologi, sistem politik ataupun sistem sosial ekonomi masing-masing negara.”
(Prihatyono, 2009, hlm. 4). Terkait dengan tujuan pemerintah dalam politik luar
negerinya tersebut, SBY melakukan politik luar negeri kesegala arah, dan
Indonesia juga menjala yang namanya diplomasi total, maksudnya adalah bahwa
Indonesia tidak meihak manapun tanpa terkecuali, namun Indonesia lebih memilih
menjalin hubungan persahabatan dengan berbagai negara, dan besama-sama berkerja
ke semua elemen yang berada di pemerintahan ataupun yang bukan pemerintahan
untuk membangun politik luar negeri yang bebas aktif. Namun menurut saya
terkait dengan adanya hal ini, Indonesia masih belum berkerjasama dengan semua
elemen kenegaraan yang ada, karena Indonesia tidak mengakui Israel sebagai
negara sahabat.
Pada masa pemerintahan SBY, Indonesia memiliki progres
yang baik dan berkembang dengan sangat pesat. Selain itu terkait dengan
sosial-ekonominya juga mengalami perubahan yang terlihat, itupun ada kaitannya
dengan dampak pengaruh globalisasi yang signifikan. Dengan adanya arus
globalisasi juga membuat perubahan dalam dampak ekonomi yang terjadi, selain itupun dalam permasalahan
politiknya, negara-negara saling bergotong royong dalam membangun kekuatan global
yang baru (selain AS). Presiden SBY saat itu juga mencoba mengimplementasikan
pendekatan konstruktif, yang artiya adalah kemampuan negara untuk mengubah
musuh menjadi teman, dan dari teman berubah menjadi hubungan kerjasama. Atas
dasar pendekatan tersebut lahirlah semboyan million
firends zero enemy, sebuah semboyan yang mengisyaratkan Indonesia dapat
menjalin kerjasama ke semua penjuru tanpa pandang bulu. Dan menurut SBY juga
Indonesia harus melakukan pendekatan secara lembut daripada menggunakan
emosional, dan dalam menjalin hubungan kerjasama antar negara presiden SBY
lebih memfokuskan pada perkembangan ekonomi di Indonesia sendiri, terlebih
pasca Indonesia mengalami masa krisis moneter pada tahun 1998 di masa
pemerintahan Presiden Soeharto.
Poltik bebas-aktif yang diusungkan oleh Mohammad Hatta
nyatanya masih relevan di Indonesia hingga saat ini, karena pada masa
pemerintahan Jokowi sendiri yang menyangkut politik luar negeri memiliki fokus
pada: perlindungan warga negara Indonesia terutama yang di luar negeri,
kedaulatan, pertahanan, serta diplomasi ekonomi. Pada dasarnya politik bebas
aktif berpendoman pada independence of judgment dan freedom of action. Tujuan
lain mengapa politik bebas aktif masih relevan, karena untuk mempertahankan
kepentingan nasional serta membuat negara menjadi lebih baik lagi. Dan sesuai
juga dengan alinea keempat pada pembukaan UUD 1945 yang berbunyi, “dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia.”. Politik bebas aktif bisa berjalan baik jika Indonesia
mempunyai pemimpin tegas dan kuat, agar indonesia tidak dipandang sebelah mata
oleh negara lain karena Indonesia adalah negara independen, maksudnya tidak
punya sekutu seperti Malaysia, Australia, dan Inggris. Karena politik bebas
aktif yang masih digunakan yang nyatanya membuat Indonesia hanya melakukan
kerjasama ekonomi secara bilateral dan multiteral saja. Ditakutkan jika
pemerintah masih belum bisa bersikap tegas dengan apa yang sudah terjadi
terkait dengan perkembangan zaman dan masalah internasional, Indonesia hanya
digunakan sebgai permainan yang sedang di lakukan Amerika Serikat dan China.