Sejarah
bersifat subyektif, keterikatan subyek pada zaman, dampaknya suvyektivitas
waktu dan kebudayaan, meteri sustansial, dan dituntut untuk bersifat kritis.
Sejarah Nasional:
dua tahap perkembangan histrografi tahun 1910an dan 1950an membuka kemungkinan
melancarkan usaha untuk merekonstruksi sejarah Indonesia seagai sejarah
nasional.
Sejarah
Indonesia memuat fungsi-fungsi sebagai berikut:
a. Ruang
lingkup spesial dan temporal ditentukan oleh faktor historistasnya (kesejahteraannya),
jadi tidak terlepas dari paradigma emperisisme dan historisme.
b. Diantara
unsur-unsur atas sub-unit ada jaringan hubungan dan komplementaritas antara
fungsi-fungsinya.
c. Perlu
ditnjolkan kontituitas dan berbagai sistem dan lembaga yang tercakup dalam
suatu unit.
d. Sejarah
Indinesia sebagai unit sejarah yang bersifat pluralistik, maka koherensi antara
unsur-unsurnya memerlukan proses integrasi, suatu proses yang menjadi benang
merah dalam anyaman masyarakat Indonesia.
Perspektif
historis yang memandang bahwa situasi masa kini tidak lain adalah produk
perkembangan di masa lampau yang mendukung pula kenyataan bahwa Indonesia
sebagai unit geopolitik.
Identitas Nasional: identitas
dan jepribadian terbentuk oleh totalitas pengalaman seseorang di masa
lampaunya. Segala sesuatu yang telah dirintis dan diraih dalam pergerakan
nasional dan revolusi perlu dimantapkan dan dikembangkan prinsip-prinsip:
kesatuan atau persatuan, kebebasan, kesamarataan, kepribadian, dan hasil karya.
Kesadaran Sejarah dan
Kepribadian Bangsa: sistem kolonisl serta pendidikannya
menyebabkan alienasi terhadap kebudayaan serta sejarah dan dengan kehilangna
identitas atau kepribadiannya. Orang yang menemukan sejarahnya agar dapat
mengenal kembali identitas dirinya.
Kesadaran Sejarah dan
Identitas Nasional: masalah Identitas adalah masalah
kebutuhan dasar manusia, tanpa identitas sukar bahkan mustahil dilakukan dalam
berkomunikasi dalam masyarakat. Identitas mendefikiniskan status dan peran
seseorang, mencakup citi pokok seseorang baik yang fisik ataupun sosial-budaya.
Identitas nasional sebagai unsur esensial dari kepribadian nasional. Kebutuhan
akan idntitas justru timbul pada saat
pembangunan bangsa dengan identitas nasionalnya.
Kesadaran Sejarah dan
Kepribadian Nasional: pada hakihatnta indvidualitas dan
partikularitas dari nasionalisme Indonesia tercermin pada Pancasila. Sepanjang
sejarah ada kecenderungan mengarah ke prosrs teritorial secara progresif menuju
kesatuan Nusantara. Dua fakta sejarah telah membuktikan konseptualisasi bangs
Indonesia beserta kulturnya seperti terwujud pada Manifesto Politik (1925) dan
Sumpah Pemuda (1928). Setelah tujuan revolusi Indonesia tercapai, bangsa
Indonesoa memasuki tahun 1950an dengan mengalami kejutan vahwa sebagai bangsa
merdeka ada kebutuhan akan identitas.
Jawaharlal Nehru
sebagai Sejarahwan: sejarahwan yang memainkan peranan
penting dlam Konferensi Bandung pada tahun 1955.
Nehru dan Semangat
Zamannya: masa akhir abad ke-19 dan pertengahan pertama abad
ke-20 ikut menyaksikan masa kejayaan kolonialisme serta kebangkitan sosialisme
dan nasionalisme sebagai ideologi tandingan. Sudut pandangan sosialis Nehru
juga sangat tampak dalam berbagai topik yang menyangkut nasib, kondisi,
kehidupan, dan perjuangan kelas bawah. Tanpa mengesampingkan yang satu dari
yang lain, Nehru dapat memfokuskan perhatiannya terhadao masalah-masalah sosial
ekonomi yang ada di jatung pergerekan sosialis.
Kesimpulan:
karya-karya Nehru wajib dimasukan kedalam kerangka referensi pemikiran
kontemporer yang sudah berlaku dalam dunia intelektual pada pertengahan abad
ke-20. Sejarah memiliki hubungan yang dinamis antara masa lalu dan masa kini.
Pencarian identitas nasional adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari
pergerakan nasionalis, karena agitasi sering dipergunakan untuk melawan sistem
kolonial yang secara keras meniadakan kepribadian bumi. Sejarah nasional yang
mengungkap pengalaman bangsa secara kolektif akan mengilhami mereka untuk
melancarkan perjuangan melawan para pengusasa kolonial dan membangkitkan
kesadaran nasionalnya. Karya nehru tentang sejarah dunia merupakan suatu
pembuktian fakta, bahwa nasionalismenya direalisasikan bersadar latar belakang
kemanusiann dan universalisme yang luas. Nehru sebagai soerang yang
berintelektual modern menunjukan kemampuannya untuk menembus dunia magis,
mitos, dan misteri. Nehru mengubah semua itu berutut-urut ke dalam teknologi,
sejarah, dan rasionalisme. Makanya karya Nehru merupakan salah satu karya
historis dalam proses moderenisasi negara serta menjadi ujung tombak
tranformasi intelektual bangsanya.
Pertemuan ke-3
BAB 1
Pemahaman Tentang Sejarah: History
Pengertian Sejarah
Kata
sejarah berasal dari bahasa Arab: Syajarah: Pohon kehidupan, akar, keturunan,
dan asal-usul. Sejarah disebut histore (Prancis). Akar kata history berasal
dari kata historia (Yunani). Berbicara
masalah sejarah tidak dapat dipisahkan dari cerita tentang peristiwa dan
kejadian dalam dimensi waktu atau masa yang telah lalu. Dapat disimpulkan
bhawasannya sejarah adalah cerita perubahan, peristiwa, dan kejadian masa
lampau yang telah diberi tafsir.
Konsep Sejarah
Konsep
dalam sejarah merupakan sebuah abstrasi atas peristiwa masa lampau umat
manusia. Proses pembentukan konsep disebut dengan konsep tualisasi yang artinya
membagi-bagi dan mengelompokan fenomena empiris atas dasar persamaan atau
pembedaan.
Jenis-Jenis Konsep:
a. Konsep
Empiris: sesuatu yang di konseptualisasikan dapat dibuktikan dan diukur dengan
data panca indra.
b. Konsep
Heuritis: konsep yang dianggap tidak nyata tapi digunakan untuk memberi
gambaran mengenai pertalian empirid fan menintut riset. Cohtohnya kelompok dominan
atau kelompok kepentingan dari ahli politik.
c. Konsep
Metafisik: Tuhan, sunnatullah, dan takdir adalah konsep metafisis karena harus
diterima atas dasar keyakinan, dan konsep seperti ini tidak mempunyai rujukan
atau petunjuk empiris.
Pentingnya Mempelajari Sejarah dan
Ilmu Sejarah
Pentingnya Mempelajari Sejarah.
Sejarah
sebagai cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari dan menerjemahkan suatu
fenomena catatan yang dibuat perorang. Menurut filsuf bernama George Santayana,
“mereka yang tidak mengenal masa lalunya, dikutuk untuk mengulanginya.” Yang
bermaksud sangat pentingnya kita mempelajari sebuah sejarah atas apa yang
terjadi di masa lampau, baik kenangan baik atau pahit. Mempelajari sejarah
nyatanya sudah ada sejak zaman Yunani Kuno sampai sekarang.
Pentingnya Mempelajari Ilmu Sejarah
Ilmu
dapat didefinisikn sebagai kumpulan pengetahuan ang disusun dengan sistematis
dan mempunyai metode-metode untuk mencapai tujuan yang berlaku secra universal.
Ilmu sejarah penting dipelajari karena memiliki hubungan timbal balik dan ada
hubungannya dengan sosiologi, politik, ekonomi, antropoligi, hukum, dll. Ilmu
sejarah merupakan ilmu yang data-datanya dihasilkan melalui metode yang dapat
dipertanggungjawabkan.
Contohnya
: revolusi Indonesia tidak dapat diulangi sebab peristiwa itu hanya terjadi
satu kali. Lejadian tersebut meninggalkan fakta, sejarah, dan dokumentasi
dibalik kejadian tersebut. Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa ilmu sejarah
sebagai salah satuilmu yang bisa diverivikasi kebenarannya sehingga ilmu ini
juga mempunyai sifat terbuka, artinya dapat dikritik.
Pertemuan ke-3 : Kisah Thermidorian
Dalam Revolusi Indonesia
Sejarah
terbentuknya Republik Indonesia modern. Sukarno, yang sedang demam sedari
mengunggu Hatta datang, dengan desakan berbagai pihak untuk Soekarno segera
membacakan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Namun Sukarno menolak,
karena beliau terus menunggu sampai lima menit sebelum proklamasi sampai Hatta
datang. Ada momen mengesankan dalam drama detik-detik proklamasi Indonesia.
Sukarno dan Hatta adalah pemain utama pada saat proklamasi kemerdekaan
dicetuskan. Kisah persekutuan kedua pimpinan revolusi ini melahirkan apa yang
kemudian populer disebut sebagai dwitunggal yang menyatukan dua pribadi dengan
cara dan gaya politik berbeda dalam “monumen sejarah yang tak bisa
diganggu-gugat”, menjadi sebuah “simbol persatuan Indonesia yang tak
terpisahkan” sepanjang revolusi Indonesia. Sejak dekade 1930an, keduanya telah
berseteru dalam politik. Hatta menanggap gaya kepemimpinan dan sikap Sukarno yang
percaya pada massa dan machtsvorming sebagai penyebab “seluruh pergerakan kiri
menderita di bawah karena itu.” Bagi Sukarno, visi para pemimpin harus segera
menjadi ‘kemauan’ di kalangan rakyat. Hatta dan Sjahrir, terlepas dari
perlawanan mereka terhadap Sukarno, tidak pernah dapat melepaskan peran Sukarno
dalam dinamika politik yang mereka mainkan sepanjang periode revolusi
Indonesia. Sejak awal mereka menyadari bahwa proklamasi tanpa Sukarno bukanlah
sebuah proklamasi. Ia adalah simbol tersendiri yang menjadikan ‘semua lapisan
masyarakat Indonesia percaya akan realitas revolusi Indonesia’.
Konsepsi
dwitunggal pada akhirnya menjadi satu kata dalam kamus bahasa Indonesia modern
sebagai sesuatu yang dapat dibendakan. Sebuah konsep politik yang memang secara
khas lahir dari periode revolusi Indonesia dan menjadi kata benda abstrak yang mewakili
sesuatu di luar panca indera dan lebih diwakili dengan pikiran seperti kata ‘cinta’,
dan memiliki makna dalam kamus sebagai ‘pasangan yang sangat erat dan kokoh antara
dua hal (tokoh)’. Pada saat kelahirannya, konsep itu memang berguna bagi para
pengikut dan para politisi di sekitar mereka dibanding bagaimana kedua sosok
pimpinan tersebut saling memandang peran masing-masing. Di luar konteks
revolusi, konsep itu menciptakan ‘citra sejarah baru’ dalam periode kekuasaan
Orde Baru yang tidak ingin melihat kebesaran Sukarno dalam sosok individualnya.
Politik de-Sukarnoisasi adalah ciri penting yang mewarnai era sejarah Orde
Baru. Di bawah kekuasaan itu, tidak satu pun monumen, nama jalan, dan gedung
yang menempatkan Sukarno sebagai pribadi dengan pikiran dan cita-cita politik
tersendiri.
Di
Indonesia, tidak dapat disangkal bahwa sejak pendudukan Jepang, para pimpinan
utamanya telah menjadi bagian kekuasaan pemerintahan pendudukan Jepang. Sukarno
adalah salah satu pemimpin terkemuka dari kalangan nasionalis yang dibutuhkan
Jepang dalam membantu meraih dukungan rakyat atas politik mereka dalam Perang
Pasifik, termasuk dukungan atas kekuasaan yang mereka raih setelah mengalahkan
penguasa kolonial Belanda yang harus mundur sampai Australia sejak ekspansi
Jepang di wilayah Timur Jauh dan Pasifik. Soekarno bersama pemimpin-pemimpin
Indonesia lainnyapun tidak ada pilihan lain selain menerima tawaran Jepang
untuk berkolaborasi. Ia menjadi tokoh penting yang terus bergerak menyuarakan
kepentingan Jepang sebagai Saudara Tua dalam perang Asia Raya. Kolaborasi ini
yang melekatkan kata ‘kolaborator’ bagi Soekarno dan menjadi batu sandungan
tajam bagi dirinya untuk berperan besar sepanjang periode revolusi.
Kompromi-kompromi dalam bentuk lain terus membayangi dalam tahun-tahun
berikutnya yang menggerakan pendulum revolusi Indonesia dalam gerak ulangalik
ke kiri dan ke kanan dan sudah barang tentu ada darah yang tumpah dalam setiap
pergerakan pendulum itu. Kompromi itu pun bersinggungan dengan keadaan yang
lebih dalam kancah politik internasional setelah kekalahan Jepang dalam periode
Perang Pasifik.
III
Perang
dan Revolusi adalah dua peristiwa yang saling berhubungan dan menjadi ciri
peristiwa politik penting sejarah modern dunia sejak pecahnya Revolusi Amerika
dan kemudian Revolusi Prancis, dengan dampak lebih besar pada dunia modern.
Invasi militer Jepang dalam periode Perang Pasifik adalah jendela yang membuka
akhir perjalanan angin sejarah kolonialisme dan imperialisme Barat di kawasan
Asia Tenggara. Berbeda dengan penguasa kolonial sebelumnya, pasukan pendudukan
Jepang yang membangun sebuah bentuk ‘pemerintahan tidak langsung’ melalui
kerjasama mereka dengan elit-elit politik di wilayah pendudukannya, memberikan
janji kemerdekaan resmi dibawah persemakmuran Jepang di negara-negara yang
didudukinya. Pengakuan kemerdekaan ini dimulai di Burma tanggal 1 Agustus 1943,
diikuti kemudian pemberian kemerdekaan Filipina tanggal 14 Oktober tahun yang
sama. Sementara janji kemerdekaan untuk Indonesia dan Indochina tertunda
beberapa tahun kemudian. Bagaimanapun, dalam pengalaman dua negara terakhir,
sejarah menunjukan proses kemerdekaan yang lebih kompleks dan terjadi diluar
skenario yang sebelumnya direncanakan Jepang. Pemerintahan boneka Jepang di
Vietnam yang dibentuk tanggal 1 Agustus 1945, dengan mengangkat Pangeran Bao
Dai dari Annam sebagai pemimpin pemerintahan, tidak dapat bertahan lama dari
tekanan dan serangan organisasi pembebasan nasional Vietnam, Vietminh yang
bergerak mengepung kota-kota besar di Vietanm sejak bulan Agustus 1945.
Menyusul setelah kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik dan Ho Chi Minh mendeklarasikan
Republik Demokratis Vietnam tanggal 2 September 1945. Tanggal 17 Agustus 1945,
Sukarno dan Hatta atas desakan para pemuda mendeklarasikan kemerdekaan Republik
Indonesia.
IV
Bagi
kita dalam kehidupan kontemporer, suasana seperti ini mungkin mirip dalam
pengalaman ketika para mahasiswa dan aktivis pro-demokrasi turun ke jalan dan
menduduki gedung parlemen pada bulan Mei 1998. Gelora semangat anak-anak muda
yang menuntut diakhirinya otoritarianisme pemerintahan Orde Baru berada dalam
sebuah situasi ketika elemen kekerasan, utamanya tentara, masih berada dalam
kontrol pemerintahan lama. Para pemimpin gerakan reformasi pada akhirnya harus
menyadari bahwa negosiasi dan kompromikompromi adalah jalan terbaik dari
situasi yang berkembang. Mereka pun perlahan menyarankan kepada para pemuda
untuk tenang dan kembali ke kampus atau rumah masing-masing setelah beberapa
hari menduduki gedung parlemen. Lemahnya suasana psikologis dalam periode awal
revolusi merupakan bagian dari ‘situasi’ ketika revolusi Indonesia pertama kali
bergulir.
V
Dalam
setiap revolusi, persoalan kekuasaan adalah jantung utama dinamikanya.
Bagaimana kekuasaan politik disusun dan dijalankan adalah agenda paling
mendesak setelah golongan revolusioner mendeklarasikan agenda politik mereka. Naskah
teks proklamasi kemerdekaan Indonesia memberikan contoh klasik ini. Dari segi
ini pengalaman revolusi Indonesia menjadi tidak terlalu dramatis. Dibanding
pembentukan negara baru dengan menghancurkan negara lama, revolusi Indonesia
diawali dengan kontinuitas instrumen negara yang diwarisi sejak periode
kolonial Belanda dan kemudian dipertahankan Jepang. Bahasanya ditandai dengan
persoalan ‘peralihan kekuasaan dalam tempoh setjepattjepatnja’ mencerminkan
bahwa struktur kekuasaan lama tidak mengalami perubahan sama sekali di dalam
revolusi tersebut.
VI
Empat
belas hari setelah proklamasi kemerdekaan, tepatnya tanggal 31 Agustus,
dibentuk sebuah pemerintahan baru yang menjadi kabinet pertama dalam sejarah
Republik yang masih muda. Ada 10 kementrian yang terdiri dari kementrian Luar
Negeri, Dalam Negeri, Kehakiman, Bidang Ekonomi, Keuangan, Pendidikan, Sosial,
Penerangan, Kesehatan, Perhubungan. Dalam pengalaman Indonesia, munculnya
istilah sejarah Perang Kemerdekaan mengenai revolusi adalah perbandingan dari
semangat ‘revisionisme’ dalam historiografi tentang revolusi seperti yang
menjadi perdebatan di kalangan sejarawan tentang revolusi Prancis. Bagi
kalangan sejarawan yang menolak posisi revisionisme, serangan mereka terhadap
posisi Coban dan murid-murid serta pengikutinya seperti mengulang kembali
serangan Paine terhadap Burke pada masa revolusi. Revisionisme tentang revolusi
Prancis tidak lain adalah konservativisme a’la Burke dengan baju baru tentunya.
Di Indonesia, pergeseran wacana revolusi Indonesia menjadi Perang Kemerdekaan
sepertinya berjalan 26 dalam arus sama konservativisme politik dalam era
pemerintahan Orde Baru. Tetapi berbeda dengan pengalaman Prancis, tidak ada
perdebatan di kalangan sejarawan tentang ini berkait dengan kontrol kekuasaan yang
turut mengkanonkan historiografi baru tersebut di dalam lingkup akademis dan
juga didaktik mengenai sejarah modern Indonesia di sekolah-sekolah menengah.
VII
Tanggal
10 November 1945, Kementrian Penerangan kabinet pertama pemerintah Republik
mengeluarkan sebuah boklet kecil berjudul “Perdjuangan Kita”. Penulis booklet
itu adalah Sutan Sjahrir, seorang tokoh veteran pergerakan nasional
anti-kolonial. Ketika sebuah organisasi mahasiswa di Belanda membentuk
organisasi bersifat politik dengan menyebut nama Indonesia, Perhimpunan
Indonesia, yang menjadi salah satu pimpinan Perhimpunan Indonesia di Belanda
dan bergabung bersama Hatta membentuk Pendidikan Nasional Indonesia sebagai
organ politik pergerakan bersifat kader di Indonesia. Agenda perundingan Sjahrir
dalam apa yang dikenal sebagai perjanjian Linggarjati dianggap sebagai
kapitulasi pemerintah Republik terhadap Belanda. Sjahrir pun harus melepaskan
kedudukan sebagai Perdana Menteri dan Soekarno mengangkat orang baru
menggantikan Sjahrir. Linggarjati dan kegagalannya tetap menjadi stigma tentang
‘kegagalan’ berdiplomasi kabinet Sjahrir dan termasuk dirinya pribadi dalam
periode selanjutnya setelah Indonesia merdeka. Tetapi keharusan berunding
dengan pemenang Perang Dunia II tetap menjadi sebuah kartu politik yang terus
dimainkan dalam ajang revolusi Indonesia, dan menjadi penanda dari jatuh
bangunnya pemerintahan dan sekaligus juga gerak revolusi yang semakin berdarah
dalam tahun-tahun berikutnya.
VIII
Revolusi
Indonesia bagaimanapun tetap menjadi salah satu fenomena menarik dalam sejarah
dunia yang memberi serangkaian tantangan dalam memberi ciri atau label yang
masuk akal untuk memahami dinamika yang terjadi. Sebelum membahas lebih lanjut
tentang bagaimana drama yang saling susul-menyusul dalam kisah revolusi
Indonesia, saya ingin terlebih dahulu mengantarkan sebuah skema umum yang
sedikit banyak akan membantu meneropong dinamik revolusi dengan menggunakan
pandangan dari atas—sebuah bird-view--yang dapat memberi sketsa umum tentang
jalannya revolusi Indonesia. Kita bisa melihatnya dalam karya penting Kahin
berjudul Nationalism and Indonesian Revolution (1952). Selain perbedaan antara
revolusi Indonesia dan khususnya Revolusi Prancis di atas, ada juga perbedaan
menarik dalam akhir karir antara Kahin dan Paine. Kahin tidak membawa pulang
rasa melankolik ketika menulis Nationalism and Indonesian Revolution. Revolusi
Indonesia sepertinya memang kembali pada ‘rel sebenarnya’ dan menghapus banyak
impian. Mereka yang naik dalam panggung kekuasaan pasca-revolusi dalam paruh
pertama Indonesia pasca revolusi adalah orang-orang dalam lingkaran
persahabatan Kahin ketika ia menjadi bagian dinamika revolusi Indonesia. Ini
adalah akhir rasional revolusi Indonesia bagi sebuah negara baru yang
memerlukan pembangunan dan modernisasi atas segala keterbelakangan dibawah
kolonialisme. Meski karyanya tidak mencapai kualitas Rights of Man dalam
membangkitkan inspirasi membangun sebuah kehidupan baru, Nationalism and
Indonesian Revolution telah menjadi karya penting mengenai sejarah Indonesia
dan terus dibaca sampai sekarang. Ia meninggal sebagai orang terhormat dan
meraih penghargaan bintang mahaputra dari pemerintah Indonesia.
IX
Tuduhan
bahwa Sjahrir adalah wakil dari kekuatan posisi kapitulasionis dalam pengalaman
revolusi Indonesia ketika berhadapan dengan Belanda dan Sekutu dalam
perundingan, nampaknya menjadi terlalu berat sebelah apabila ditujukan hanya
pada diri Sjahrir. Persoalan mendasar revolusi Indonesia sejak awal telah
dirumuskan dengan cukup tepat oleh Sjahrir tentang bagaimana negara Republik
baru berhadapan dengan para pemenang Perang Dunia II, dalam hal ini Amerika
Serikat dan Inggris (dengan Belanda di dalamnya) untuk pengakuan de jure
Republik Indonesia di dunia internasional. Posisi ini adalah posisi politik
yang cukup konsisten dianut setiap kekuatan politik kanan dan kiri dalam
pergerakan revolusi Indonesia. Persoalannya saat itu, yang menandai jatuh
bangunnya pemerintahan, adalah sejauh mana perundingan memberikan formula yang
menguntungkan bagi pemerintahan Republik pada saat itu, bukan penolakan pada
perundingan itu sendiri.
XI
Sebuah
anti-klimaks sesungguhnya dalam periode revolusi Indonesia mulai terjadi
setelah kejatuhan Amir Sjarifuddin dari kedudukan Perdana Menteri dan sekaligus
menteri pertahanan pada bulan Februari 1948. Jadi, bukan pada saat ketika
proklamasi kemerdekaan dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945 seperti diuraikan
dalam pengalaman Loebis pada bagian awal tulisan ini. Leclerc memberikan
penafsiran terhadap kekalahan Amir (dan sekaligus kekalahan golongan kiri)
sebagai bentuk kekalahan pribadi tanpa sebuah organisasi/partai pendukung yang
kuat. Selain itu, Amir adalah sosok paling lemah dalam kuartet kepemimpinan
revolusi Indonesia selain Sukarno, Sjahrir dan Hatta. Kemerosotan pengaruh
politik Amir seiring dengan kedatangan Komisi Jasa Baik sejak akhir 1947
dipimpin utusan Amerika Serikat yang saat itu mulai berupaya membersihkan
agenda dekolonisasi negara-negara baru dunia ketiga dari pengaruh komunisme
internasional.
XII
Bagaimanapun
‘rasionalitas’ ini tidak bertahan lama. Memasuki dekade 1950an dan paruh
1960an, Sukarno tampil dalam pusat kekuasaan dengan seruan “revolusi belum
selesai”. Sukarno tampil layaknya sosok radikal Jacobin yang menebar teror atas
golongan kelas menengah yang mulai ingin menikmati karya revolusi mereka.
Roberspierre baru dalam panggung pasca-revolusi sudah barang tentu tidak
diinginkan. Ia menjadi gangguan atas rasionalitas perjalanan sejarah Indonesia
dan harus diakhiri dengan kekuatan militer yang mengembalikan perjalanan
sejarah Indonesia pasca-revolusi kepada ‘rel yang benar’: modernisasi dan
pembangunan. Dalam dua tema kembar itu harapan kemajuan ekonomi dirumuskan bagi
sebuah negara yang ketika lahir anggaran belanjanya tidak lebih besar dari satu
universitas di Amerika Serikat. Bukan suatu yang mengherankan bila kemudian
kelas menengah Indonesia saat itu menyambut hangat kehadiran Jenderal Suharto
sebagai cara mengatasi kelelahan hidup dalam tahun-tahun Vivere Pericoloso.
Bagaimana pun keluar dari situasi Vivere Pericoloso berarti adalah penciptaan
sebuah inferno dalam sejarah Indonesia modern yang mewujud dalam bentuk
pembantaian massal pada tahun 1965. Titik Inferno ini bergulir ketika dalam
sebuah pidato yang disampaikan untuk memperingati hari kemerdekaan Republik
Indonesia tahun 1959, Soekarno menyampaikan kilas balik tentang pengalaman
revolusi Indonesia. Ia membuat sketsa tentang sejarah Indonesia yang dilukiskan
dalam tiga tahapan sampai periode waktu ketika ia menyampaikan pidatonya. dibanding
Paradiso, akhir era Soekarno lebih tepat dikatakan sebagai Inferno. Persekutuan
antara kelas menengah dan angkatan darat dalam menghentikan Soekarno dan proyek
‘revolusi belum selesai’ menciptakan neraka yang mengerikan ketika ratusan ribu
orang-orang komunis, dan mereka yang dituduh komunis, menjadi korban
pembantaian massal arus balik revolusi Indonesia. Gelombang kekerasan dalam
dimensi Thermidorian pada tahun 1965 melebihi kekerasan dalam pengalaman
Peristiwa Madiun 1948 yang menelan korban di kalangan komunis dan juga kelompok
anti-komunis. Hampir sejuta orang-orang komunis, pendukung dan mereka yang
dicurigai komunis dibunuh. Jutaan lainnya masuk dalam penjara tanpa pengadilan
dan proses hukum. Sebuah reaksi Thermidorian yang lebih mengerikan dibanding
negeri asalnya di Prancis.
XIII
Revolusi
Indonesia adalah keadaan baru yang dipresentasikan dalam sebuah situasi yang
belum dikenali bentuk presentasinya dan juga belum dikenal pengetahuan tentang
keadaan itu oleh mereka yang ada di dalamnya, tetapi ia terjadi dan terus
bergerak. Di dalamnya kita mendapatkan sosok-sosok dalam revolusi dengan
fidelity masing-masing membentuk rangkaian prosedur yang menciptakan
kemungkinan tak terhingga dan tak terduga sebelumnya tentang apa yang akan
terjadi dalam peristiwa revolusi. Sukarno dan Hatta melanjutkan kerja mereka
dalam panggung politik pascarevolusi dan saling berpisah jalan. Sukarno ingin
terus membawa gelora revolusi, Hatta ingin semua berhenti dan memulai kerja
yang lebih teratur.
Tetapi di sini ada pertanyaan besar
tentang bagaimana makna revolusi dalam perjalanan sejarah modern Indonesia? Apa
hasil-hasilnya bagi masyarakat Indonesia setelah revolusi?
Ada
pertimbangan ekonomi politik dari kekuatan-kekuatan yang terlibat dalam
gelombang revolusi Indonesia. Belanda jelas menginginkan jaminan kelanjutan
keuntungan para pengusaha mereka dari modal yang telah ditanam dalam
usaha-usaha perkebunan besar. Kalangan aristokrat pun merasa cemas atas
peristiwa yang terjadi di Sumatera Timur melalui pembunuhan terhadap Sultan
Mahmud dan keluarganya yang dianggap pro-Belanda di tangan laskar pro-republik.
Jadi tarik-menarik antara kemapanan di satu sisi dan ketidakpastian di sisi
lain telah membentuk gejolak revolusi Indonesia. Kedaulatan rakyat melebihi
bayangan dan imajinasi para elite politik pada akhirnya membentuk sebuah
konsolidasi di kalangan elite itu sendiri, terutama dari golongan
konservatifnya, untuk segera menghentikan melubernya kedaulatan rakyat itu yang
sekaligus menghentikan dinamika revolusi. Catatan sejarah menunjukan bahwa
revolusi Indonesia pada akhirnya menampilkan riwayat kemenangan kemapanan dalam
menghancurkan ketidakpastian dan keonaran. Kisah Thermidorian dua abad
sebelumnya membayangi sejarah revolusi Indonesia. Tragedi Sukarno pada tahun
1965 seperti mengulangi masamasa ketika para pemimpin Republik yang memegang
kendali pemerintahan harus menghentikan gelombang daulat rakyat di Tiga Daerah,
oposisi militan dan radikal Tan Malaka pada tahun 1946, dan penghancuran
kekuatan komunis pada tahun 1948 di Madiun ketika kekuatan dunia internasional.
XIV
Watak
Thermidorian dalam pengalaman revolusi Indonesia dalam lanskap yang lebih
umum. Reaksi Thermidorian adalah salah
satu bentuk ketakutan atas munculnya partisipasi rakyat dalam gelora revolusi
dan potensi kekerasan di dalamnya. Sebuah ketakutan elite terhadap ‘ekses’
daulat rakyat. Latar belakang mereka yang mapan dan corak elitis dalam aksi
berpolitik menuntut diakhirinya partisipasi rakyat tersebut, terlepas cara
mengakhirinya menuntut gelombang kekerasan lain yang lebih sistematis tapi
lebih menghancurkan dibanding kekerasan popular. Dalam periode revolusi
Indonesia kita telah mendapatkan gambarannya. Dua dekade selanjutnya, ketika
Sukarno yang merasa resah dengan kemandekan politik Indonesia menyerukan
mobilisasi massa dalam melanjutkan ‘revolusi yang belum selesai’, kalangan
kelas menengah merasa perlu menghentikan Sukarno yang tampil sebagai Jacobin
radikal. Tanpa segan mereka menghentikannya di tahun 1965 walau harus bersekutu
dengan kekuatan militer dan banjir darah di perdesaan Indonesia. Dari sudut
ini, sejarah Indonesia (pasca-revolusi) adalah cerita tentang kemenangan
konservativisme dan kemapanan dalam hasil akhirnya. Memang benar, revolusi
bukan sebuah pesta makan malam dari segi apapun.
Pertertemuan ke-3 : Metodologi
Strukturistik Dalam Historiografi Indonesia: Sebuah Alternative.
Dalam konteks historiography, posmo
terkiat khususnya se agai tantangan terhadap hak-hal konvesional seperti fakta,
objectivity, dan kebenaran. pendekaran spentis dari teori posmo mempersoalnab
validitas mutlaj ketiga konsep tersebut. Objektivias adalah prinsip yang
ditanamka dalam diri sejarahwan akademis sejak starata satu. Teori dan
metedologi manapun tidak pernah sempurna dalam menjelaskan objek dan masalah
penelitian. Sejarahwn diuntungkan oleh karena boleh menerapkan lebih dari satu
teori dalam kanjiannya. Yang mana eberapa teori dapat digunakan dalam kerja
metodologi strukturistik. Dan penggunaan metodologi tergantung ada apa yang
akan di analisis. Sejarah harus dilihat dalam konteks kritis,dan kubu
dekonstruksi maupun revisionis sangat berguna atas pandangan sempit dalam
metedologi. Serta bagaimana sejarahwan harus dituntut untuk meningkatkan
kemampuann kerangka teoretik dan metodologik dengan oenggunaan sumber yang
bergaam sesuai problem kajian yang dihadapi. Mempublikasikan kajian yang lebih
banyak, agar dapat menjadi bahan histrografis yang lebih komprehensif. Dan
terakhir adanya forum diskusi erma,a
khusus membicarakan masalahmasalah teori dalam metodologi sejrah. Metodologi
strukturistik dapat melayani bebrapa teori sekaligus. Penedekatan ini juga
dalam menjelaskan perubahan sosial tidak lagi cukup. Pendekatan ini lebih
banyak menekankan peran aktif masyarakat dalam merubah strtuktur sosial,
tentang bagaimana masysrakat masa lalu menghadapi sebuah perubahan, sehingga
dapat dipelajari hingga saat ini. metodologi strukturalistik mengaggap struktur
sebagai realiyas karena sejumlah peran baik individu ataupun kelompok sosial.
Pertemuan ke-4 : Sejarah Politik
Sejak
Thucdides menulis Perang Pelopenesia sebagai sejarah politik, abad ke 19
sebagai abad nasionalisme dan formasi negara nasional di Eropa Barat. Sejarah
politik sebagai sejarah dengan gaya baru memalai pendekatan ilmu-ilmu sosial
dan dengan demikian tidak hanya memperluas cakrawala politik, tetapi uga
membuat perpektif politik lebih komprehensif dan multidimensional mencakup
imterdependeso proses politik dengan jaringan sosial, sistem ekonomi, sistem
nilai, dll.
Polity
sebagai pola distribusi kekuasaan dalam masnyarakat ada korelasinya dengan
struktur sosial serta sistem aringan hubungan sosial dalam masyarakat.
Pendektan sistem hanya dipakai sebagai alat untuk mempertajam analisis dengan
memperhitungkan aspek-aspek proses politik serta saling pengaruh mempengaruhi
di antara aspek itu. Sejarah politik analitis lebih mampu mengungkapkan berbagai
aspek proses politik itu uamh senantiasa terjadi dalam kerangka struktural
kekuasaan atau jaringan hubungan sosial.
Pertemuan ke-4 : Perkembangan Teori
Sejarah
Teori
dalam sejarah biasanya dinamakan kerangka referensi atau skema pemikiran. Atau
perangkat kaidah yang memandu sejarahwan dalam penelitiannya dalam menyusun
bahan-bahan data yang diperolehnya dari analisis sumber. Hakikat teori sejarah
adalah gerak yang tumbuh dan berkembang secara evolusi karena menggambarkan
peristiwa sejarah masa lampau secara kronologis.
Ragam Teori Sejarah:
a. Hukum
Fatum
b. Teori
St. Agustinus
c. Teori
Challenge and Responces Arnold J. Toynbee
d. Teori
Progresif Linear Ibnu Khaldun
e. Teori
Sejarah William H. Frederick
f. Teori
Sejaran Murthadha Muthahhari
g. Teor
Hegel
h. Teori
Karl Marx (1818-1883)
i.
Heolithic Theory
j.
Teori Cultural Revolution
k. Teori
Cultural Change
l.
Pandangan Sejarah G.Vico
m. Teori
Sejarah Oswald Spengler
n. Teori
Sejarah Patirim Sorokin
Pertemuan ke-5 : Penafsrisran Sejarah
(Interpretasi)
Interpretasi
harus berbicara sendiri, mengiraikan fakta-fakta sejaran dan kepentingan topik
sejarah, serta menjelaskna masalah keinian. Interpretasi didasarkan pada tiga
argumenyakni:
a. Selalu
ada interpretasi yang tidak sesuai dengan laporan sejarah yang disepakati.
b. Ada
beberapa interpretasi yang memerlukan sejumlah hipotesis yang bersidat membantu
jika hendak bebas dan falsifikasi yang dilakukan oleh laporan.
c. Ada
beberapa intrepetaso yang tidak mampu megubungkan fakta-fakta yang dapat
dihubungkan oleh interpretasi lain.
Hal ini juga sering disebut juga dengan
analisis sejarah yang menguraikan secara terminologi yang berbeda sintesis yang
berarti menyatukan. Faktor yang mempengaruhi penafsiran sejarah yakni perbedaan
cara berpikit manusia yang diperngaruhi oleh pandangan hidupnya. Sejarah tidak
sama dengan ilmu-ilmu pengetahuan alam sehingga tidak mengherankan apabila
banyak masalah yang menyangkut objektivitas penafsirannya. Kwlwmahan dari model
penafsiran sejarah hanya mengkaji satu gejala atau fenomena sosial tumggal
sebagai penyebab terjadinya perwistiwa sejarah.
Menurut
Garraghan ada lima jenis interpretasi:
a. Interpretasi
Verbal: bahasa, perbendaharaan kata (vocab), tata bahasa, konteks, dan
terjemahan.
b. Interpretasi
Teknis: tujuan penyusunan dokumen dan bentuk tulisan persisnya.
c. Interpretasi
Psikologis: tentang dokomen yang merupakan usaha untuk membacanya melalui
kacamata pembuat dokumen untuk memperoleh titik pandangannya.
d. Interpretasi
Logis: yang didasarkan atas cara berpikir logis atau cara berpikir yang banar.
e. Interpretasi
Faktual: tidak didasarkan atas kata-kata, tetapi terhadap fakta.
Pertemuan ke-6 : Teori Revolusi
dalam Analisa Sejarah
A. Anatomi Revolusi Menurut Crane
Brinton
Menurut
Crane Brinton, revolusi adalah peristiwa perubahan yang terjadi secara
besar-besaran dalam waktu yang sangat singkat. Perubahan itu dapat meliputi
aspek politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Ia memberikan contoh mengenai
revolusi dari beberapa peristiwa revolusi di dunia, seperti Revolusi Inggris,
Revolusi Amerika, Revolusi Prancis, dan Revolusi Rusia. Setelah melakukan
analisis secara mendalam mengenai keempat peristiwa itu, ditemukan gambaran
mengenai anatomi sebuah revolusi. Dengan melihat anatomi revolusi,mkita dapat
melakukan eksplanasi mengenai causal mechanisim yang telah menggerakkan sebuah
revolusi. Dalam paridangan Crane Brinton, revolusi terjadi karena | digerakkan oleh
orang atau sekelompok orang yang revoiusioner yang mempunyai interest yang
sama. Gerakan revolusi pada umumnya dipusatkan pada penggantian orang atau
kelompok pemegang kekuasaan oleh orang atau kelompok oposisi yang menjadi lawan
dari penguasa. Pergantian kekuasaan melalui revolusi biasanya dilakukan dengan
cara kekerasan, teror, atau pemberontakan.
1.
Causal
Mechanism
Dari
keempat revolusi yang pernah terjadi di dunia, baik Revolusi Inggris, Revolusi
Prancis, Revolusi Amerika, dan Revolusi Rusia revolusi besar terjadi karena
faktor ekonomi, faktor politik, sosial, dan pemeikiran intelektual.
2.
Langkah
Menuju Revolusi
Tahap
awal menuju revolusi ditandai dengan munculnya berbagai kevaman yang sangat
gencar dan keras terhadap tindakan sewenang-wenangan pemerintah yang berkuasa.
3.
Karakter
Kaum Revolusioner
Kaum
Revolusioner mempunyai beberapa karakter, yang salah satunya adalah idealis,
yang mana karena ini mereka mempunyai ide dan konseo bagaimana caranya
menagmbil alih kekuasaan memalui gerakan revolusi. Dan gerakan revolusioner
menurut sosiologis dapat dikategorikan
sebagai gaksi sosial yang dibedakan dalam empat bentuk.
a. Interaksi
Perseorangan
b. Aksi
Kolektif
c. Aksi
Berpola
d. Aksi
Politik
Pertemuan ke-7 : Nasionalisme dan
Revolusi Indonesia
Surat
kabar Indonesia yang pertama adalah Berita Indonesia yang mulai terbit 6
September 1945. Selain surat kabar terdapat pres-pres yang juga sama
pentingnya.
10. Soekarno, PNI dan Perhimpunan
Indonesia: Gerakan nasionalis Indonesia dengan
cepat meningkat pada tahun 1927 dengan diririkannya PNI. Pada tanggal 4 Juli
1927 terdapat pemuda yang mendirikan sebuah Perserikatan Nasional Indonesia.
Yang diketuai oleh Soekarno. Pada tahun 28-29 para pemimpin PNI verusaha keras
menciptakan sebuah organisasi yang kuat. Organisai-organisasi muda banyak yang
terpengaruh oleh PNI, dan salah satu peristiwa pentingnya adalah sejarah
gerakan nasional adalah kongres Pemuda Indonesia yang diadakan di Batavia.
Dimana para delegasi mengucapkan suatu sumpah satu nusa, satu bangsa, satu
bahasa.
11. Koperator dan Non-Koperator;
Kegiatan Politik Nasionalis di Tahun 1930-an: tahun
1934 penguasa kolonial bertindak terhadap organisasi-organisasi politik
nasionalis di Indonesia. Tidak mungkin ada perbedaan yang lebih besar dari
masa-masa sejarah Indonesia modern, daripada mas-masa antara tahun 1930-an dan
era pendudukan Jepang serta revolusi. Dalam tahun 1935 sampai 1942 Indonesia,
partai-partainya menjalankan taktik parlamanter yang moderat.
12. Terbentuknya Seorang Revolusioner:
Satu
orang yag menganggungkan diri dengan partindo di Pemantang Siantar adalah
seorang pemuda bernama Adam Malik. Yang menyaksikan secara langsung bagaimana
kehidupan buruh di Sumatera.
17. Saat Yang Menentukan:
tahun 1980an daerah jajahan gaya lama sebagaian besar telah lemnyap, dan lebih
dari 160 negara yang berdaulat untuk PBB. Kemerdekaan Indonesia tampakya tidak
luar biasa.
18. Penulisan Proklamasi: kejadian
pada tanggal 15, 16, dan 17 Agustus 1945 adalah peristiwa yang penting untuk Indonesia.
Adam Malik adalah seorang pemuda aktivis, yang kemudian akan menjadi seornag
tokoh utama dalam kehidupan politik bangsanya. Shigetada Nishijima sebagai
pembantu dan penerjemah bagi laksamana Maeda dan sebagai seorang yang
bersimpati dengan Nasionalisme Indonesia. Wangsa Wijaya juga berada dirumah
Laksamana Maeda pada tanggal 16 Agustus, malam. Tanggal 17 Agustus 1945
kata-kata yang sangat berarti bagi bangsa Indonesia arena dalam sejarah modern
diucapkan dihadapan sejumlah kecil patriot-patriot terkemuka.
26. Peranan Militer dan Diplomasi
Dalam Perjuangan: Perjuangan di pusat dilancarkan didua
front, diplomasi, dan militer. Tanpa diplomasi, para pejuang tidak dapat akan
menang. Tanpa para pejuang, diplomat tidak akan mempunyai suara yang
meyakinkan. Tahap terakhir perjuangan kemerdekaan Indonesia mulai dengan
menrahnya jepang dalam bulan Agustus 1945 dan berlangsung sampai penyerahan
kedaulatan oleh Belanda dalam Desember 1949.
27. Pemuda Revolusi:
tahap-tahap terakhir perjuangan setelah ambruknya kekuasaan Jepang, merupakan
cerita interaksi antara diplomasi dan peperangan. akan tetapi dibelakang laum
politis dan para prajurt profesional terdapat massa pemuda yang tidak sabar
yang menjdesak generasi yang lebih tua agar maju dengan semboyan, “Merdeka atau
Mati.”
30. Diplomasi Internasional Bagi
Kepentingan Revolusi: republik baru itu mempunyai banyak
simpatisan dan kawan di kalangan bangsa-angsa di dunia dengan menggunakan,
diplomasi yang pintar lawan-kawan ini berhasil didorong untuk menyokong
republik sehingga pendapat umum dunia dapat dikerahkan.
31: Fase Kedua; Kemenagan terakhir
Juli 1947 sampai 1950: dengan semakin cepatnya gerak maju
revolusi, pada tanggal 17 Agustus 1950 Indonesia pada hakikatnya telah menjadi
republik Kesatuan yang merdeka seperti yang diproklamiran lima tahun sebelumnya
dan yang telah menjadi impian selama setengah abad.
32. Republik Di Bawa Kepungan: Dari
bulan Januari 1946 sampai Desember 1948 terdapat dua pemerintah d Indonesia.
Pemerintah Hindia Belanda di Jakarta dan Pemerintah Republik Indonesia di
Jogja. Seababnya Jogja dipilih ialah untuk sebagian karena reputasi dan wibawa
satu orang, yaitu pengurus tradisonalnya.
33. Sebuah Pandangan Pribadi
Tentang perang Kemerdekaan: Daalam tahun 1948 di
Jogja terdapat seorang mahasiswa pemuda Amerika yang telah bertemu dengan
sebagian tokoh revolusioner terkemuka.
34. Pemerintah Darurat:
Ketika Jogja jatuh ke tangan pasukan-pasukan Belanda dan para pemimpon
pemerintahann republik ditangkap, Belanda mendakwa bahwa riwayat republik telah
berakhir. Namun sementara sahabat revolusi lain di luar negeri mempersoalkan
keputusan belanda untuk memaksakan kehendaknya dengan kekerangsan senjata.
Pemerintahan Darurat didaerah Sumatera yang dikuasai republik. Pemimpin dari
pemerintahan itu adalah seseorang yag diwaktu mudanya adalah pro-Belanda, yakni
Syarifuddin Prawirangeara.
35. Sebuah Pandangan Belanda
Tentang Perjuangan: perjuangan yang lebih dari empat tahun
dan untuk mrnyamakan sebagai suatu perang saudara timbul pertanyaan mengapa hal
itu bisa terjadi. Pihak republik dan Belanda mempunyai tujuan yang samauntuk
menciptakan Indonesia yang merdeka dan bebas menentukan nasibnya sendiri.
36. Beberapa Pandangan Tentang
Perjuangan: Apakah yang menyebabkan perjuangan
kemerdekaan berhasil? Terdapat pertanyaan jalan untuk menyusun perjuangan yang
radikal, revolusioner dan menolak segala perundingan. Implerealisme,
kolonialimse, dan kapilatisme tidak akan pernah bersedia mencapat target
kompromi untuk mrnyusun perjuangan.