PEMIKIRAN POLITK SOEKARNO TERKAIT DENGAN MARHAENISME
2021/2022
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang sudah melimpahkan rahmat,
taufik, dan hidayah- Nya sehingga saya bisa menyusun tugas Pemikiran Politik
Indonesia ini dengan baik. Tugas ini saya buat untuk memenuhi tugas kedua dalam
mata kuliah Pemikiran Politik Indonesia yang diampu oleh Bapak Safrial Rambe,
karya tulis ini saya tulis dengan judul, “Pemikiran Soekarno Terkait Dengan
Marhaenisme.” Mudah- mudahan makalah yang saya buat ini bisa menolong menaikkan
pengetahuan para pembaca menjadi lebih luas lagi. Dan sayapun menyadari kalau
masih banyak kekurangan dalam menyusun makalah ini. Oleh sebab itu, kritik
serta saran sayaboleh dikirimkan melalui email saya (intanfatwaa@gmail.com) dengan
tujuan kritik dan saran ini yang sifatnya membangun, tentunya hal inilah yang sangat
saya harapkan guna kesempurnaan makalah ini. Saya ingin ucapkan terima kasih
kepada pihak-pihak yang telah membantu saya dalam proses pembuatan tugas kedua
ini, seperti kepada:
1. Allah SWT
2. Kedua orang
tua saya, keluarga besar, dan ensiti yang telah mendukung saya selalu.
3. Serta kepada
bapak dosen pengampu Safrizal Rambe, S.I.P., M.Si.
Jakarta, 29 Januari 2021
Penulis
Intan Fatwa Kharismatunnisa
Abstrak
Studi
ini membahas terkait dengan pola pemikiran dari presiden pertama Indonesia,
yakni Ir. Soerkarno tentang seperti apa konsep dari Marhaenisme. Soerkarno juga
termasuk sebagai salah satu tokoh pendiri bangsa Indonesia. Selain itu banyak
sekali pemekirian yang lahir dari Soekarno yang sangat berpengaruh dalam
perkembangan bansa Indonesia, seperti: demokrasi terpimpin, dan Marhaniesme.
Soekarno pada masanya di kenal sebagai pemikir yang revolusioner, progresif,
dan humais. Studi ini juga mengambil studi secara historis, dan melalui
beberapa sumber seperti buku, jurnal, dan internet.
Kata
Kunci: Seokerno, Marhaenisme.
PENDAHULUAN
Soekarno
adalah salah satu sosok pendiri dari bangsa Indonesia, perannya yang sangat
besar dalam mewujudkan kemerdekaan di negeri ini. Soekarno lahir di Surabaya,
Jawa Timur pada tanggal 6 Juni 1901. Soekarno berasal dari keluarga priyai
rendahan, namun kondisi kehidupan sosial-ekonomi dari Soekarno agak sedikit
lebih baik daripada keompok Mahrhaen yang nantinya akan Soekarno perjuangkan.
Ayahnya bernama Sukemi Sosrodirharjo, seorang guru Sekolah Rakyat di Blitar,
dan Ibunya seorang wanita Bali yang bernama Idayu Nyoman Rai.[1]
Dalam masa pendidikan yang di tempuh oleh Soekarno termasuk cukup baik pada
masa itu, karena bisa dibilang Soekarno
menempatkan dirinya dalam kalangan kelas atas karena dapat bersekolah di
ELS (Sekolah Menengah Belanda) yang diselesaikan pada tahun 1921. Setelah tamat
sekolah rakyat (SR) kelas VI di Tulung Agung. Kemudian Soekarno memasuki HBS (Hogore Burger School) setingkat SMA
sekarang di Surabaya. Selanjutnya ia melanjutkan pendidikannya di THS (Tehnische Hoges School) atau yang
searang lebih dikenal dengan nama ITB dan Soekarno memperoleh gelar Insiyur
sipil tahun 1926.[2]
Selama
menempuh pendidikan di HBS, Soekarno tinggal bersama HOS Tjokroaminorto, beliau
adalah pendiri dari Sarekat Islam (SI). Semasa Soekarno tinggal bersama HOS
Tjokroaminorto, banyak sekali pelajaran yang Soekarno dapatkan, termasuk dalam
pendidikan politik yang Tjokroaminorto ajarkan kepada Soekarno. Pada tahun 1911
sudah banyak tulisan yang Soekarno ciptakan, dan tulisan pertamanya adalah Oetosan Hindia. Dan mengutip tulisan
Soekarno pada salah satu karyanya adalah, “hancurkan segera kapitalisme yang
dibantu oleh budaknya imperialisme dengan kekuatan Islam, insya Allah itu
segera akan dilaksanakan”.[3]
Soekarno
di kenal saat Karno menjadi anggota dari “Jong Java Surabaya”. Dan mendirikan
juga perhimpunan yang diberi nama Trikoro Darmo (tiga kewajiban mulia),
organisasi ini berdiri pada tahun 1915. Soekarno memulai jejak politiknya untuk
pertama kali di kota Bandung, ketika Soekarno menyelesaikan studinya di HBS dan
menjanlutkan di THS (yang sekarang dikenal dengan ITB) dan bergelar insinyur
sipil pada tahun 1926.[4] Di
Bandung Soekarno memulai gerakan politiknya dengan asas Nasionalisme dalam
meperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Di kota Bandung jugalah ia, lahirkan
ide-ide persatuan dalam bentuk tulisan yang berjudul Nasionalisme, Islamisme
Dan Marxisme (1926). Ide ini dilahirkan oleh HOS Tjokroaminoto sewaktu Bung
Karno masih berada di Surabaya.[5]
Dalam pola pikir yang Soekarno tuangkan selama ini dalam pemikiran-pemikirannya
adalah kebanyakan tentang bagaimana Soekarno memikirkan nasib rakyat Indonesia.
Pada
tahun 1927 tepatnya pada tanggal 4 Juli, Sorkarno bersama dengan beberapa tokon
nasionalis, yakni: Anwari, Sartono, Sunario mendirikan Perserikatan Nasional
Indonesia atau lebih di kenal PNI, namun pada tahun 1928 Perserikatan Nasional
Indonesia diganti dengan Partai Nasionalis Indonesia. Partai ini menggunakan
azas Marhaneisme sebagai azas politiknya. Dengan azas terlebut PNI bisa
menggerakan kaum marhaen yang pada saat itu berjumlah hampir 90% dari rakyat
Indonesia, ini bertujuan untuk merubuhkan kekkuasaan kolonial pada masa itu.
Soekarnopun dipilih sebagai Ketua dari PNI yang pertama, dibawah naungan dari
Soekarno, PNI semakin berkebang pesat. Faktor yang menyebabkan hal ini, karena
Soekarno enggan untuk berkerjasama dengan kaum imperialisme, namun
perjuangannya sangat tegas dalam membela kaum marhaen, dan demi mencapai
kemerdekaan bangsa Indonesia. Seiring berkembangnya waktu, dan berkat kerja
keras dari Soekarno dan para pendiri lainnya dalam memperjuangkan kaum marhaen,
sehingga PNI ini dapat ditemukan dibeberapa daerah di Indonesia. Karena
perkembangannya yang sangat pesat tersebut, pemerintah kolonial saat itu
menaruh rasa curiga terhadap PNI yang masih dibawah kepemimpinan Soekarno.
Soekarno
ingin menekankan ironi proses pengadilan yang terjadi selama ini di Indonesia.
Apa yang diperbolehkan orang-orang Belanda di Nederland tidak diperbolehkan
oleh orang-orang Belanda yang sama Koloninya.[6]
Sejak saat berdiri dan berkembangnya PNI ini, di kenalah Marhaenisme menjadi
salah satu ideologi perjuangan rakyat Indonesia. Selain Mahaenisme, juga
terdaopat Sosialisme, Islamisme, dan Komunisme. Berkembangnya azas marhaenisme
initernyata bukan hanya di Indonesia saja, bahkan sampai ke negeri sebrang
yaitu: Malaysia. Terbukti pada tahun 1930an bersirilah sebuah organisasi
Kesatuan Kaum Muda (KKM), yang sangat terpengaruh dengan ideologi marhaenisme. Dan
di tahun yang berbeda, tepatnya pada tahun 1955 berdirinya partai politik yang
bernama Partai Rakyat Malaya (PRM) yang menjadikan marhaenisme sebagai azas
partainya. Populeritas ideologi marhaenisme ini memang tidsak terlepas dsari
penan Soekarno. Soekarno juga mendidik rakyat Indonesia dengan berbagai ajaran
politik, karena menurut Soekarno marhaeisme adalah azas yang mengkehendaki susunan
masyarakat dan susunan negeri yang ingin menyelamatkan Marhaen.
RUMUSAN MASALAH
Bagaimanakah
awal mulanya tercetus Marhaenisme menjadi sebuah ideologi?
METODE PENELITIAN
Penelitian
ini menggunakan metode deskriptif serta historis dengan menggunakan pendekatan
kualitatif dan didukung dengan studi pustaka. Sumber data adalah benda, hal
atau orang tempat penulis mengamati, membaca, atau bertanya tentang data[7]. Dan
yang menjadi fokus dari studi ini adalah tentang bagaimana pemikiran Soekarno
muda tentang menyebarkan ajaran marhaenismenya. Sumber data yang digunakan
adalah bersumber dari berbagai literatur,
bahan pustaka seperti buku, dan tulisan-tulisan sebelumnya yang berupa jurnal,
dan tulisan yang ditulis oleh Sukarno sendiri sebagai pengagas ideologi ini.
TINJAUAN PUSTAKA
Dalam
tinjauan pustaka, penulis menggunakan pendoman dari buku Nasionalisme,
Islamisme, Marxisme (Pikiran-Pikiran Soekarno Muda), yang mana buku ini ditulis
sendiri oleh Ir. Soekarno. Di dalam buku ini, menurut Soekarno Nasionalisme
adalah suatu itikad, suatu keinysafan rakyat, bahwa rakyat adalah satu golongan
dan satu bangsa. Rasa nasionalistis akan datang dan menimbulkan suatu rasa
percaya akan diri sendiri. Dan rasa percaya akan diri sendiri inilah yang
menimbulkan ketetapan hati pada kaum revolusioner-nasionalis dalam
perjuangannya menuju Indonesia merdeka.[8] Dalam penulisan ini, penulis berpendoman
dengan buku ini karena buku ini berisi tentang pemikiran asli dai Soekarno yang
menyangkut banyak hal. Seperti tentang ideologi, kemerdekaan, dan nasionalisme
yang berlangsung selama kurun tahun 1928-1940. Dan banyak dari karya tulis
Soekarno yang dimuat di berbagai surat kabar, salah satunya dimuat pada Suluh
Indonesia Muda dan Pikiran rakyat. Hal yang mendasar, bisa dibilng dari buku
inilah yang menjadkan acuan rill perjuangan Soekarno dalam membangun masa depan
bangsa Indonesia menuju kemerdekaan, dan pesatuan.
Bada
BAB Maklumat Bung Karno Kepada Kaum Marhaen Indonesia juga menegaskan bahwa
Soekarno memiliki cita-cita yang berkeyakinan bahwa pada masa itu kesengsaraan
marhaen semakin meluas, dan hal yang paling dibutuhkan adalah persatuan barisan
marhaen agar supaya tidak mudah hancur dilindas perkembangan zaman yang menurut
Soekarno sendiri akan lebih kejam dari yang sudah-sudah.
PEMBAHASAN
Awal
mula adanya ideologi Marhaenisme, bermula ketika Soekarno berkunjung ke salah
satu desa yang berada di Selatan Bandung, dan bertemu petani bernama Marhaen.
Tepatnya pada tahun 1921-an diumur Soekarno yang ke-21 tahun. Disanalah Soekarno
bertemu petani bernama Marhaen yang sedang bertani di ladangnya sendiri, namun
ketika dijumpai oleh Soekarno, petani tersebut memiliki permasalahan dari
faktor oroduksi taninya yang kelola sendiri. Namun dari hasil tani yang
dimilikinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan kesehariannya saja, padahal
menurut Soekarno atas dasar dari semua yang Marhaen punya, sudah seharusnya dia
dapat menghasilkan lebih agar nantinya hal tersebut bisa ia gunakan untuk di
jual kembali ke pasar atau untuk hidup menjadi lebih baik lagi. Dengan ini
Soekarno juga menyimpulkan seperti apa bentuk dari kelas-kelas rakyat Indonesia
yang telah tertindas oleh sistem yang sudah berlaku, dari inilah awal mula nama
Marhaenisme itu sendiri, selain itu juga nama Marhaen seperti sinonom dari kata
proletar. Marhaenisme sendiri sejatinya berasal dari observasi yang dilakukan oleh
Soekarno sendiri dan melalui pikiran teoriris. Dan sekitar tahun 1960-an
Soekarno sendiri membagi kaum Marhaen menjadi tiga unsur:
a. Kaum
miskin ploletar Indonesia (buruh),
b. Unsur
kaum tani melarat Indonesia,
c. Unsur
kaum Indonesia melarat lainnya.
Isme yang kita ketahui adalah sebuah ungkapan dari ideologi.
a. Marhaen adalah orang yang tertindas oleh sistem kapitalisme,
feodalisme, dan imprealisme.
b. Marhaenis adalah orang yang memperjuangkan kaum marhaen.
c. Marhaenisme adalah sebuah ideologi yang dicetuskan Sukarno
untuk menghilangkan sistem kapitalisme dan implerialisme untuk tercapainya
sosialis di bangsa Indonesia.
Lalu,
prinsip dari marhaenisme sendiri terbagi menjadi 3, yakni :
a. Sosio
Nasionalisme (kebangsaan, kemanusiaan, dan
internasionalisme) adalah bukanlah yang timbul daripada kesombongan
bangsa belaka, namun nasionalisme yang dimaksud adalah yang timbul daripada
pengetahuan atas susunan dunia dan riwayat yang berpihak kepada massa rakyat.
Nasionalisme Indonesia adalah yang menerima rasa kehidupannya sebagai suatu
wahyu, dan menjalankan rasa hidupnya sebagai suatu bakyi, yang memberikan
pembelajaran kebeneran dan memberi cinta kepada bangsnya sendiri.
b. Sosio
Demkrasi (politik dan ekonomi), bahwasannya
menghendaki memilii watak sosial seperti
demokrasi politik, namun juga demokrasi ekonomi, dan demokrasi yang
menyelamatkan seluruh kaum Marhaen.
c. Ketuhanan
Yang Maha Esa, bahwa meyakini adanya eksitensi Tuhan YME, dan lahir menjadi
manusia yang theis.
Marhaenisme adalah bentuk perlawanan terhadap
ideologi asing seperti imperialisme dan kolonialisme. Tujuan utama dari
mahranisme adalah bagaimana bangsa Indonesia dapat bebas dari eksploitasi
bangsa asing. Marhaenisme sendiri yang di inginkan oleh Soekarno adalah
bagaimana masyarakat Indonesia menekankan opsi pada kemauan dari kalangan lain,
sehingga yang akan mendominasi adalah penduduk yang berstruktutral, dengan
demikian Soekarno menanamkan sikap yang progresif daan revolusioner. Marhaenisme
adalah suatu ideologi yang menentang penindasan atas manusia ke manusia, atas
bangsa ke bangsa. Pemikiran inipun juga atas dasar apa yang sudah diterapkan
oleh Marxisme.
Adapun
Azas-Azas dari Marhaenisme, yakni:
a. Revolusioner : Berjuang untuk revolusi.
b. Self-relience : Pengumpulan kekuatan.
c. Machtsvorming
: Penggunaan kekuatan.
d. Self-help : Percaya diri atau percaya kepada kekuatan masyarakat.
e. Non koperatif : tidak mau bekerjasama dengan kelas-kelas
penindas.
f. Aksi massa : massa yang sadar bahwa kita turun ke jalan itu,
kita tau apa yang kita perjuangkan, bahwa yang diperjuangkan adalah kaum-kaum
marhaen.
Menurut Soekarno berdasarkan dengan teori ahli tentang
bangsa, yakni: dari teori Ernes Renen, dan menurut Ernes teori tentang
nasionalisme adalah kehendak untuk bersatu dan bernegara.
1. Kenagsaan : memperjuangkan melawan kolonialisme.
2. Internasionalisme (peri kemanusiaan) : harus punya pengakuan
/ de jour jika ingin diakui sebagai
sebuah negara.
3. Demokrasi : politik ekonomi.
4. Keadilan sosial.
5. Ketuhanan YME : kebudayaan dari bangsa Indonesia.
PENUTUP
Marhaen
sejatinya adalah yang memiliki alat-alat produksi sendiri, golongan kaum
Marhaen biasanya dari kalangan rakyat kecil. Namun, semua yang kaum Marhaen
peoleh hanyalah cukup untuk dirinya sendiri. Adanya marhaenisme juga tidak bisa
dilupakan dengan Soekarno sebagai pencetusnya. Hal ini juga tidak bisa
dilupakan atas peran Marxisme yang menjadi tercetusnya ide Marhaen itu sendiri,
dengan apa yang sudah terjadi, Soeakrno-pun membuat konsep Marhaenisme ini yang
sesuai dengan pola kehidupan rakyat Indonesia. Sebenarnya Marhaen sendiri sama
seperti sinonim dari proletar, hanya saja yang menjadikan pembeda diantara
keduanya adalah objek dari konsep tersebut, di mana proletar lebih kepada buruh
sedangkan marhaen adalah lebih ke petani, rakyat miskin dan pedagang. Tidak
denial juga bahwa adanya konsep dari pemikiran ideologi Marhaenisme ini adalah
sebenarnya untuk menyatukan bangsa Indonesia agar melawan tindakan
imperialisme, kolonialisme, dan feodalisme.
DAFTAR PUSTAKA
Melawati, C. E., & Kuswono, K. (2019). MARHAENISME:
TELAAH PEMIKIRAN SUKARNO TAHUN 1927-1933. SWARNADWIPA, 2(3).
Subekti, A. (2019). USAHA PERPUSTAKAAN PROKLAMATOR BUNG KARNO
DALAM MEREKAM SEJARAH LISAN UNTUKMELESTARIKAN PENGETAHUAN TENTANG SUKARNO
(1901–1970): PENERAPAN SEJARAH LISAN DALAM MEREKAM PENGETAHUAN SOSOK MARHAEN DI
BANDUNG. VISI PUSTAKA: Buletin
Jaringan Informasi Antar Perpustakaan, 21(1), 49-58.
Pauker, G. J. (1962). Soekarno," Marhaen and
Proletarian"(Book Review). Journal
of Asian Studies, 21(4),
565.
Rasuanto, B. (2000). Keadilan sosial dua pemikiran Indonesia:
Soekarno dan Hatta. Wacana, 2(1), 102-118.
Kuswono, K. (2016). Marhaenism: Social Ideology Create by
Sukarno. HISTORIA: Jurnal Program
Studi Pendidikan Sejarah, 4(2),
119-130.
[1] H. J.S
Giovani Sitohang, Gaya Kepemimpinan Soekarno-Suharto (Jakarta: Pustaka Aksara,
1989 ), hlm. 93
[2] Ibid,
hlm. 24
[3] Ibid,
hlm. 22
[4] Ibid,
hlm. 24
[5] Ibid,
hlm. 47
[6] bid,
hlm. 25
[7] S
Arikunto, Metodologi Penelitian Suatu Pendekatan Proposal (Jakarta: PT. Rineka
Cipta, 2002)
[8] Soekarno.
2015. “Nasionalisme, Islamisme, Marxisme (Pikiran-Pikiran
Soekarno Muda)”. Bandung: Khazanah Pemikiran Progresif