Rabu, 08 Maret 2023

PEMIKIRAN POLITK SOEKARNO TERKAIT DENGAN MARHAENISME

 

PEMIKIRAN POLITK SOEKARNO TERKAIT DENGAN MARHAENISME

2021/2022

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang sudah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah- Nya sehingga saya bisa menyusun tugas Pemikiran Politik Indonesia ini dengan baik. Tugas ini saya buat untuk memenuhi tugas kedua dalam mata kuliah Pemikiran Politik Indonesia yang diampu oleh Bapak Safrial Rambe, karya tulis ini saya tulis dengan judul, “Pemikiran Soekarno Terkait Dengan Marhaenisme.” Mudah- mudahan makalah yang saya buat ini bisa menolong menaikkan pengetahuan para pembaca menjadi lebih luas lagi. Dan sayapun menyadari kalau masih banyak kekurangan dalam menyusun makalah ini. Oleh sebab itu, kritik serta saran sayaboleh dikirimkan melalui email saya (intanfatwaa@gmail.com) dengan tujuan kritik dan saran ini yang sifatnya membangun, tentunya hal inilah yang sangat saya harapkan guna kesempurnaan makalah ini. Saya ingin ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu saya dalam proses pembuatan tugas kedua ini, seperti kepada:

1.      Allah SWT

2.      Kedua orang tua saya, keluarga besar, dan ensiti yang telah mendukung saya selalu.

3.      Serta kepada bapak dosen pengampu Safrizal Rambe, S.I.P., M.Si.

Jakarta, 29 Januari 2021

 

Penulis

Intan Fatwa Kharismatunnisa

Abstrak

Studi ini membahas terkait dengan pola pemikiran dari presiden pertama Indonesia, yakni Ir. Soerkarno tentang seperti apa konsep dari Marhaenisme. Soerkarno juga termasuk sebagai salah satu tokoh pendiri bangsa Indonesia. Selain itu banyak sekali pemekirian yang lahir dari Soekarno yang sangat berpengaruh dalam perkembangan bansa Indonesia, seperti: demokrasi terpimpin, dan Marhaniesme. Soekarno pada masanya di kenal sebagai pemikir yang revolusioner, progresif, dan humais. Studi ini juga mengambil studi secara historis, dan melalui beberapa sumber seperti buku, jurnal, dan internet.

Kata Kunci: Seokerno, Marhaenisme.


 

PENDAHULUAN

Soekarno adalah salah satu sosok pendiri dari bangsa Indonesia, perannya yang sangat besar dalam mewujudkan kemerdekaan di negeri ini. Soekarno lahir di Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 6 Juni 1901. Soekarno berasal dari keluarga priyai rendahan, namun kondisi kehidupan sosial-ekonomi dari Soekarno agak sedikit lebih baik daripada keompok Mahrhaen yang nantinya akan Soekarno perjuangkan. Ayahnya bernama Sukemi Sosrodirharjo, seorang guru Sekolah Rakyat di Blitar, dan Ibunya seorang wanita Bali yang bernama Idayu Nyoman Rai.[1] Dalam masa pendidikan yang di tempuh oleh Soekarno termasuk cukup baik pada masa itu, karena bisa dibilang Soekarno  menempatkan dirinya dalam kalangan kelas atas karena dapat bersekolah di ELS (Sekolah Menengah Belanda) yang diselesaikan pada tahun 1921. Setelah tamat sekolah rakyat (SR) kelas VI di Tulung Agung. Kemudian Soekarno memasuki HBS (Hogore Burger School) setingkat SMA sekarang di Surabaya. Selanjutnya ia melanjutkan pendidikannya di THS (Tehnische Hoges School) atau yang searang lebih dikenal dengan nama ITB dan Soekarno memperoleh gelar Insiyur sipil tahun 1926.[2]

 

Selama menempuh pendidikan di HBS, Soekarno tinggal bersama HOS Tjokroaminorto, beliau adalah pendiri dari Sarekat Islam (SI). Semasa Soekarno tinggal bersama HOS Tjokroaminorto, banyak sekali pelajaran yang Soekarno dapatkan, termasuk dalam pendidikan politik yang Tjokroaminorto ajarkan kepada Soekarno. Pada tahun 1911 sudah banyak tulisan yang Soekarno ciptakan, dan tulisan pertamanya adalah Oetosan Hindia. Dan mengutip tulisan Soekarno pada salah satu karyanya adalah, “hancurkan segera kapitalisme yang dibantu oleh budaknya imperialisme dengan kekuatan Islam, insya Allah itu segera akan dilaksanakan”.[3]

Soekarno di kenal saat Karno menjadi anggota dari “Jong Java Surabaya”. Dan mendirikan juga perhimpunan yang diberi nama Trikoro Darmo (tiga kewajiban mulia), organisasi ini berdiri pada tahun 1915. Soekarno memulai jejak politiknya untuk pertama kali di kota Bandung, ketika Soekarno menyelesaikan studinya di HBS dan menjanlutkan di THS (yang sekarang dikenal dengan ITB) dan bergelar insinyur sipil pada tahun 1926.[4] Di Bandung Soekarno memulai gerakan politiknya dengan asas Nasionalisme dalam meperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Di kota Bandung jugalah ia, lahirkan ide-ide persatuan dalam bentuk tulisan yang berjudul Nasionalisme, Islamisme Dan Marxisme (1926). Ide ini dilahirkan oleh HOS Tjokroaminoto sewaktu Bung Karno masih berada di Surabaya.[5] Dalam pola pikir yang Soekarno tuangkan selama ini dalam pemikiran-pemikirannya adalah kebanyakan tentang bagaimana Soekarno memikirkan nasib rakyat Indonesia.

Pada tahun 1927 tepatnya pada tanggal 4 Juli, Sorkarno bersama dengan beberapa tokon nasionalis, yakni: Anwari, Sartono, Sunario mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia atau lebih di kenal PNI, namun pada tahun 1928 Perserikatan Nasional Indonesia diganti dengan Partai Nasionalis Indonesia. Partai ini menggunakan azas Marhaneisme sebagai azas politiknya. Dengan azas terlebut PNI bisa menggerakan kaum marhaen yang pada saat itu berjumlah hampir 90% dari rakyat Indonesia, ini bertujuan untuk merubuhkan kekkuasaan kolonial pada masa itu. Soekarnopun dipilih sebagai Ketua dari PNI yang pertama, dibawah naungan dari Soekarno, PNI semakin berkebang pesat. Faktor yang menyebabkan hal ini, karena Soekarno enggan untuk berkerjasama dengan kaum imperialisme, namun perjuangannya sangat tegas dalam membela kaum marhaen, dan demi mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia. Seiring berkembangnya waktu, dan berkat kerja keras dari Soekarno dan para pendiri lainnya dalam memperjuangkan kaum marhaen, sehingga PNI ini dapat ditemukan dibeberapa daerah di Indonesia. Karena perkembangannya yang sangat pesat tersebut, pemerintah kolonial saat itu menaruh rasa curiga terhadap PNI yang masih dibawah kepemimpinan Soekarno.

Soekarno ingin menekankan ironi proses pengadilan yang terjadi selama ini di Indonesia. Apa yang diperbolehkan orang-orang Belanda di Nederland tidak diperbolehkan oleh orang-orang Belanda yang sama Koloninya.[6] Sejak saat berdiri dan berkembangnya PNI ini, di kenalah Marhaenisme menjadi salah satu ideologi perjuangan rakyat Indonesia. Selain Mahaenisme, juga terdaopat Sosialisme, Islamisme, dan Komunisme. Berkembangnya azas marhaenisme initernyata bukan hanya di Indonesia saja, bahkan sampai ke negeri sebrang yaitu: Malaysia. Terbukti pada tahun 1930an bersirilah sebuah organisasi Kesatuan Kaum Muda (KKM), yang sangat terpengaruh dengan ideologi marhaenisme. Dan di tahun yang berbeda, tepatnya pada tahun 1955 berdirinya partai politik yang bernama Partai Rakyat Malaya (PRM) yang menjadikan marhaenisme sebagai azas partainya. Populeritas ideologi marhaenisme ini memang tidsak terlepas dsari penan Soekarno. Soekarno juga mendidik rakyat Indonesia dengan berbagai ajaran politik, karena menurut Soekarno marhaeisme adalah azas yang mengkehendaki susunan masyarakat dan susunan negeri yang ingin menyelamatkan Marhaen.

 

RUMUSAN MASALAH

Bagaimanakah awal mulanya tercetus Marhaenisme menjadi sebuah ideologi?

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif serta historis dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan didukung dengan studi pustaka. Sumber data adalah benda, hal atau orang tempat penulis mengamati, membaca, atau bertanya tentang data[7]. Dan yang menjadi fokus dari studi ini adalah tentang bagaimana pemikiran Soekarno muda tentang menyebarkan ajaran marhaenismenya. Sumber data yang digunakan adalah bersumber dari berbagai  literatur, bahan pustaka seperti buku, dan tulisan-tulisan sebelumnya yang berupa jurnal, dan tulisan yang ditulis oleh Sukarno sendiri sebagai pengagas ideologi ini.

 

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam tinjauan pustaka, penulis menggunakan pendoman dari buku Nasionalisme, Islamisme, Marxisme (Pikiran-Pikiran Soekarno Muda), yang mana buku ini ditulis sendiri oleh Ir. Soekarno. Di dalam buku ini, menurut Soekarno Nasionalisme adalah suatu itikad, suatu keinysafan rakyat, bahwa rakyat adalah satu golongan dan satu bangsa. Rasa nasionalistis akan datang dan menimbulkan suatu rasa percaya akan diri sendiri. Dan rasa percaya akan diri sendiri inilah yang menimbulkan ketetapan hati pada kaum revolusioner-nasionalis dalam perjuangannya menuju Indonesia merdeka.[8]  Dalam penulisan ini, penulis berpendoman dengan buku ini karena buku ini berisi tentang pemikiran asli dai Soekarno yang menyangkut banyak hal. Seperti tentang ideologi, kemerdekaan, dan nasionalisme yang berlangsung selama kurun tahun 1928-1940. Dan banyak dari karya tulis Soekarno yang dimuat di berbagai surat kabar, salah satunya dimuat pada Suluh Indonesia Muda dan Pikiran rakyat. Hal yang mendasar, bisa dibilng dari buku inilah yang menjadkan acuan rill perjuangan Soekarno dalam membangun masa depan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan, dan pesatuan.

Bada BAB Maklumat Bung Karno Kepada Kaum Marhaen Indonesia juga menegaskan bahwa Soekarno memiliki cita-cita yang berkeyakinan bahwa pada masa itu kesengsaraan marhaen semakin meluas, dan hal yang paling dibutuhkan adalah persatuan barisan marhaen agar supaya tidak mudah hancur dilindas perkembangan zaman yang menurut Soekarno sendiri akan lebih kejam dari yang sudah-sudah.

 

PEMBAHASAN

Awal mula adanya ideologi Marhaenisme, bermula ketika Soekarno berkunjung ke salah satu desa yang berada di Selatan Bandung, dan bertemu petani bernama Marhaen. Tepatnya pada tahun 1921-an diumur Soekarno yang ke-21 tahun. Disanalah Soekarno bertemu petani bernama Marhaen yang sedang bertani di ladangnya sendiri, namun ketika dijumpai oleh Soekarno, petani tersebut memiliki permasalahan dari faktor oroduksi taninya yang kelola sendiri. Namun dari hasil tani yang dimilikinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan kesehariannya saja, padahal menurut Soekarno atas dasar dari semua yang Marhaen punya, sudah seharusnya dia dapat menghasilkan lebih agar nantinya hal tersebut bisa ia gunakan untuk di jual kembali ke pasar atau untuk hidup menjadi lebih baik lagi. Dengan ini Soekarno juga menyimpulkan seperti apa bentuk dari kelas-kelas rakyat Indonesia yang telah tertindas oleh sistem yang sudah berlaku, dari inilah awal mula nama Marhaenisme itu sendiri, selain itu juga nama Marhaen seperti sinonom dari kata proletar. Marhaenisme sendiri sejatinya berasal dari observasi yang dilakukan oleh Soekarno sendiri dan melalui pikiran teoriris. Dan sekitar tahun 1960-an Soekarno sendiri membagi kaum Marhaen menjadi tiga unsur:

a.       Kaum miskin ploletar Indonesia (buruh),

b.      Unsur kaum tani melarat Indonesia,

c.       Unsur kaum Indonesia melarat lainnya.

 

Isme yang kita ketahui adalah sebuah ungkapan dari ideologi.

a.       Marhaen adalah orang yang tertindas oleh sistem kapitalisme, feodalisme, dan imprealisme.

b.      Marhaenis adalah orang yang memperjuangkan kaum marhaen.

c.       Marhaenisme adalah sebuah ideologi yang dicetuskan Sukarno untuk menghilangkan sistem kapitalisme dan implerialisme untuk tercapainya sosialis di bangsa Indonesia.

 

Lalu, prinsip dari marhaenisme sendiri terbagi menjadi 3, yakni :

 

a.       Sosio Nasionalisme (kebangsaan, kemanusiaan, dan internasionalisme) adalah bukanlah yang timbul daripada kesombongan bangsa belaka, namun nasionalisme yang dimaksud adalah yang timbul daripada pengetahuan atas susunan dunia dan riwayat yang berpihak kepada massa rakyat. Nasionalisme Indonesia adalah yang menerima rasa kehidupannya sebagai suatu wahyu, dan menjalankan rasa hidupnya sebagai suatu bakyi, yang memberikan pembelajaran kebeneran dan memberi cinta kepada bangsnya sendiri.

b.      Sosio Demkrasi (politik dan ekonomi), bahwasannya menghendaki memilii watak sosial  seperti demokrasi politik, namun juga demokrasi ekonomi, dan demokrasi yang menyelamatkan seluruh kaum Marhaen.

c.       Ketuhanan Yang Maha Esa, bahwa meyakini adanya eksitensi Tuhan YME, dan lahir menjadi manusia yang theis.

 

Marhaenisme adalah bentuk perlawanan terhadap ideologi asing seperti imperialisme dan kolonialisme. Tujuan utama dari mahranisme adalah bagaimana bangsa Indonesia dapat bebas dari eksploitasi bangsa asing. Marhaenisme sendiri yang di inginkan oleh Soekarno adalah bagaimana masyarakat Indonesia menekankan opsi pada kemauan dari kalangan lain, sehingga yang akan mendominasi adalah penduduk yang berstruktutral, dengan demikian Soekarno menanamkan sikap yang progresif daan revolusioner. Marhaenisme adalah suatu ideologi yang menentang penindasan atas manusia ke manusia, atas bangsa ke bangsa. Pemikiran inipun juga atas dasar apa yang sudah diterapkan oleh Marxisme.

 

Adapun Azas-Azas dari Marhaenisme, yakni:

a.       Revolusioner : Berjuang untuk revolusi.

b.      Self-relience : Pengumpulan kekuatan.

c.       Machtsvorming : Penggunaan kekuatan.

d.      Self-help : Percaya diri atau percaya kepada kekuatan masyarakat.

e.       Non koperatif : tidak mau bekerjasama dengan kelas-kelas penindas.

f.       Aksi massa : massa yang sadar bahwa kita turun ke jalan itu, kita tau apa yang kita perjuangkan, bahwa yang diperjuangkan adalah kaum-kaum marhaen.

 

Menurut Soekarno berdasarkan dengan teori ahli tentang bangsa, yakni: dari teori Ernes Renen, dan menurut Ernes teori tentang nasionalisme adalah kehendak untuk bersatu dan bernegara.

 

1.      Kenagsaan : memperjuangkan melawan kolonialisme.

2.      Internasionalisme (peri kemanusiaan) : harus punya pengakuan / de jour jika ingin diakui sebagai sebuah negara.

3.      Demokrasi : politik ekonomi.

4.      Keadilan sosial.

5.      Ketuhanan YME : kebudayaan dari bangsa Indonesia.

 

PENUTUP

Marhaen sejatinya adalah yang memiliki alat-alat produksi sendiri, golongan kaum Marhaen biasanya dari kalangan rakyat kecil. Namun, semua yang kaum Marhaen peoleh hanyalah cukup untuk dirinya sendiri. Adanya marhaenisme juga tidak bisa dilupakan dengan Soekarno sebagai pencetusnya. Hal ini juga tidak bisa dilupakan atas peran Marxisme yang menjadi tercetusnya ide Marhaen itu sendiri, dengan apa yang sudah terjadi, Soeakrno-pun membuat konsep Marhaenisme ini yang sesuai dengan pola kehidupan rakyat Indonesia. Sebenarnya Marhaen sendiri sama seperti sinonim dari proletar, hanya saja yang menjadikan pembeda diantara keduanya adalah objek dari konsep tersebut, di mana proletar lebih kepada buruh sedangkan marhaen adalah lebih ke petani, rakyat miskin dan pedagang. Tidak denial juga bahwa adanya konsep dari pemikiran ideologi Marhaenisme ini adalah sebenarnya untuk menyatukan bangsa Indonesia agar melawan tindakan imperialisme, kolonialisme, dan feodalisme. 

 


 

DAFTAR  PUSTAKA

Melawati, C. E., & Kuswono, K. (2019). MARHAENISME: TELAAH PEMIKIRAN SUKARNO TAHUN 1927-1933. SWARNADWIPA2(3).

Subekti, A. (2019). USAHA PERPUSTAKAAN PROKLAMATOR BUNG KARNO DALAM MEREKAM SEJARAH LISAN UNTUKMELESTARIKAN PENGETAHUAN TENTANG SUKARNO (1901–1970): PENERAPAN SEJARAH LISAN DALAM MEREKAM PENGETAHUAN SOSOK MARHAEN DI BANDUNG. VISI PUSTAKA: Buletin Jaringan Informasi Antar Perpustakaan21(1), 49-58.

Pauker, G. J. (1962). Soekarno," Marhaen and Proletarian"(Book Review). Journal of Asian Studies21(4), 565.

Rasuanto, B. (2000). Keadilan sosial dua pemikiran Indonesia: Soekarno dan Hatta. Wacana2(1), 102-118.

Kuswono, K. (2016). Marhaenism: Social Ideology Create by Sukarno. HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah4(2), 119-130.



[1] H. J.S Giovani Sitohang, Gaya Kepemimpinan Soekarno-Suharto (Jakarta: Pustaka Aksara, 1989 ), hlm. 93

[2] Ibid, hlm. 24

[3] Ibid, hlm. 22

[4] Ibid, hlm. 24

[5] Ibid, hlm. 47

[6] bid, hlm. 25

[7] S Arikunto, Metodologi Penelitian Suatu Pendekatan Proposal (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002)

 

[8] Soekarno. 2015. “Nasionalisme, Islamisme, Marxisme (Pikiran-Pikiran Soekarno Muda)”. Bandung: Khazanah Pemikiran Progresif

Etnis Tionghoa Pasca Orde Baru dan Politik Identitasnya

Etnis Tionghoa Pasca Orde Baru dan Politik Identitasnya             Etnisitas adalah sekelompok manusia yang memiliki kesamaan latar b...