Senin, 06 Maret 2023

Sejarah Nasional dan Perkembangan Bangsa


Sejarah bersifat subyektif, keterikatan subyek pada zaman, dampaknya suvyektivitas waktu dan kebudayaan, meteri sustansial, dan dituntut untuk bersifat kritis.

Sejarah Nasional: dua tahap perkembangan histrografi tahun 1910an dan 1950an membuka kemungkinan melancarkan usaha untuk merekonstruksi sejarah Indonesia seagai sejarah nasional.

Sejarah Indonesia memuat fungsi-fungsi sebagai berikut:

a.       Ruang lingkup spesial dan temporal ditentukan oleh faktor historistasnya (kesejahteraannya), jadi tidak terlepas dari paradigma emperisisme dan historisme.

b.      Diantara unsur-unsur atas sub-unit ada jaringan hubungan dan komplementaritas antara fungsi-fungsinya.

c.       Perlu ditnjolkan kontituitas dan berbagai sistem dan lembaga yang tercakup dalam suatu unit.

d.      Sejarah Indinesia sebagai unit sejarah yang bersifat pluralistik, maka koherensi antara unsur-unsurnya memerlukan proses integrasi, suatu proses yang menjadi benang merah dalam anyaman masyarakat Indonesia.

Perspektif historis yang memandang bahwa situasi masa kini tidak lain adalah produk perkembangan di masa lampau yang mendukung pula kenyataan bahwa Indonesia sebagai unit geopolitik.

Identitas Nasional: identitas dan jepribadian terbentuk oleh totalitas pengalaman seseorang di masa lampaunya. Segala sesuatu yang telah dirintis dan diraih dalam pergerakan nasional dan revolusi perlu dimantapkan dan dikembangkan prinsip-prinsip: kesatuan atau persatuan, kebebasan, kesamarataan, kepribadian, dan hasil karya.

Kesadaran Sejarah dan Kepribadian Bangsa: sistem kolonisl serta pendidikannya menyebabkan alienasi terhadap kebudayaan serta sejarah dan dengan kehilangna identitas atau kepribadiannya. Orang yang menemukan sejarahnya agar dapat mengenal kembali identitas dirinya.

Kesadaran Sejarah dan Identitas Nasional: masalah Identitas adalah masalah kebutuhan dasar manusia, tanpa identitas sukar bahkan mustahil dilakukan dalam berkomunikasi dalam masyarakat. Identitas mendefikiniskan status dan peran seseorang, mencakup citi pokok seseorang baik yang fisik ataupun sosial-budaya. Identitas nasional sebagai unsur esensial dari kepribadian nasional. Kebutuhan akan idntitas justru timbul  pada saat pembangunan bangsa dengan identitas nasionalnya.

Kesadaran Sejarah dan Kepribadian Nasional: pada hakihatnta indvidualitas dan partikularitas dari nasionalisme Indonesia tercermin pada Pancasila. Sepanjang sejarah ada kecenderungan mengarah ke prosrs teritorial secara progresif menuju kesatuan Nusantara. Dua fakta sejarah telah membuktikan konseptualisasi bangs Indonesia beserta kulturnya seperti terwujud pada Manifesto Politik (1925) dan Sumpah Pemuda (1928). Setelah tujuan revolusi Indonesia tercapai, bangsa Indonesoa memasuki tahun 1950an dengan mengalami kejutan vahwa sebagai bangsa merdeka ada kebutuhan akan identitas.

Jawaharlal Nehru sebagai Sejarahwan: sejarahwan yang memainkan peranan penting dlam Konferensi Bandung pada tahun 1955.

Nehru dan Semangat Zamannya: masa akhir abad ke-19 dan pertengahan pertama abad ke-20 ikut menyaksikan masa kejayaan kolonialisme serta kebangkitan sosialisme dan nasionalisme sebagai ideologi tandingan. Sudut pandangan sosialis Nehru juga sangat tampak dalam berbagai topik yang menyangkut nasib, kondisi, kehidupan, dan perjuangan kelas bawah. Tanpa mengesampingkan yang satu dari yang lain, Nehru dapat memfokuskan perhatiannya terhadao masalah-masalah sosial ekonomi yang ada di jatung pergerekan sosialis.

Kesimpulan: karya-karya Nehru wajib dimasukan kedalam kerangka referensi pemikiran kontemporer yang sudah berlaku dalam dunia intelektual pada pertengahan abad ke-20. Sejarah memiliki hubungan yang dinamis antara masa lalu dan masa kini. Pencarian identitas nasional adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pergerakan nasionalis, karena agitasi sering dipergunakan untuk melawan sistem kolonial yang secara keras meniadakan kepribadian bumi. Sejarah nasional yang mengungkap pengalaman bangsa secara kolektif akan mengilhami mereka untuk melancarkan perjuangan melawan para pengusasa kolonial dan membangkitkan kesadaran nasionalnya. Karya nehru tentang sejarah dunia merupakan suatu pembuktian fakta, bahwa nasionalismenya direalisasikan bersadar latar belakang kemanusiann dan universalisme yang luas. Nehru sebagai soerang yang berintelektual modern menunjukan kemampuannya untuk menembus dunia magis, mitos, dan misteri. Nehru mengubah semua itu berutut-urut ke dalam teknologi, sejarah, dan rasionalisme. Makanya karya Nehru merupakan salah satu karya historis dalam proses moderenisasi negara serta menjadi ujung tombak tranformasi intelektual bangsanya.

Pertemuan ke-3

BAB 1

Pemahaman Tentang Sejarah: History

Pengertian Sejarah

Kata sejarah berasal dari bahasa Arab: Syajarah: Pohon kehidupan, akar, keturunan, dan asal-usul. Sejarah disebut histore (Prancis). Akar kata history berasal dari kata historia (Yunani).  Berbicara masalah sejarah tidak dapat dipisahkan dari cerita tentang peristiwa dan kejadian dalam dimensi waktu atau masa yang telah lalu. Dapat disimpulkan bhawasannya sejarah adalah cerita perubahan, peristiwa, dan kejadian masa lampau yang telah diberi tafsir.

Konsep Sejarah

Konsep dalam sejarah merupakan sebuah abstrasi atas peristiwa masa lampau umat manusia. Proses pembentukan konsep disebut dengan konsep tualisasi yang artinya membagi-bagi dan mengelompokan fenomena empiris atas dasar persamaan atau pembedaan.

Jenis-Jenis Konsep:

a.       Konsep Empiris: sesuatu yang di konseptualisasikan dapat dibuktikan dan diukur dengan data panca indra.

b.      Konsep Heuritis: konsep yang dianggap tidak nyata tapi digunakan untuk memberi gambaran mengenai pertalian empirid fan menintut riset. Cohtohnya kelompok dominan atau kelompok kepentingan dari ahli politik.

c.       Konsep Metafisik: Tuhan, sunnatullah, dan takdir adalah konsep metafisis karena harus diterima atas dasar keyakinan, dan konsep seperti ini tidak mempunyai rujukan atau petunjuk empiris.

Pentingnya Mempelajari Sejarah dan Ilmu Sejarah

Pentingnya Mempelajari Sejarah.

Sejarah sebagai cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari dan menerjemahkan suatu fenomena catatan yang dibuat perorang. Menurut filsuf bernama George Santayana, “mereka yang tidak mengenal masa lalunya, dikutuk untuk mengulanginya.” Yang bermaksud sangat pentingnya kita mempelajari sebuah sejarah atas apa yang terjadi di masa lampau, baik kenangan baik atau pahit. Mempelajari sejarah nyatanya sudah ada sejak zaman Yunani Kuno sampai sekarang.

Pentingnya Mempelajari Ilmu Sejarah

Ilmu dapat didefinisikn sebagai kumpulan pengetahuan ang disusun dengan sistematis dan mempunyai metode-metode untuk mencapai tujuan yang berlaku secra universal. Ilmu sejarah penting dipelajari karena memiliki hubungan timbal balik dan ada hubungannya dengan sosiologi, politik, ekonomi, antropoligi, hukum, dll. Ilmu sejarah merupakan ilmu yang data-datanya dihasilkan melalui metode yang dapat dipertanggungjawabkan.

Contohnya : revolusi Indonesia tidak dapat diulangi sebab peristiwa itu hanya terjadi satu kali. Lejadian tersebut meninggalkan fakta, sejarah, dan dokumentasi dibalik kejadian tersebut. Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa ilmu sejarah sebagai salah satuilmu yang bisa diverivikasi kebenarannya sehingga ilmu ini juga mempunyai sifat terbuka, artinya dapat dikritik.

Pertemuan ke-3 : Kisah Thermidorian Dalam Revolusi Indonesia

Sejarah terbentuknya Republik Indonesia modern. Sukarno, yang sedang demam sedari mengunggu Hatta datang, dengan desakan berbagai pihak untuk Soekarno segera membacakan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Namun Sukarno menolak, karena beliau terus menunggu sampai lima menit sebelum proklamasi sampai Hatta datang. Ada momen mengesankan dalam drama detik-detik proklamasi Indonesia. Sukarno dan Hatta adalah pemain utama pada saat proklamasi kemerdekaan dicetuskan. Kisah persekutuan kedua pimpinan revolusi ini melahirkan apa yang kemudian populer disebut sebagai dwitunggal yang menyatukan dua pribadi dengan cara dan gaya politik berbeda dalam “monumen sejarah yang tak bisa diganggu-gugat”, menjadi sebuah “simbol persatuan Indonesia yang tak terpisahkan” sepanjang revolusi Indonesia. Sejak dekade 1930an, keduanya telah berseteru dalam politik. Hatta menanggap gaya kepemimpinan dan sikap Sukarno yang percaya pada massa dan machtsvorming sebagai penyebab “seluruh pergerakan kiri menderita di bawah karena itu.” Bagi Sukarno, visi para pemimpin harus segera menjadi ‘kemauan’ di kalangan rakyat. Hatta dan Sjahrir, terlepas dari perlawanan mereka terhadap Sukarno, tidak pernah dapat melepaskan peran Sukarno dalam dinamika politik yang mereka mainkan sepanjang periode revolusi Indonesia. Sejak awal mereka menyadari bahwa proklamasi tanpa Sukarno bukanlah sebuah proklamasi. Ia adalah simbol tersendiri yang menjadikan ‘semua lapisan masyarakat Indonesia percaya akan realitas revolusi Indonesia’.

Konsepsi dwitunggal pada akhirnya menjadi satu kata dalam kamus bahasa Indonesia modern sebagai sesuatu yang dapat dibendakan. Sebuah konsep politik yang memang secara khas lahir dari periode revolusi Indonesia dan menjadi kata benda abstrak yang mewakili sesuatu di luar panca indera dan lebih diwakili dengan pikiran seperti kata ‘cinta’, dan memiliki makna dalam kamus sebagai ‘pasangan yang sangat erat dan kokoh antara dua hal (tokoh)’. Pada saat kelahirannya, konsep itu memang berguna bagi para pengikut dan para politisi di sekitar mereka dibanding bagaimana kedua sosok pimpinan tersebut saling memandang peran masing-masing. Di luar konteks revolusi, konsep itu menciptakan ‘citra sejarah baru’ dalam periode kekuasaan Orde Baru yang tidak ingin melihat kebesaran Sukarno dalam sosok individualnya. Politik de-Sukarnoisasi adalah ciri penting yang mewarnai era sejarah Orde Baru. Di bawah kekuasaan itu, tidak satu pun monumen, nama jalan, dan gedung yang menempatkan Sukarno sebagai pribadi dengan pikiran dan cita-cita politik tersendiri.

Di Indonesia, tidak dapat disangkal bahwa sejak pendudukan Jepang, para pimpinan utamanya telah menjadi bagian kekuasaan pemerintahan pendudukan Jepang. Sukarno adalah salah satu pemimpin terkemuka dari kalangan nasionalis yang dibutuhkan Jepang dalam membantu meraih dukungan rakyat atas politik mereka dalam Perang Pasifik, termasuk dukungan atas kekuasaan yang mereka raih setelah mengalahkan penguasa kolonial Belanda yang harus mundur sampai Australia sejak ekspansi Jepang di wilayah Timur Jauh dan Pasifik. Soekarno bersama pemimpin-pemimpin Indonesia lainnyapun tidak ada pilihan lain selain menerima tawaran Jepang untuk berkolaborasi. Ia menjadi tokoh penting yang terus bergerak menyuarakan kepentingan Jepang sebagai Saudara Tua dalam perang Asia Raya. Kolaborasi ini yang melekatkan kata ‘kolaborator’ bagi Soekarno dan menjadi batu sandungan tajam bagi dirinya untuk berperan besar sepanjang periode revolusi. Kompromi-kompromi dalam bentuk lain terus membayangi dalam tahun-tahun berikutnya yang menggerakan pendulum revolusi Indonesia dalam gerak ulangalik ke kiri dan ke kanan dan sudah barang tentu ada darah yang tumpah dalam setiap pergerakan pendulum itu. Kompromi itu pun bersinggungan dengan keadaan yang lebih dalam kancah politik internasional setelah kekalahan Jepang dalam periode Perang Pasifik.

III

Perang dan Revolusi adalah dua peristiwa yang saling berhubungan dan menjadi ciri peristiwa politik penting sejarah modern dunia sejak pecahnya Revolusi Amerika dan kemudian Revolusi Prancis, dengan dampak lebih besar pada dunia modern. Invasi militer Jepang dalam periode Perang Pasifik adalah jendela yang membuka akhir perjalanan angin sejarah kolonialisme dan imperialisme Barat di kawasan Asia Tenggara. Berbeda dengan penguasa kolonial sebelumnya, pasukan pendudukan Jepang yang membangun sebuah bentuk ‘pemerintahan tidak langsung’ melalui kerjasama mereka dengan elit-elit politik di wilayah pendudukannya, memberikan janji kemerdekaan resmi dibawah persemakmuran Jepang di negara-negara yang didudukinya. Pengakuan kemerdekaan ini dimulai di Burma tanggal 1 Agustus 1943, diikuti kemudian pemberian kemerdekaan Filipina tanggal 14 Oktober tahun yang sama. Sementara janji kemerdekaan untuk Indonesia dan Indochina tertunda beberapa tahun kemudian. Bagaimanapun, dalam pengalaman dua negara terakhir, sejarah menunjukan proses kemerdekaan yang lebih kompleks dan terjadi diluar skenario yang sebelumnya direncanakan Jepang. Pemerintahan boneka Jepang di Vietnam yang dibentuk tanggal 1 Agustus 1945, dengan mengangkat Pangeran Bao Dai dari Annam sebagai pemimpin pemerintahan, tidak dapat bertahan lama dari tekanan dan serangan organisasi pembebasan nasional Vietnam, Vietminh yang bergerak mengepung kota-kota besar di Vietanm sejak bulan Agustus 1945. Menyusul setelah kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik dan Ho Chi Minh mendeklarasikan Republik Demokratis Vietnam tanggal 2 September 1945. Tanggal 17 Agustus 1945, Sukarno dan Hatta atas desakan para pemuda mendeklarasikan kemerdekaan Republik Indonesia.

IV

Bagi kita dalam kehidupan kontemporer, suasana seperti ini mungkin mirip dalam pengalaman ketika para mahasiswa dan aktivis pro-demokrasi turun ke jalan dan menduduki gedung parlemen pada bulan Mei 1998. Gelora semangat anak-anak muda yang menuntut diakhirinya otoritarianisme pemerintahan Orde Baru berada dalam sebuah situasi ketika elemen kekerasan, utamanya tentara, masih berada dalam kontrol pemerintahan lama. Para pemimpin gerakan reformasi pada akhirnya harus menyadari bahwa negosiasi dan kompromikompromi adalah jalan terbaik dari situasi yang berkembang. Mereka pun perlahan menyarankan kepada para pemuda untuk tenang dan kembali ke kampus atau rumah masing-masing setelah beberapa hari menduduki gedung parlemen. Lemahnya suasana psikologis dalam periode awal revolusi merupakan bagian dari ‘situasi’ ketika revolusi Indonesia pertama kali bergulir.

V

Dalam setiap revolusi, persoalan kekuasaan adalah jantung utama dinamikanya. Bagaimana kekuasaan politik disusun dan dijalankan adalah agenda paling mendesak setelah golongan revolusioner mendeklarasikan agenda politik mereka. Naskah teks proklamasi kemerdekaan Indonesia memberikan contoh klasik ini. Dari segi ini pengalaman revolusi Indonesia menjadi tidak terlalu dramatis. Dibanding pembentukan negara baru dengan menghancurkan negara lama, revolusi Indonesia diawali dengan kontinuitas instrumen negara yang diwarisi sejak periode kolonial Belanda dan kemudian dipertahankan Jepang. Bahasanya ditandai dengan persoalan ‘peralihan kekuasaan dalam tempoh setjepattjepatnja’ mencerminkan bahwa struktur kekuasaan lama tidak mengalami perubahan sama sekali di dalam revolusi tersebut.

VI

Empat belas hari setelah proklamasi kemerdekaan, tepatnya tanggal 31 Agustus, dibentuk sebuah pemerintahan baru yang menjadi kabinet pertama dalam sejarah Republik yang masih muda. Ada 10 kementrian yang terdiri dari kementrian Luar Negeri, Dalam Negeri, Kehakiman, Bidang Ekonomi, Keuangan, Pendidikan, Sosial, Penerangan, Kesehatan, Perhubungan. Dalam pengalaman Indonesia, munculnya istilah sejarah Perang Kemerdekaan mengenai revolusi adalah perbandingan dari semangat ‘revisionisme’ dalam historiografi tentang revolusi seperti yang menjadi perdebatan di kalangan sejarawan tentang revolusi Prancis. Bagi kalangan sejarawan yang menolak posisi revisionisme, serangan mereka terhadap posisi Coban dan murid-murid serta pengikutinya seperti mengulang kembali serangan Paine terhadap Burke pada masa revolusi. Revisionisme tentang revolusi Prancis tidak lain adalah konservativisme a’la Burke dengan baju baru tentunya. Di Indonesia, pergeseran wacana revolusi Indonesia menjadi Perang Kemerdekaan sepertinya berjalan 26 dalam arus sama konservativisme politik dalam era pemerintahan Orde Baru. Tetapi berbeda dengan pengalaman Prancis, tidak ada perdebatan di kalangan sejarawan tentang ini berkait dengan kontrol kekuasaan yang turut mengkanonkan historiografi baru tersebut di dalam lingkup akademis dan juga didaktik mengenai sejarah modern Indonesia di sekolah-sekolah menengah.

VII

Tanggal 10 November 1945, Kementrian Penerangan kabinet pertama pemerintah Republik mengeluarkan sebuah boklet kecil berjudul “Perdjuangan Kita”. Penulis booklet itu adalah Sutan Sjahrir, seorang tokoh veteran pergerakan nasional anti-kolonial. Ketika sebuah organisasi mahasiswa di Belanda membentuk organisasi bersifat politik dengan menyebut nama Indonesia, Perhimpunan Indonesia, yang menjadi salah satu pimpinan Perhimpunan Indonesia di Belanda dan bergabung bersama Hatta membentuk Pendidikan Nasional Indonesia sebagai organ politik pergerakan bersifat kader di Indonesia. Agenda perundingan Sjahrir dalam apa yang dikenal sebagai perjanjian Linggarjati dianggap sebagai kapitulasi pemerintah Republik terhadap Belanda. Sjahrir pun harus melepaskan kedudukan sebagai Perdana Menteri dan Soekarno mengangkat orang baru menggantikan Sjahrir. Linggarjati dan kegagalannya tetap menjadi stigma tentang ‘kegagalan’ berdiplomasi kabinet Sjahrir dan termasuk dirinya pribadi dalam periode selanjutnya setelah Indonesia merdeka. Tetapi keharusan berunding dengan pemenang Perang Dunia II tetap menjadi sebuah kartu politik yang terus dimainkan dalam ajang revolusi Indonesia, dan menjadi penanda dari jatuh bangunnya pemerintahan dan sekaligus juga gerak revolusi yang semakin berdarah dalam tahun-tahun berikutnya.

VIII

Revolusi Indonesia bagaimanapun tetap menjadi salah satu fenomena menarik dalam sejarah dunia yang memberi serangkaian tantangan dalam memberi ciri atau label yang masuk akal untuk memahami dinamika yang terjadi. Sebelum membahas lebih lanjut tentang bagaimana drama yang saling susul-menyusul dalam kisah revolusi Indonesia, saya ingin terlebih dahulu mengantarkan sebuah skema umum yang sedikit banyak akan membantu meneropong dinamik revolusi dengan menggunakan pandangan dari atas—sebuah bird-view--yang dapat memberi sketsa umum tentang jalannya revolusi Indonesia. Kita bisa melihatnya dalam karya penting Kahin berjudul Nationalism and Indonesian Revolution (1952). Selain perbedaan antara revolusi Indonesia dan khususnya Revolusi Prancis di atas, ada juga perbedaan menarik dalam akhir karir antara Kahin dan Paine. Kahin tidak membawa pulang rasa melankolik ketika menulis Nationalism and Indonesian Revolution. Revolusi Indonesia sepertinya memang kembali pada ‘rel sebenarnya’ dan menghapus banyak impian. Mereka yang naik dalam panggung kekuasaan pasca-revolusi dalam paruh pertama Indonesia pasca revolusi adalah orang-orang dalam lingkaran persahabatan Kahin ketika ia menjadi bagian dinamika revolusi Indonesia. Ini adalah akhir rasional revolusi Indonesia bagi sebuah negara baru yang memerlukan pembangunan dan modernisasi atas segala keterbelakangan dibawah kolonialisme. Meski karyanya tidak mencapai kualitas Rights of Man dalam membangkitkan inspirasi membangun sebuah kehidupan baru, Nationalism and Indonesian Revolution telah menjadi karya penting mengenai sejarah Indonesia dan terus dibaca sampai sekarang. Ia meninggal sebagai orang terhormat dan meraih penghargaan bintang mahaputra dari pemerintah Indonesia.

IX

Tuduhan bahwa Sjahrir adalah wakil dari kekuatan posisi kapitulasionis dalam pengalaman revolusi Indonesia ketika berhadapan dengan Belanda dan Sekutu dalam perundingan, nampaknya menjadi terlalu berat sebelah apabila ditujukan hanya pada diri Sjahrir. Persoalan mendasar revolusi Indonesia sejak awal telah dirumuskan dengan cukup tepat oleh Sjahrir tentang bagaimana negara Republik baru berhadapan dengan para pemenang Perang Dunia II, dalam hal ini Amerika Serikat dan Inggris (dengan Belanda di dalamnya) untuk pengakuan de jure Republik Indonesia di dunia internasional. Posisi ini adalah posisi politik yang cukup konsisten dianut setiap kekuatan politik kanan dan kiri dalam pergerakan revolusi Indonesia. Persoalannya saat itu, yang menandai jatuh bangunnya pemerintahan, adalah sejauh mana perundingan memberikan formula yang menguntungkan bagi pemerintahan Republik pada saat itu, bukan penolakan pada perundingan itu sendiri.

XI

Sebuah anti-klimaks sesungguhnya dalam periode revolusi Indonesia mulai terjadi setelah kejatuhan Amir Sjarifuddin dari kedudukan Perdana Menteri dan sekaligus menteri pertahanan pada bulan Februari 1948. Jadi, bukan pada saat ketika proklamasi kemerdekaan dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945 seperti diuraikan dalam pengalaman Loebis pada bagian awal tulisan ini. Leclerc memberikan penafsiran terhadap kekalahan Amir (dan sekaligus kekalahan golongan kiri) sebagai bentuk kekalahan pribadi tanpa sebuah organisasi/partai pendukung yang kuat. Selain itu, Amir adalah sosok paling lemah dalam kuartet kepemimpinan revolusi Indonesia selain Sukarno, Sjahrir dan Hatta. Kemerosotan pengaruh politik Amir seiring dengan kedatangan Komisi Jasa Baik sejak akhir 1947 dipimpin utusan Amerika Serikat yang saat itu mulai berupaya membersihkan agenda dekolonisasi negara-negara baru dunia ketiga dari pengaruh komunisme internasional.

XII

Bagaimanapun ‘rasionalitas’ ini tidak bertahan lama. Memasuki dekade 1950an dan paruh 1960an, Sukarno tampil dalam pusat kekuasaan dengan seruan “revolusi belum selesai”. Sukarno tampil layaknya sosok radikal Jacobin yang menebar teror atas golongan kelas menengah yang mulai ingin menikmati karya revolusi mereka. Roberspierre baru dalam panggung pasca-revolusi sudah barang tentu tidak diinginkan. Ia menjadi gangguan atas rasionalitas perjalanan sejarah Indonesia dan harus diakhiri dengan kekuatan militer yang mengembalikan perjalanan sejarah Indonesia pasca-revolusi kepada ‘rel yang benar’: modernisasi dan pembangunan. Dalam dua tema kembar itu harapan kemajuan ekonomi dirumuskan bagi sebuah negara yang ketika lahir anggaran belanjanya tidak lebih besar dari satu universitas di Amerika Serikat. Bukan suatu yang mengherankan bila kemudian kelas menengah Indonesia saat itu menyambut hangat kehadiran Jenderal Suharto sebagai cara mengatasi kelelahan hidup dalam tahun-tahun Vivere Pericoloso. Bagaimana pun keluar dari situasi Vivere Pericoloso berarti adalah penciptaan sebuah inferno dalam sejarah Indonesia modern yang mewujud dalam bentuk pembantaian massal pada tahun 1965. Titik Inferno ini bergulir ketika dalam sebuah pidato yang disampaikan untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1959, Soekarno menyampaikan kilas balik tentang pengalaman revolusi Indonesia. Ia membuat sketsa tentang sejarah Indonesia yang dilukiskan dalam tiga tahapan sampai periode waktu ketika ia menyampaikan pidatonya. dibanding Paradiso, akhir era Soekarno lebih tepat dikatakan sebagai Inferno. Persekutuan antara kelas menengah dan angkatan darat dalam menghentikan Soekarno dan proyek ‘revolusi belum selesai’ menciptakan neraka yang mengerikan ketika ratusan ribu orang-orang komunis, dan mereka yang dituduh komunis, menjadi korban pembantaian massal arus balik revolusi Indonesia. Gelombang kekerasan dalam dimensi Thermidorian pada tahun 1965 melebihi kekerasan dalam pengalaman Peristiwa Madiun 1948 yang menelan korban di kalangan komunis dan juga kelompok anti-komunis. Hampir sejuta orang-orang komunis, pendukung dan mereka yang dicurigai komunis dibunuh. Jutaan lainnya masuk dalam penjara tanpa pengadilan dan proses hukum. Sebuah reaksi Thermidorian yang lebih mengerikan dibanding negeri asalnya di Prancis.

XIII

Revolusi Indonesia adalah keadaan baru yang dipresentasikan dalam sebuah situasi yang belum dikenali bentuk presentasinya dan juga belum dikenal pengetahuan tentang keadaan itu oleh mereka yang ada di dalamnya, tetapi ia terjadi dan terus bergerak. Di dalamnya kita mendapatkan sosok-sosok dalam revolusi dengan fidelity masing-masing membentuk rangkaian prosedur yang menciptakan kemungkinan tak terhingga dan tak terduga sebelumnya tentang apa yang akan terjadi dalam peristiwa revolusi. Sukarno dan Hatta melanjutkan kerja mereka dalam panggung politik pascarevolusi dan saling berpisah jalan. Sukarno ingin terus membawa gelora revolusi, Hatta ingin semua berhenti dan memulai kerja yang lebih teratur.

Tetapi di sini ada pertanyaan besar tentang bagaimana makna revolusi dalam perjalanan sejarah modern Indonesia? Apa hasil-hasilnya bagi masyarakat Indonesia setelah revolusi?

Ada pertimbangan ekonomi politik dari kekuatan-kekuatan yang terlibat dalam gelombang revolusi Indonesia. Belanda jelas menginginkan jaminan kelanjutan keuntungan para pengusaha mereka dari modal yang telah ditanam dalam usaha-usaha perkebunan besar. Kalangan aristokrat pun merasa cemas atas peristiwa yang terjadi di Sumatera Timur melalui pembunuhan terhadap Sultan Mahmud dan keluarganya yang dianggap pro-Belanda di tangan laskar pro-republik. Jadi tarik-menarik antara kemapanan di satu sisi dan ketidakpastian di sisi lain telah membentuk gejolak revolusi Indonesia. Kedaulatan rakyat melebihi bayangan dan imajinasi para elite politik pada akhirnya membentuk sebuah konsolidasi di kalangan elite itu sendiri, terutama dari golongan konservatifnya, untuk segera menghentikan melubernya kedaulatan rakyat itu yang sekaligus menghentikan dinamika revolusi. Catatan sejarah menunjukan bahwa revolusi Indonesia pada akhirnya menampilkan riwayat kemenangan kemapanan dalam menghancurkan ketidakpastian dan keonaran. Kisah Thermidorian dua abad sebelumnya membayangi sejarah revolusi Indonesia. Tragedi Sukarno pada tahun 1965 seperti mengulangi masamasa ketika para pemimpin Republik yang memegang kendali pemerintahan harus menghentikan gelombang daulat rakyat di Tiga Daerah, oposisi militan dan radikal Tan Malaka pada tahun 1946, dan penghancuran kekuatan komunis pada tahun 1948 di Madiun ketika kekuatan dunia internasional.

XIV

Watak Thermidorian dalam pengalaman revolusi Indonesia dalam lanskap yang lebih umum.  Reaksi Thermidorian adalah salah satu bentuk ketakutan atas munculnya partisipasi rakyat dalam gelora revolusi dan potensi kekerasan di dalamnya. Sebuah ketakutan elite terhadap ‘ekses’ daulat rakyat. Latar belakang mereka yang mapan dan corak elitis dalam aksi berpolitik menuntut diakhirinya partisipasi rakyat tersebut, terlepas cara mengakhirinya menuntut gelombang kekerasan lain yang lebih sistematis tapi lebih menghancurkan dibanding kekerasan popular. Dalam periode revolusi Indonesia kita telah mendapatkan gambarannya. Dua dekade selanjutnya, ketika Sukarno yang merasa resah dengan kemandekan politik Indonesia menyerukan mobilisasi massa dalam melanjutkan ‘revolusi yang belum selesai’, kalangan kelas menengah merasa perlu menghentikan Sukarno yang tampil sebagai Jacobin radikal. Tanpa segan mereka menghentikannya di tahun 1965 walau harus bersekutu dengan kekuatan militer dan banjir darah di perdesaan Indonesia. Dari sudut ini, sejarah Indonesia (pasca-revolusi) adalah cerita tentang kemenangan konservativisme dan kemapanan dalam hasil akhirnya. Memang benar, revolusi bukan sebuah pesta makan malam dari segi apapun.

Pertertemuan ke-3 : Metodologi Strukturistik Dalam Historiografi Indonesia: Sebuah Alternative.

            Dalam konteks historiography, posmo terkiat khususnya se agai tantangan terhadap hak-hal konvesional seperti fakta, objectivity, dan kebenaran. pendekaran spentis dari teori posmo mempersoalnab validitas mutlaj ketiga konsep tersebut. Objektivias adalah prinsip yang ditanamka  dalam diri sejarahwan akademis sejak starata satu. Teori dan metedologi manapun tidak pernah sempurna dalam menjelaskan objek dan masalah penelitian. Sejarahwn diuntungkan oleh karena boleh menerapkan lebih dari satu teori dalam kanjiannya. Yang mana eberapa teori dapat digunakan dalam kerja metodologi strukturistik. Dan penggunaan metodologi tergantung ada apa yang akan di analisis. Sejarah harus dilihat dalam konteks kritis,dan kubu dekonstruksi maupun revisionis sangat berguna atas pandangan sempit dalam metedologi. Serta bagaimana sejarahwan harus dituntut untuk meningkatkan kemampuann kerangka teoretik dan metodologik dengan oenggunaan sumber yang bergaam sesuai problem kajian yang dihadapi. Mempublikasikan kajian yang lebih banyak, agar dapat menjadi bahan histrografis yang lebih komprehensif. Dan terakhir adanya forum diskusi  erma,a khusus membicarakan masalahmasalah teori dalam metodologi sejrah. Metodologi strukturistik dapat melayani bebrapa teori sekaligus. Penedekatan ini juga dalam menjelaskan perubahan sosial tidak lagi cukup. Pendekatan ini lebih banyak menekankan peran aktif masyarakat dalam merubah strtuktur sosial, tentang bagaimana masysrakat masa lalu menghadapi sebuah perubahan, sehingga dapat dipelajari hingga saat ini. metodologi strukturalistik mengaggap struktur sebagai realiyas karena sejumlah peran baik individu ataupun kelompok  sosial.

 

Pertemuan ke-4 : Sejarah Politik

Sejak Thucdides menulis Perang Pelopenesia sebagai sejarah politik, abad ke 19 sebagai abad nasionalisme dan formasi negara nasional di Eropa Barat. Sejarah politik sebagai sejarah dengan gaya baru memalai pendekatan ilmu-ilmu sosial dan dengan demikian tidak hanya memperluas cakrawala politik, tetapi uga membuat perpektif politik lebih komprehensif dan multidimensional mencakup imterdependeso proses politik dengan jaringan sosial, sistem ekonomi, sistem nilai, dll.

Polity sebagai pola distribusi kekuasaan dalam masnyarakat ada korelasinya dengan struktur sosial serta sistem aringan hubungan sosial dalam masyarakat. Pendektan sistem hanya dipakai sebagai alat untuk mempertajam analisis dengan memperhitungkan aspek-aspek proses politik serta saling pengaruh mempengaruhi di antara aspek itu. Sejarah politik analitis lebih mampu mengungkapkan berbagai aspek proses politik itu uamh senantiasa terjadi dalam kerangka struktural kekuasaan atau jaringan hubungan sosial. 

Pertemuan ke-4 : Perkembangan Teori Sejarah

Teori dalam sejarah biasanya dinamakan kerangka referensi atau skema pemikiran. Atau perangkat kaidah yang memandu sejarahwan dalam penelitiannya dalam menyusun bahan-bahan data yang diperolehnya dari analisis sumber. Hakikat teori sejarah adalah gerak yang tumbuh dan berkembang secara evolusi karena menggambarkan peristiwa sejarah masa lampau secara kronologis.

Ragam Teori Sejarah:

a.       Hukum Fatum

b.      Teori St. Agustinus

c.       Teori Challenge and Responces Arnold J. Toynbee

d.      Teori Progresif Linear Ibnu Khaldun

e.       Teori Sejarah William H. Frederick

f.       Teori Sejaran Murthadha Muthahhari

g.      Teor Hegel

h.      Teori Karl Marx (1818-1883)

i.        Heolithic Theory

j.        Teori Cultural Revolution

k.      Teori Cultural Change

l.        Pandangan Sejarah G.Vico

m.    Teori Sejarah Oswald Spengler

n.      Teori Sejarah Patirim Sorokin

Pertemuan ke-5 : Penafsrisran Sejarah (Interpretasi)

Interpretasi harus berbicara sendiri, mengiraikan fakta-fakta sejaran dan kepentingan topik sejarah, serta menjelaskna masalah keinian. Interpretasi didasarkan pada tiga argumenyakni:

a.       Selalu ada interpretasi yang tidak sesuai dengan laporan sejarah yang disepakati.

b.      Ada beberapa interpretasi yang memerlukan sejumlah hipotesis yang bersidat membantu jika hendak bebas dan falsifikasi yang dilakukan oleh laporan.

c.       Ada beberapa intrepetaso yang tidak mampu megubungkan fakta-fakta yang dapat dihubungkan oleh interpretasi lain.

Hal ini juga sering disebut juga dengan analisis sejarah yang menguraikan secara terminologi yang berbeda sintesis yang berarti menyatukan. Faktor yang mempengaruhi penafsiran sejarah yakni perbedaan cara berpikit manusia yang diperngaruhi oleh pandangan hidupnya. Sejarah tidak sama dengan ilmu-ilmu pengetahuan alam sehingga tidak mengherankan apabila banyak masalah yang menyangkut objektivitas penafsirannya. Kwlwmahan dari model penafsiran sejarah hanya mengkaji satu gejala atau fenomena sosial tumggal sebagai penyebab terjadinya perwistiwa sejarah. 

Menurut Garraghan ada lima jenis interpretasi:

a.       Interpretasi Verbal: bahasa, perbendaharaan kata (vocab), tata bahasa, konteks, dan terjemahan.

b.      Interpretasi Teknis: tujuan penyusunan dokumen dan bentuk tulisan persisnya.

c.       Interpretasi Psikologis: tentang dokomen yang merupakan usaha untuk membacanya melalui kacamata pembuat dokumen untuk memperoleh titik pandangannya.

d.      Interpretasi Logis: yang didasarkan atas cara berpikir logis atau cara berpikir yang banar.

e.       Interpretasi Faktual: tidak didasarkan atas kata-kata, tetapi terhadap fakta.

 

Pertemuan ke-6 : Teori Revolusi dalam Analisa Sejarah

A. Anatomi Revolusi Menurut Crane Brinton

Menurut Crane Brinton, revolusi adalah peristiwa perubahan yang terjadi secara besar-besaran dalam waktu yang sangat singkat. Perubahan itu dapat meliputi aspek politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Ia memberikan contoh mengenai revolusi dari beberapa peristiwa revolusi di dunia, seperti Revolusi Inggris, Revolusi Amerika, Revolusi Prancis, dan Revolusi Rusia. Setelah melakukan analisis secara mendalam mengenai keempat peristiwa itu, ditemukan gambaran mengenai anatomi sebuah revolusi. Dengan melihat anatomi revolusi,mkita dapat melakukan eksplanasi mengenai causal mechanisim yang telah menggerakkan sebuah revolusi. Dalam paridangan Crane Brinton, revolusi terjadi karena | digerakkan oleh orang atau sekelompok orang yang revoiusioner yang mempunyai interest yang sama. Gerakan revolusi pada umumnya dipusatkan pada penggantian orang atau kelompok pemegang kekuasaan oleh orang atau kelompok oposisi yang menjadi lawan dari penguasa. Pergantian kekuasaan melalui revolusi biasanya dilakukan dengan cara kekerasan, teror, atau pemberontakan.

1.      Causal Mechanism

Dari keempat revolusi yang pernah terjadi di dunia, baik Revolusi Inggris, Revolusi Prancis, Revolusi Amerika, dan Revolusi Rusia revolusi besar terjadi karena faktor ekonomi, faktor politik, sosial, dan pemeikiran intelektual.

2.      Langkah Menuju Revolusi

Tahap awal menuju revolusi ditandai dengan munculnya berbagai kevaman yang sangat gencar dan keras terhadap tindakan sewenang-wenangan pemerintah yang berkuasa.

3.      Karakter Kaum Revolusioner

Kaum Revolusioner mempunyai beberapa karakter, yang salah satunya adalah idealis, yang mana karena ini mereka mempunyai ide dan konseo bagaimana caranya menagmbil alih kekuasaan memalui gerakan revolusi. Dan gerakan revolusioner menurut  sosiologis dapat dikategorikan sebagai gaksi sosial yang dibedakan dalam empat bentuk.

a.       Interaksi Perseorangan

b.      Aksi Kolektif

c.       Aksi Berpola

d.      Aksi Politik

Pertemuan ke-7 : Nasionalisme dan Revolusi Indonesia

Surat kabar Indonesia yang pertama adalah Berita Indonesia yang mulai terbit 6 September 1945. Selain surat kabar terdapat pres-pres yang juga sama pentingnya.

10. Soekarno, PNI dan Perhimpunan Indonesia: Gerakan nasionalis Indonesia dengan cepat meningkat pada tahun 1927 dengan diririkannya PNI. Pada tanggal 4 Juli 1927 terdapat pemuda yang mendirikan sebuah Perserikatan Nasional Indonesia. Yang diketuai oleh Soekarno. Pada tahun 28-29 para pemimpin PNI verusaha keras menciptakan sebuah organisasi yang kuat. Organisai-organisasi muda banyak yang terpengaruh oleh PNI, dan salah satu peristiwa pentingnya adalah sejarah gerakan nasional adalah kongres Pemuda Indonesia yang diadakan di Batavia. Dimana para delegasi mengucapkan suatu sumpah satu nusa, satu bangsa, satu bahasa.

11. Koperator dan Non-Koperator; Kegiatan Politik Nasionalis di Tahun 1930-an: tahun 1934 penguasa kolonial bertindak terhadap organisasi-organisasi politik nasionalis di Indonesia. Tidak mungkin ada perbedaan yang lebih besar dari masa-masa sejarah Indonesia modern, daripada mas-masa antara tahun 1930-an dan era pendudukan Jepang serta revolusi. Dalam tahun 1935 sampai 1942 Indonesia, partai-partainya menjalankan taktik parlamanter yang moderat.

12. Terbentuknya Seorang Revolusioner: Satu orang yag menganggungkan diri dengan partindo di Pemantang Siantar adalah seorang pemuda bernama Adam Malik. Yang menyaksikan secara langsung bagaimana kehidupan buruh di Sumatera.

17. Saat Yang Menentukan: tahun 1980an daerah jajahan gaya lama sebagaian besar telah lemnyap, dan lebih dari 160 negara yang berdaulat untuk PBB. Kemerdekaan Indonesia tampakya tidak luar biasa.

18. Penulisan Proklamasi: kejadian pada tanggal 15, 16, dan 17 Agustus 1945 adalah peristiwa yang penting untuk Indonesia. Adam Malik adalah seorang pemuda aktivis, yang kemudian akan menjadi seornag tokoh utama dalam kehidupan politik bangsanya. Shigetada Nishijima sebagai pembantu dan penerjemah bagi laksamana Maeda dan sebagai seorang yang bersimpati dengan Nasionalisme Indonesia. Wangsa Wijaya juga berada dirumah Laksamana Maeda pada tanggal 16 Agustus, malam. Tanggal 17 Agustus 1945 kata-kata yang sangat berarti bagi bangsa Indonesia arena dalam sejarah modern diucapkan dihadapan sejumlah kecil patriot-patriot terkemuka.

26. Peranan Militer dan Diplomasi Dalam Perjuangan: Perjuangan di pusat dilancarkan didua front, diplomasi, dan militer. Tanpa diplomasi, para pejuang tidak dapat akan menang. Tanpa para pejuang, diplomat tidak akan mempunyai suara yang meyakinkan. Tahap terakhir perjuangan kemerdekaan Indonesia mulai dengan menrahnya jepang dalam bulan Agustus 1945 dan berlangsung sampai penyerahan kedaulatan oleh Belanda dalam Desember 1949.

27. Pemuda Revolusi: tahap-tahap terakhir perjuangan setelah ambruknya kekuasaan Jepang, merupakan cerita interaksi antara diplomasi dan peperangan. akan tetapi dibelakang laum politis dan para prajurt profesional terdapat massa pemuda yang tidak sabar yang menjdesak generasi yang lebih tua agar maju dengan semboyan, “Merdeka atau Mati.”

30. Diplomasi Internasional Bagi Kepentingan Revolusi: republik baru itu mempunyai banyak simpatisan dan kawan di kalangan bangsa-angsa di dunia dengan menggunakan, diplomasi yang pintar lawan-kawan ini berhasil didorong untuk menyokong republik sehingga pendapat umum dunia dapat dikerahkan.

31: Fase Kedua; Kemenagan terakhir Juli 1947 sampai 1950: dengan semakin cepatnya gerak maju revolusi, pada tanggal 17 Agustus 1950 Indonesia pada hakikatnya telah menjadi republik Kesatuan yang merdeka seperti yang diproklamiran lima tahun sebelumnya dan yang telah menjadi impian selama setengah abad.

32. Republik Di Bawa Kepungan: Dari bulan Januari 1946 sampai Desember 1948 terdapat dua pemerintah d Indonesia. Pemerintah Hindia Belanda di Jakarta dan Pemerintah Republik Indonesia di Jogja. Seababnya Jogja dipilih ialah untuk sebagian karena reputasi dan wibawa satu orang, yaitu pengurus tradisonalnya.

33. Sebuah Pandangan Pribadi Tentang perang Kemerdekaan: Daalam tahun 1948 di Jogja terdapat seorang mahasiswa pemuda Amerika yang telah bertemu dengan sebagian tokoh revolusioner terkemuka.

34. Pemerintah Darurat: Ketika Jogja jatuh ke tangan pasukan-pasukan Belanda dan para pemimpon pemerintahann republik ditangkap, Belanda mendakwa bahwa riwayat republik telah berakhir. Namun sementara sahabat revolusi lain di luar negeri mempersoalkan keputusan belanda untuk memaksakan kehendaknya dengan kekerangsan senjata. Pemerintahan Darurat didaerah Sumatera yang dikuasai republik. Pemimpin dari pemerintahan itu adalah seseorang yag diwaktu mudanya adalah pro-Belanda, yakni Syarifuddin Prawirangeara.

35. Sebuah Pandangan Belanda Tentang Perjuangan: perjuangan yang lebih dari empat tahun dan untuk mrnyamakan sebagai suatu perang saudara timbul pertanyaan mengapa hal itu bisa terjadi. Pihak republik dan Belanda mempunyai tujuan yang samauntuk menciptakan Indonesia yang merdeka dan bebas menentukan nasibnya sendiri.

36. Beberapa Pandangan Tentang Perjuangan: Apakah yang menyebabkan perjuangan kemerdekaan berhasil? Terdapat pertanyaan jalan untuk menyusun perjuangan yang radikal, revolusioner dan menolak segala perundingan. Implerealisme, kolonialimse, dan kapilatisme tidak akan pernah bersedia mencapat target kompromi untuk mrnyusun perjuangan.

Etnis Tionghoa Pasca Orde Baru dan Politik Identitasnya

Etnis Tionghoa Pasca Orde Baru dan Politik Identitasnya             Etnisitas adalah sekelompok manusia yang memiliki kesamaan latar b...