Senin, 06 Maret 2023

KOMUNIKASI POLITIK PEMERINTAH DALAM PENANGANAN PANDEMI COVID-19


BAB I

Pendahuluan

a.      Latar Belakang

 

Dewasa ini, di Indonesia dan hampir semua negara di dunia terdampak wabah virus menular, yang menyebabkan pandemi skala internasional. Nyatanya hampir diseluruh dunia mengalami dampak dari terjadinya wabah ini, juga berdampak kepada banyak aspek kehidupan sosial. Terkait dengan hal ini, masyarakat di paksa untuk melakukan kegiatan dirumah saja dan mulai terbiasa dengan sistem kehidupan New Normal dengan selalu menerapkan protocol kesehatan secara baik dan benar. Dampak dari pandemi COVID-19 ini sangat mengancam keselamatan kesehatan manusian. Oleh sebab itu, di masa pandemi ini, pentingnya terjalin relasi komunikasi politik antara pemerintah dan masyarakat, serta dengan dibarengi dengan upaya pembaharuan sistem yang harus menyesuaikan dengan kondisisi saat ini, dimana banyak sistem yang dipaksa untuk mengubah ke arah yang lebih efisien dengan menerapkan sistem Work From Home dalam bekerja atau kuliah selama masa pandemi sesuai dengan anjuran pemerintah guna mengurangi penularan yang semakin menjadi-jadi, dengan adanya seperti ini diharapkan pemerintah bisa menciptakan pembaharuan birokrasin yang lebih baik dan memanfaatkan media massa sebaik mungkin dalam mengkomunikasikan informasi tervalid ekpada masyarakat, guna mengefisiensikan kegiatan yang sudah ada dan berjalan sebagaimana mestinya. Dengan senantiasa menyerukan untuk mematuhi protokol kesehatan dengan melakukan 4M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan).

Awal mula hadirnya wabah ini  berasal dari Kota Wuhan, China pada akhir bulan Desember tahun 2019. Pandemi ini bukan hanya membahayakan kesehatan manusia saja, namun juga berdampaknya kepada beberapa aspek, seperti aspek sosial, ekonomi, dan politik dunia karena dengan hadirnya virus ini memaksa manusia untuk tidak berinteraksi satu dengan yang lainnya secara langsung, dan memaksa manusia untuk beraktifitas dirumah saja, karena virus ini menyebar sangat cepat melalui udara, terlebih jika dibiarkan atau tidak diantisipasi dengan adanya lockdown atau pembatasan sosial pastinya hal itu sangat membahayakan kesehtan missal masyarakat. Dengan dampak berkepanjangan inilah pastinya bukan hanya permasalahan dalam ekonomi dan kesehatan, namun juga dengan system pemerintahan di Indonesia.

Dengan hal ini, adapun seruan komunikasi yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia kepada masyarakat, adalah dengan menerapkan 4M, Pembatasan Sosial, Work From Home, dan melakukan vaksinasi (minimal satu kali), dan juga dengan mengisyaratkan melakukan segala sesuatunya dirumah saja, seperti belajar, beribadah, berbelanja memalui e-commerce, bekerja dirumah agar memutus rantai penyebaran corona virus jika dirumah saja, terlebih lansia yang mempunyai penyakit bawaan sangat rentan terdampak virus ini. Pemerintah dengan hal ini memanfaatkan media massa dengan sebaik-baik mungkin dalam mengkomunikasikan perihal beberapa urgensi penting ke masyarakat luas. Oleh karenanya peranan media massa dalam komunikasi politik di masa pandemi ini menjadi prioritas.

Seperti yang sudah banyak kita ketahui, perihal kasus pertama covid-19 di Indonesi, terjadi pada awal Maret 2020. Sebelum dari kejaidan ini, media Indonesia masih sangat sedikit memberikan peringatkan terkait dengan wabah ini. Pada dasarnya karena virus ini belum masuk ke Indonesia atau belum terdeteksi. Media dan pemerintah masih terkesan acuh tak acuh, karena beranggapan bahwasannya masyrakat Indonesia kebal dengan virus ini. seiring berjalannya waktu dibarengi dengan kasus penaikan virus yang drastis, dengan ini banyak media di Indonesia memberikan informasi seputar COVID-19 dan pemerinah segera membuat tim gabungan khusus untuk ini.

Tidak dipungkri juga berita-berita seputar pandemi covid-19 juga dibarengi dengan berdarnya hoax-hoax yang bermunculan. Berita-berita hoax juga diperparah dengan tidak selarasnya kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Seta terjadi perebutan panggung publisitas di tingkat elite politik yang memanfaatkan kejadian ini, yang disebut sebagai tie-in publicity. Elit politik, pemerintah, dan organisasi kesehatan seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) masing-masing berbicara kepada publik sebagai dirinya sendiri, versinya sendiri, yang terpisah satu sama lain. Padahal, dibutuhkan pendekatan integrasi komunikasi, dimana suatu informasi dapat menjadi pencerah jika disintesiskan menjadi public knowledge, dengan menyuguhkan sumber informasi yang teruji validasinya. Disinilah peran sentral pemerintah bersama dengan media, dan organisai terkait dalam menjadi kunyi perubahan di tengah masyarakat, guna mengarahkan publik mengenai edukasi soal virus ini.

Kemajuan teknologi informasi dibarengi dengan revolusi industri yang semakin hari semakin moderen, serta di era saat ini yang memaksakan semua elemen msyarakat meliki smartphones. Sehingga memudahkan kita sebagai masyrakat dalam mengakses internt, dan mencari konten yang telah disediakan di internet. Tak terkecuali dengan informasi bohong yang muncul beriringan dengan fakta sebenarnya. Menurut Birchall ini ada kaitannya dengan pengetahuan meletuka maksudnya adalah penegtahuan terkait ini mempunyai makna menyangkal rasionalisme ilmiah dan membenarkan kepercayaan sejati sebagai satu-satunya kriteria untuk pengetahuan.

 

b.      Rumusan Masalah

 

1.      Bagaimanakah komunikasi pemerintah ke masyarakat terkait dengan situasi pandemi saat ini? dan apakah birokrasi di Indonesia selama pandemi ini berjalan dengan baik atau malah mengalami kemunduran?

c.       Tujuan Penelitian

1.      Mengetahui komunikasi pemerintah kepada masyarakat terkait dengan situasi pandemi saat ini dan mengetahui dampak perubahan terhadap birokrasi di Indonesia.

d.      Metode Penelitian

 

Dalam studi ini, penulis mencoba mengunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif serta didukung dengan studi pustaka. Sumber data yang penulis gunakan berupa fenomena kejaian rill, serta penulis juga mencoba mengamati, membaca, atau bertanya tentang data. Yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah komunikasi politik pemerintah dalam mengangani pandemi serta dampak apa yang terjadi pada kebijakan birokrasi di Indonesia, khususnya didaerah penulis sendiri, yaitu  DKI Jakarta terkait dengan pandemi ini, apakah dengan adanya pandemi sangat memperngaruhi kinerja mereka dalam melayani masyrakat dengan baik? Dan apakah didaerah penulis, peran pemerintah daerah telah memberikan edukasi serta sosialisasi yang maksimal dengan adanya pandemi, sedangkan selama awal mula hadirnya virus ini, semua kegiaatan dilakuan secara Work From Home, dan sekarang telah beralih ke situasi normal baru setelah pembatasan sosial. Selanjtnya, dari bahan bacaan yang di peroleh oleh penulis yang nantinya akan di analisis, terkait dengan judul yangg dibahas. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode kualitatif yaitu dengan mendeskripsikan  serta  menganalisis.

BAB II

Landasan Teori

 

Penelitian serupa mengenai pembahasan ini perihal Work From Home, Menurut Crosbie & Moore (2004), WFH adalah bekerja dari rumah berarti pekerjaan berbayar yang dilakukan terutama dari rumah (minimal 20 jam per-minggu). Bekerja dari rumah akan memberikan waktu yang lebih fleksibel dan efektif bagi pekerja atau pelajar dalam memberikan keseimbangan hidup. Disisi lain juga memberikan keuntungan bagi perusahaan atau tempat terkait. Yang berarti bekerja dirumah tetap bisa dilakukan dengan ketentuan jam kerja seperti yang sudah disebutkan, dengan maksud fleksibel yang menguntungkan pihak pegawai dan perusahaan, dalam sistem birokrasi ini sangat relevan, dengan fasilitas yang sudah diberikan oleh negara, pastinya sangat menunjang hal tersebut.

Dan selanjutnya terkait dengan New Normal, menurut Yuri adalah tatanan, kebiasaan dan perilaku yang baru berbasis pada adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat inilah yang kemudian disebut sebagai new normal. Cara yang dilakukan dengan rutin cuci tangan pakai sabun, pakai masker saat keluar rumah, jaga jarak aman dan menghindari kerumunan. Pihaknya berharap kebiasaan baru ini harus menjadi kesadaran kolektif agar dapat berjalan dengan baik serta membantu dalam menurukan tingkat menularnya virus.

 

a.      Konsep Work From Home dan Birokrasi

 

Konsep Work From Home (WFH) sebenarnya sudah teralisasikan pada revolusi industri 4.0. Dimana mesin dan teknologi canggih dengan konsep otomatisasi sudah diandalkan dalam proses produksi barang serta segala kebutuhan dapat dipenuhi melalui trend digitalisasi. Selain itu konsep ini menerapkan dimana karyawan dapat melakukan pekerjaannya dari rumah atau jarak jauh dan tidak di kanotr. Bekerja dari rumah memberikan jam kerja yang fleksibel kepada karyawan. Bekerja dari rumah merupakan pendekatan kerja modern yang menggunakan media seoerti alat elektronik, internet, dan aplikasi meeting (Zoom dan Google Meet). Bekerja dari rumah sebagai konsep sangat penting di masa pandemi saat ini. Dengan adanya ini membantu menjaga produktivitas karyawan tetap sama atau bahkan lebih baik dan pada saat yang sama mendukung karyawan untuk berada bersama keluarga atau menangani beberapa pekerjaan pribadi. Bekerja dari Rumah dapat menjadi alat yang hebat untuk membantu karyawan tetap di rumah dan bekerja pada saat yang sama, untuk mengurangi penyebaran virus dan berkerumun dengan banyak orang, selama pandemi COVID-19.

Konsep birokrasi sesungguhnya berupaya mengaplikasikan prinsip-prinsip organisasi yang dimaksudkan untuk memperbaiki efisiensi administrasi, meskipun birokrasi yang keterlaluan seringkali justru menimbulkan efek yang tidak baik. bahwa dalam birokrasi terdapat aturanaturan yang rasional, struktur organisasi dan proses berdasar pengetahuan teknis dan dengan efisiensi yang setinggi-tingginya.

b.      Teori Birokrasi :

 

Birokrasi Pemerintahan adalah sekumpulan wewenang dan jabatan yang terorganisir secara formal berkaitan dengan jenjang yang kompleks dan tunduk pada pembuat peran formal. Menurut Hegel: Birokrasi adalah institusi yang menduduki posisi organiik yang netral di dalam struktur sosial dan berfungsi sebagai penghubung antara negara yang memanifestasikan kepentingan umum, dan masyarakat sipil yang mewakili kepentingan khusus dalam masyarakat. Hegel melihat, bahwa birokrasi merupakan jembatan yang dibuat untuk menghubungkan antara kepentingan masyarakat dan kepentingan negara yang dalam saat-saat tertentu berbeda. Oleh sebab itu peran birokrasi menjadi sangat strategis dalam rangka menyatukan persepsi dan perspektif antara negara (pemerintah) dan masyarakat sehingga tidak terjadi kekacauan.

 

c.       Teori Komunikasi Politik

 

Dalam Komunikasi Politik, komunikator politik merancang dan menciptakan Opini Publik dan menurut Wahid (2016 : 142 ) setiap tindakan komunikasi politik mempunyai aturan peristiwa yang menjadi dasar untuk memahami peristiwa tersebut lebih komprehensif dan pemahaman terhadap setting peristiwa adalah kunci pengelolaan opini public. Karena itu, menurut J.D.Halloran (Dalam Nimmo, 2010) komunikator politik harus memahami matriks social sebuah peristiwa dan komunikator dituntut untuk peka terhadap jaringan dan kondisi social masyarakat karena setiap peristiwa terjadi dalam system social tertentu.

 

BAB III

Isi

a.      Peranan Pemerintah Daerah

Dengan adanya pandemi seperti ini yang mengharuskan semua elemen masyarakat untuk melakukan Work From Home selama masa transisi new noemal berjalan. Pastinya tidak langsung semua masyarakat mudah beradaptasi dengan hal yang baru ini, terutama para lansia dan anak-anak. Terlebih dengan sistem kita yang belum terbiasa menjalankan semua kegiatan berbasis online. Disinilah peran media dan pemerintah sangat pemting dalam melaksanakan sosialosasi secara menyeluruh dengan jangkauan se-Indonesia Raya dengan bantuan pihakpihak pemerintah daerah setempat. Tidak hanya dari kalangan para pekerja saja, namun para pelajar, dan semua masyarakat yang terdampak pastinya harus beradaptasi dengan pembaharuan sistem yang dilakukan pemerintah demi lancarnya keberlangsungan kebijakan.

Di DKI Jakarta, peran pemerintah daerah sangat terlihat sekali dalam memberikan informasi terkini mengenai wabah virus. Dengan kemajuan teknologi yan mumpuni, sekarang semua layanan masyarakat beralih ke online, baik berbasis website ataupun aplikasi. Seperti yang terjadi di DKI Jakarta, ada website bernama (https://jakevo.jakarta.go.id/), hadirnya website ini berguna untuk memudahkan para aparatur sipil negara di setiap kelurahan-kelurahan yang tersebar di seluruh DKI Jakarta dalam melayani masyarakat yang mempunyai urusan ke instansi pemerintahan. Penulis secara pribadi mencoba menggunakan fungsi dari website Jakevo sendiri, yaitu ketika penulis mencoba membuat Surat Keterangan Tidak Mampu atau SKTM melalui website Jakevo, dan tanpa mengunggu seharian, dalam kurun watu 1-2 jam hari kerja, surat yang penulis ajukan sudah ada, tinggal download di website tersebut. Kemudahan lainnya adalah jika kita berkepentingan tidak perlu lagi repot-repot untuk datang ke kelurahan setempat, hanya perlu foto, scan, dan upload berkas yang dibutuhkan, lalu dalam waktu 1 sampai 2 jam, permohonan SKTM sudah dapat di download, dan digunakan. Selian dari SKTM sendiri, tentunya masih banyak fungsi dari website ini, tidak perlu antre atau datang langsung ke Kelurahan setempat, karena tujuan dari hadirnya website ini sangat memudahkan kita tanpa perlu berkerumun dan datang langsung ke kelurahan, dan inilah salah satu bentuk upaya pencegahan penyebaran virus yang dilakukan pemerintahan daerah di DKI Jakarta, khususnya daerah Kelurahan Ragunan, Jakarta Selatan.

Tentunya hal yang dilakukan pemerintah DKI Jakarta tersebut sangatlah inovatif dan efisien, terlebih hal tersebut memudahkan masyarakat dalam mengakses segala hal yang dibutuhkan. Sistem birokrasi selama pandemi di Indonesia, baik pemerintah pusat maupun daerah melakukan refocusing anggaran atau memfokuskan ulang kembali anggaran dalam penanganan COVID-19, dimana seluruh kementerian, pejabat negara, dan kepala daerah merasakan dampak dari pemangkasan anggaran tersebut, sehingga  harus adanya pembaharuan kegiatan yang menyesesuaikan dengan situasi sekarang, dengan ini pemerintah pusat dan pemerintah daerah di tuntut untuk aktif, inovatif, efisien, moderen, dan kreatif dalam menjalankan birokrasi di masa pandemi, oleh sebab itu maka pemerintah harus memiliki strategi jangka pendek dan jangka panjang untuk tetap membuat roda birokrasi berjalan efekftif dan menjadikan birokrasi tersebut sebagai garda terdepan dalam sejarah penyelesaian wabah virus di Indonesia. Adapun strategi jangka pendek untuk membuat birokrasi efektif, yaitu:

1) Penerapan birokrasi digital,

2) Standarisasi pelayanan,

3) Profesionalisme sumber daya manusia.

Dengan dampak hadirnya birokrasi digital ini, juga dapat memberikan kenyamanan bagi masyarakat, dengan pelayanan yang terbaik, dan mengoptimalkan segala daya dan upaya yang ada. Panting bagi setiap instansi pemerintah harus memperhatikan standarisasi pelayanan publik dari 5 (lima) aspek yakni kebijakan pelayanan, profesionalisme pelayanan, sarana prasarana, sistem informasi pelayanan publik, konsultasi dan pengaduan, dan terciptanya inovasi pelayanan publik. Namun perlu diperhatikan juga bahwa tidak semua dari masyarakat kita melek teknologi, maka pentingnya juga sosialisasi dari Rukun Tetangga setempat atau Rukun Warga dalam mengedukasi warganya melalui karang taruna, atau adanya inovasi seperti video yang dapat diakses melalui YouTube, media massa, televisi dengan terjemahan bahasa isyarat juga supaya pesan yang disampaikan berhasil menjangkau seluruh elemen masyarajat. Sehingga bagi warga yang buta oleh teknologi, dapat mengetahuinya, dan dapat menikmati fasilitas yang diberikan oleh sistem birokrasi digital ini. Selanjutnya, adanya penyederhanaan birokrasi dalam upaya untuk mempercepat pelayanan publik, dengan adanya agenda penyederhanaan birokrasi melalui dihilangkannya beberapa eselon akan memberikan dampak yang signifikan dalam pelayanan birokrasi menjadi lebih cepat. Dalam penyederhaan birokrasi ini dapat mengefisiemkan sebuah sistem yang sudah ada, tujuan dari penyederhaan ini disesuaikan berdasarkan dari masukan, aduan masyarakat dan keluhan. Semakin cepat masukan, dan laporan dari masyarakat yang masuk, akan semakin cepat juga untuk ditindaklanjuti. Dengan adanya agdenda ini, dharapkan Indonesia akan menjadi negara demokrasi yang modren serta memprioritaskan kecepatan, kepuasan masyarakat, serta kualitas, sehingga dengan adanya kasus pandemi seperti ini Indonesia di nilai mampu dalam mengimplepemtasikan sebuah kebijakan yang baru ini. Berkaca dengan yang dilakukan pemerintah DKI Jakarta, dengan adanya website Jakevo adalah salah satu bentuk upaya pemerintah daerah dalam menjalankan birokrasi dengan baik. Selain Jakevo, ada juga aplikasi yang memberikan informasi seputar layanan vaksinasi, informasi valid covid-19, dan masih banyak yang lainnya. Aplikasi tersebut bernama Jaki. Apa itu Jaki? Jaki atau Jakarta Kini. Aplikasi ini dikembangkan oleh Pemprov DKI Jakarta digunakan sebagai wadah yang menaungi keluhan masyarakat di lingkungan sekitar tempat tinggal ataupun lingkungan sekitar Jakarta. Aplikasi inipun sangat efisien, karena di dalamnya banyak fitur yang masyarakat DKI yang bisa gunakan, seperti JakCorona, JakLapor untuk pengaduan permasalahan kota DKI, biasanya jika siapapun warga yang sudah melapor, pemerintah DKI dengan sigap akan membereskan permasalahan yang ada. Hal kecilnya ketika terjadinya kerumunan massal yang dapat menyebabkan naiknya klaster baru covid, masyarakat bisa langsung laporkan secara anonim melalui aplikasi tersebut, dengan cara masyarakat bisa foto langsung kejadian masalah dan bagikan titik lokasi tersebut dimana, dan beberapa saat kemudian ada pihak terkait yang dengan sigap menuju ke lokasi dan menyelesaikan permaslahan pelapor. Ini adalah salah satu bentuk kemajuan, dan perkembangan yang dilakukan Pemprov DKI untuk memajukan IbuKota menjadi lebih baik lagi.

b.     Peranan Pemerintah Pusat

 

Upaya nyata yang dilakukan pemerintah soal penanggulangan COVID-19 di Indonesia, dilakukan dengan cara memutus rantai penularan, yaitu dengan menemukan orang-orang yang terinfeksi untuk diobati serta diisolasi secara mandiri atau di Wisma Atlet. Langkah konkrit pemerintah selanjutnya adalah dengan menyediakan vaksinasi massal secara gratis, baik dari vaksinke-1, ke-2, sampai dengan booster, untuk traking masyarakat, pemerintah pusat berkerja sama dengan berbagai elemen yang hasilnya menciptakan aplikasi bernama PeduliLindungi, yang siapapun masyarakat ingin berkunjung ke suatu tempat dapat mengscan barcode terlebih dahulu, supaya memudahkan pemerintah dalam mecari tahu siapa saja warganya yang terjangkit virus. Selain itu pemerintah juga menyediakan website khusus dalam memberikan informasi-informasi mengenai covid-19 yang pastinya sudah teruji kredibilitasnya, dan menyangkal terkait dengan hoax-hoax yang selama ini beredar dalam masyrakat. Selanjnya pemerintah pusat berkerjsama dengan pemerintah daerah untuk menjadi benteng pencegahan penularan COVID-19 secara mandiri. Selain itu hal yang dilakukan pemerintah dalam sitem birokrasi juga menyediakan sejumlah fasilitas kesehatan secara memadai, baik menyediakan fasilitas rapid test ataupun swab test secara murah, penyemprotan desinfektan ke tempat umum yang banyak di kunjungi oleh masyarakat umum, seperti: tempat ibadah, museum, kebun binatang, transportasi umum, selain itu menyediakan ketersediaan rumah sakit di daerah Indonesia, menjadikan wisma atlet sebagai tempat isolasi sekaligus perawatan yang sesuai dengan standart, juga menyiapkan lahan kosong untuk tempat pemakaman yang digunakan untuk jenazah terinfeksi COVID-19, serta mengajak beberapa artis maupun influencers untuk berkampanye dalam menyuarakan untuk senantiasa mematuhi protokol kesehatan. Selain itu juga pemerrintah berusaha untuk membagikan bahan makanan pokok atau sembako yang berisi dari: sarden, minyak, susu, snack, mie instan. Juga pemerintah telah berinovasi untuk menciptakan masker kain, dengan kemampuan filtrasi setara masker bedah dan bisa digunakan ulang. Terakhir, upaya dari pemerintah pusat adalah sedang melakukan vaksinasi secara besar-besaran terhadap seluruh masyarajat di Indonesia, dari berbagai elemen masyarakt. Dalam bidang ekonomi pemerintah juga berubawa untuk menjalankan Kartu Prakerja dianggrai sebesar Rp 20 triliun, adanya subsidi listrik bagi masyarakat yang menggunakan daya 450 watt dan 900 watt, memberikan subsidi ke usaha mikro kecil dan menengah, dan untuk pelajar atau mahasiswa diberikan subsidu kuota untuk menunjang pembelajaran jarak jauh.

Dalam beberapa kasus ataupun kebijakan pastinya tidak semuanya berjalan dengan baik, pasti adanya kekurangan dan kelebihan dalam setiap kebijakan yang berjalan, dalam kasus ini terlebih dengan digital birokrasi ini. Pemerintah Indonesia sendiri telah berkomitmen untuk mewujudkan tata keloa yang berbasis elektronik, sebagai upaya reformasi birokrasi yang lebih cepat, efisien, dan mengikuti perkembangan zaman. Namun yang perlu di garis bawahi dengan adanya reformasi birokrasi digital juga harus di imbangi dengan sumber daya manusianya, untuk sebagai acuan dalam merumuskan, merencakan, dan menjalankan kebijakan. Untuk sumber daya manusia para aparatur sipil negara juga diperlukan pendidikan dan pelatihan dalam menghadapi transformasi digital. Fokusnya tujuan dari birokrasi digital adalah untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan birokrasi kepada masyarakat terlebih di situasi pandemi saat ini.

 

BAB IV

Penutup

a.      Kesimpulan

Perlu kita pahami dan ketahui bahwasannya tidak selalu birokrasi berjalan dengan baik. Seperti dengan adanya Work From Home pasti adanya beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja para ASN yang bekerja selama pandemi, dan salah satu faktor penghambat pastinya berasal dari teknologi dan sinyal, karena tidak semua daerah di Indonesia, memiliki kecepatan internet yang merata dan memadai. Lalu juga dengan website down. Namun masih banyak sisi positif dari hadirnya WFH ini, yakni kita jadi lebih mengefisienkan waktu, dan efektif dalam hal tenaga dan finansial, mematuhi protokol kesehatan, namun tidak juga lupa walaupun selama pandemi ini banyak sistem yang berubah, jangan lupa untuk melaksanakan tugasnya sesuai dengan SOP yang berlaku. Dan untuk masyarakat sendiri juga jangan lengah, di saat pandemi masih ada, jangan lupa untuk tetap melakukan vaksinasi minimal satu kali, menerapkan 4M, berolahraga, makan makanan yangs ehat dan bergizi, berjemur, dan waktu yang digunakan untuk dirumah saja gunakan untuk hal-hal yang lebih produktif dan positive seperti mengerjakan tugas, membaca buku, dan membantu pekerjaan rumah. Suatu perubahan yang terjadi dalam sistem birokrasi di Indonesia, dengan disertai kemajuan teknologi yang menjadi faktorr utama dalam perkembangan birokrasi menjasdi lebih baik. Namun dengan sejuta kemudahan yang diberikan dengan adanya teknologi, tidak mempungkiri bahwa teknologi juga masih banyak memiliki kekurangan atau bug, untuk itu pastikan juga menjadi perhatian pemerintah pusat untuk segera melakukan checkup perbaikan secara berkala, demi menjaga data masyarakat menjadi aman. Selain itu juga dengan memanfaatkan teknologi juga di dukung dengan penggunaan data seluler ataupun wifi, terkadang tidak di pungkiri bahwa faktor sinyal menjadi penghambat itu semua, terlebih tidak semua daerah mendapatkan fasilitas atau kecepatan internet yang merata.

Daftar Pustaka

a.       Purwati, A. S., & Zulaikha, S. (2018). Teori Kontinjensi, Sistem Pengendalian Manajemen dan Outcomes Perusahaan: Implikasinya dalam Riset Masa Kini dan Masa Yang Akan Datang. Performance: Jurnal Personalia, Financial, Operasional, Marketing dan Sistem Informasi, 2(1), 1-11

b.      Kuliah Ke-14 : KOMUNIKASI POLITIK, OPINI PUBLIC DAN PUBLIC RELATIONS.

Etnis Tionghoa Pasca Orde Baru dan Politik Identitasnya

Etnis Tionghoa Pasca Orde Baru dan Politik Identitasnya             Etnisitas adalah sekelompok manusia yang memiliki kesamaan latar b...