Rabu, 08 Maret 2023

KONFLIK INTERNAL PARTAI POLITIK DI INDONESIA STUDI KASUS PARTAI DEMOKRAT

 

KONFLIK INTERNAL PARTAI POLITIK DI INDONESIA

STUDI KASUS PARTAI DEMOKRAT

Abstrak

Dewasa ini, banyak sekali terjadinya permasalahan internal yang melibatkan beberapa partai politik di Indonesia. Salah satunya dari Partai Demokra. Selepas demisioner  peran sang ayah Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Umum periode 2015-2020, dan digantikan dibawah kepemimpinan anaknya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Banyak timbul konflik internal partai yang terjadi. Dari mulai isu kudeta, permasalahan Agus Harimurti Yudhoyononya sebagai Ketua Umum, dan kasus korupsi yang menjerat  para kader demokrat. Metode yang penulis gunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan didukung dengan studi pustaka. Dan yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui penyebab terjadinya masalah pada Partai Demokrat.

Kata Kunci :

Partai Demokrat, Konflik Internal Partai, Partai Politik.

Abstract

Today, there are many internal problems involving several political parties in Indonesia. One of them is from the Democratic Party. After the demise of his father Susilo Bambang Yudhoyono's role as General Chair for the 2015-2020 period, and was replaced under the leadership of his son Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Many internal party conflicts have occurred. Starting from the issue of the coup, the problem of Agus Harimurti Yudhoyono as the General Chair, and the corruption case that ensnared the democratic cadres. The method that the author uses in this research is a descriptive method with a qualitative approach and is supported by a literature study. And the focus of this research is to find out the causes of problems in the Democratic Party.

Keywords :

Democratic Party, Internal Party Conflict, Political Party.

PENDAHULUAN

Pada masa reformasi setelah tumbangnya rezim Soeharto disinilah mulai terbentuk ruang bebas mengekspresikan aspirasi dan kepentingan politik, yang dari kebebasan akan hal inilah yang memicu lahirlah partai politik baru dan memunculkan kembali partai politik lama. Praktik demokrasi mengawali kebebasan untuk berbicara, dan berpendapat. Dengan adanya kebebasan berbicara tidak terlepas dengan dinamika politik, jika dinamika politik tidak dibenahi oleh aturan pemerintah yang baik, maka akan memicu terjadinya sebuah konflik. Semua elemen pemerintahan bahkan tidak bisa lepas dengan keterlubatan partai politik di dalamnya. Adanya infrastruktur dan suprastrruktur merupakan bagian dari kehidupan ketatangeraan dan politik. Partai politik adalah wadah sebagai titik temu sebuah kepentingan yang seringkali memicu terjadinya konflik. Menurut pandangan Marck dan Synder terjadinya konflik atau perpecahan dalam tubuh partai bisa timbul dari kelangkaan posisi dan resources, yang tidak sedikit terjadinya persaingan diantara mereka dalam memperebutkan suatu oposisi di partai tersebut. Diketahui juga bahwasannya selama masa penjajakan reformasi, partai-partai politik di Indonesia memang sering mengalami perpecahan yang ada kaitannya dengan masalah internal partainya. Bahkan tidak sedikit juga partai yang terpecah belah karena peranan kepengurusan ganda yang bermunculan. Seringkali hadirnya kepengrusuan ganga akibat masalah perbedaan yang terjadi karena memiliki perbedaan dalam dukungan koalisi pemerintahan pada Pemilihan Umum Presiden. Pemicu dari terpecahnya juga karena masing-masing anggota pemiliki kepentingan politik sendiri. Namun hal ini tidak berlaku dengan Partai Demokrat, karena masalah internal yang terjadi bukan karena adanya peranan ganda, melainkan berasal dari kader-kadernya sendiri.

Sesuai dengan Ilmu Hukum, Partai Politik adalah elemen terpenting dari hukum tata negara, terlebih Indonesia adalah negara hukum, bukan sebuah negara kekuasaan. Membicarakan partai politik, itu berarti dengan kita membahas tentang peranan masyarakat dalam memnentukan kebijakan, serta peran rakyat dalam membuat peraturan perundang-undangan[1]. Karena negara Indonesia adalah negara hukum, dan bukanlah negara kekuasaan, maka pentingnya peranan partai politik dilihat dari pandangan Undang-Undang Dasar 1945.

Selepas mundurnya Presiden Kedua Republik Indonesia, yakni Soeharto pada 21 Mei 1998, lalu digantikan oleh B.J Habibie. Munculah kebijakan baru, yang dikenal dengan masa reformasi. Semasa terjadinya masa reformasi banyak sekali kebijakan yang berubah pada negeri ini, termasuk dengan hadirnya kemudahan untuk membangun partai politik baru. Dan semasa jabatan B.J Habibie sendiri banyak terjadinya berubahan menuju ke masa reformasi, yang juga mencakup disegala bidang, mulai dari sosial-ekonomi serta meningkatkan sistem demokrasi. Pada masa pemerintahan dari B.J Habibie inilah mulai adanya wacana pendirian partai politik yang baru, dan pada saat itu sudah diakui dari tiga partai, sebagai berikut:

a.       Partai Persatuan Pembangunan (PPP),

b.      Partai Demokrasi Indonesia (PDI),

c.        Golongan Karya (Golkar).

 

Lalu ada tambahan partai politik baru sebanyak 48 Partai Politik. Dan pada akhirnya golongan-golongan dari partai politik tersebut turut andil dalam meramaikan pesta demokrasi pada pemilihan umum pertama era reformasi, yakni pada tanggal 7 Juni 1999. Setelah berlangsungnya pesta demokrasi ini, peranan partai politik semakin melihatkan cahayanya, terutama dalam kebijakan-kebijakan negara yang mulai  coba diatur oleh partai politik itu sendiri, yang nantinya juga memberikan masukan kepada Presiden. Karena peran partai politik saat itu yang bersifat sentral, strateggis, serta signifikan. Oleh karena hadirnya partai politik inilah membuat pelaksanaan roda pemerintahan berjalan dengan baik, termasuk dari pemerintah pusat ke pemerintahan daerah, dari pemerintah daerah ke masyarakat, dan dari masyarkat untuk masyarakat. Tujuan lain dari hadirnya partai politik saat itu juga digunakan sebagai wadah dalam kontrol sosial untuk penyampaian aspirasi masyarakat.

Partai Demokrat sendiri adalah partai baru, yang didirakan pada 9 September 2001 dan disahkan pada tahun 27 Agustus 2003. Partai Demokrat sangat erat sekali hubungannya dengan Sosilo Bambang Yudhoyono. Partai Demokrat juga baru mengikuti proses pemilihan umum di tahun yang sama. Pada masa proses pemilihan umum, Partai Demokrat yang sebagai partai baru juga berhasil unggul dari Partai Keadilan Sejahtera atau PKS. Dan semua peranan ini tidak bisa bohong karena hadirnya faktor pendukung dari semua ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono dan pada saat proses pemilihan umumpun rakyat memegang harapan lebih terhadap Partai Demokrat untuk bisa berkontribusi dalam mengelola bangsa ini dengan baik lagi.

 

Rumusan Masalah

a.       Apakah yang melatarbelakangi terjadinya masalah internal pada Partai Demokrat?

 

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan didukung dengan studi pustaka. Sumber data adalah benda, hal atau orang tempat penulis mengamati, membaca, atau bertanya tentang data[2]. Dan yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah penyebab apa yang terjadi dalam Partai Demokrat sehingga adanya konflik internal yang membuat citraa demokrat semakin buruk. Terkait soal isu yang sarak terdengar tentang kudeta pada kongres luar biasa (KLB) yang terjadi di Deli Serdang. Dan apakah dengan adanya isu kudeta ini membuat kinerja partai demokrat semakin menurun? Atau apakah dengan masalah ini nantinya akan berpengaruh pada pemilihan umum nanti? Terlebih partai demokrat sendiri telah ada selama 17 tahun dalam memeriahkan sistem perpolitikan di Indonesia. Selanjtnya, dari bahan bacaan yang sudah di peroleh oleh penulis yang nantinya akan di analisis, terkait dengan judul yangg dibahas. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode kualitatif yaitu dengan mendeskripsikan  serta  menganalisis data yang telah diperoleh yang selanjutnya dijabarkan dalam bentuk penjelasan yang sebenarnya. 

 

Tinjauan Pustaka

Penelitian serupa mengenai pembahasa ini adalah tentang Konflik Internal Partai Demokrat, Menurut Lewis A Coser konflik yang terjadi didalam masyarakat tidak semata-mata menunjukan fungsi negatifnya saja, tetapi dapat pula menimbulkan fungsi positif. Oleh karena itu konflik bisa menguntungkan bagi sistem yang bersangkutan.[3] Dan bagi Coser konflik merupakan salah satu bentuk interaksi dan tak perlu diingkari keberadaannya. Teori konflik dikonsepkan sebagai siste sosial yang bersifay fungsional, Selama manusia hidup, pasti tidak terhindar dari yang namanya konflik, baik permaslahan besar hingga permasalahan kecil. Konflik bisa terjadi pada individu, keluarga, dan kelompok organisasi. Dalam Partai Politik konflik biasanya cenderung meliputi permasalahan oposisi, berbenturan antar opini para kader, antagonstis dan pertentangan, serta perselisihan kurang mufakat. Selanjutnya menurut Maswadi Rauf konflik adalah sebuah gejala sosial yang selalu terdapat dalam setiap masyarakat dalam setiap kurun waktu.[4] Konflik yang terjadi pada Partai Demokrat merupakan salah satu jenis konflik kepentingan karena diakibatkan dari beberapa faktor kepentingan dalam upaya seseorang untuk memperoleh otoritas dan kekuasaan yang bersinggungan. Dengan adanya konflik yang terjadi dalam internal partai, akan menyebabkan dampak negatif seperti: munculnya dominasi siapa yang paling berkuasa di lingkungan internal, dan keretakan individu serta kelompok yang juga berdampak pada integritas partai politik itu sendiri. Menurut Ramlan Subakti Teori konflik adalah suatu cabang imu sosial yang menekankan ketimpangan sosial dari suatu kelompok sosial, bahwa sebenarnya ruang lingkup dari pembahasan teori ini cukuo luas, yang membahas juga tentang sosio-politik. Teori konflik lebih menekankan beberapa persoalan saja, sepeti: konflik kelas, perbedaan kekuasaan, serta perbedaan ideologi. Hadirnya “konflik” dalam kehidupan sosial berarti benturan kepentingan, keinginan, pendapat, dan lain-lain yang paling tidak melibatkan dua pihak atau lebih.[5]

Terdapat tiga sumsi utama yang saling berkaitan satu sama lain mengenai teori konflik menurut Wallase dan Alison, yakni:

1. Manusia memiliki kepentingan-kepentingan yang asasi dan mereka berusaha untuk merealisasikan kepentingan-kepentingannya itu,

2. Power bukanlah sekedar barang langka dan terbagi secara tidak merata sebagai sumber konflik, melainkan juga sebagai sesuatu yang bersifat memaksa (coercive). Sebagian menguasai sumber, sedangkan yang lainnya tidak memperoleh sama sekali,

3. Ideologi dan nilai-nilai dipandangnya sebagai senjata yang dipergunakan oleh berbagai kelompok yang berbeda untuk meraih tujuan dan kepentingan mereka masing-masing.

 

Partai politik adalah salah satu wadah yang digunakan masyarakat sebagai media untuk menyalurkan aspirasinya dalam sistem demokrasi bangsa. Partai politik juga tidak asing lagi ditelinga masyarakat Indonesia. Partai politik juga merupakan respresentasi dari ide yang harus ada dalam kehidupan politik yang moderen. Adapun fungsi dari partai politik itu sendiri, sebagai: Sarana Sosialisai Politik, Saraana Rekuitment Politik, Sarana Agregasi Politik, dan sebagai Sarana Pengatur Konflik yang terjadi. Sebagai negara yang menganut sistem demokrasi. Indonesia, memilki berbagai partai politik, salah satunya Partai Demokrat. Tidak bisa dipungkiri bahwa hadirnya konflik dalam sebuah organisasi kenegaraan adalah permasalahan utama yang tidak ada selesainya, dengan maksud pasti akan tubuh selalu permaslaahan yang terjadi, yang tidak luput dari sortan media masa. Hal ini karena lembaga politik adalah wadah aspirasi masyarakat, yang ada hubungannya dengan kehidupan masyarakat bernegara.

Dan salah satu instansi pemerintahan yang akan penulis bahas terkait dengan masalah internal adalah Partai Demokrat. Konflik internal yang terjadi pada partai demokrat menjurus langsung kepada Ketua Umum Partai Demokrat yakni Agus Harismurti Yudhoyono. Penelitian serupa mengenai pembahasan ini adalah tentang konflik internal partai. Jika konflik terjadi pada partai politik, maka hal ini dapat berpegaruh pada berkurangnya kepercayaan masyarakat kepada partai politik, karena partai politik adalah  wadah untuk menanmpung aspirasi masyarakat bernegara.

 

PEMBAHASAN

Partai Demokrat terbentuk secara resmi pada tahun 2001, dan resmi didaftarkan ke  Departemen Kehakiman dan HAM RI pada 10 September 2001. Pada tahun 2004 adalah masa dimana Indonesia baru melakukan pemilihan legislatif yang dipilih oleh rakyat secara langsung. Partai Demokrat berhasil menduduki peringkat ke-lima dengan memperoleh suara sebanyak 7.45% atau sekitar 8.455.225 dari total suara, serta berhasil mendapatkan kursi di DPR sebanyak 57 kursi. Selanjutnya pada pemilu legislatif tahun 2009, pada masa ini menjadi era kejayaan dari Partai Demokrat dibawah kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono, Partai Demokrat juga berhasil memenangkan pemilihan umum legislatif dengan memperoleh 150 kursi (26.4%) serta memperoleh suara 21.703.137 (20.4%) suara dan menjadi the ruling party. Sedangkan pada peemilihan legilatif di tahun 2014, Partai Demokrat mengalami penurunan dengan menduduki posisi keempat dari total 10 partai yang ada di DPR dan memperoleh suara sebanyak 10.19% (12.728.913) dari total suara. Dan mengalami penurunan drastis pada tahun 2019. Dari ke sembilan partai yang ada di DPR, Partai Demokrat menduduki posisi ketujuh dengan peeolehan suara sebanyak 7.77% (10.876.507) dari totaal suara. Kemudian terjadilah Kongres Ke-V Partai Demokrat pada tanggal 15 Maret tahun 2020, yang menjadikan Agus Harimurti Yudhoyono atau lebih dikenal dengan sebutan AHY terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Umum Partai Demokrat periode 2020-2025. 

Pengendali konflik merupakan salah satu fungsi dari partai politik. Namun, dalam konteksnya partai politik di Indonesia justru fungsi itu tidak bisa dijalankan dengan baik oleh hampir semua partai politik yang ada hingga saat ini. Dikatakan demikian karena hampir semua partai politik, baik yang partai besar maupun partai kecil, tidak pernah sepi dari konflik yang terjadi dalam internal partainya sendiri. Menurut (Muhtar Haboddin ‘Mengurai Perpecahan Partai Politik’ Makalah Mata Kuliah Politik Indonesia Kontemporer, Tahun Ajaran 2007), dalam sebuah rezim demokratis, benturan kepentingan dan nilai politik merupakan sesuatu hal yang lumrah. Termasuk yang terjadi pada konflik internal Partai Demokrat.

Pentingnya komunikasi politik sebagai media penyampian protees yang meliputi fakta dan pendapat. Komunikasi politik juga penting diterapkan dalam suatu partai politik guna mendanai aktualisasi lembaga politik, demikian pula merupakan fungsi dari sistem politik. Sepanjang konflik tersebut tidak menghancurkan tatanan sistem dan kelembagaan demokrasi, maka dianggap sebagai sesuatu yang wajar terjadi. Sayangnya, yang terjadi di hampir setiap konflik internal yang dialami oleh partai politik di Indonesia adalah pertikaian yang bersifat destruktif karena seringkali menyebabkan ambruknya tatanan sistem. Kemudian inilah yang terjadi didalam kubu Partai Demokrat, lalu sebenarnya apa yang terjadi pada internal partai yang saat ini diketuai oleh AHY?  

Dari awal berdirinya Partai Demokrat sampai saat ini, sebenarnya banyak konflik yang menerpa partai yang identik dengan warna biru dan berlambang mercy. Di mulai dari Kasus Wisma Atlet yang cukup banyak menyeret kader-kader Partai Demokrat ini. seperti Muhammad Nazaruddin yang saat itu selaku (Bendahara Umum Partai), Minwar Amir selaku (Wakil Ketua Badan Anggaran DPR), Angelina Sondakh, Anas Urbaningrum selaku (Ketua Umum Partai Demokrat), dan Andi Mallarangeng selaku (Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat). Dengan kasus korupsi yang cukup besar menyret para kader Partai Demokrat ini, juga cukup menarik perhatian pulik dan telah memecahbelah internal partai. Dari kasus suap ini banyak par akader yang berupaya melindungi dirinya dengan melemparkan argumen satu ke yang lainnya, saling menyudutkan satu sama lain dan terjadi perpecahan antar kubu. Dengan kasus ini juga mempermudah partai lain untuk ikut serta memberikan citra buruk bagi partai ini.

Selanjutnya terkait dengan isu yang mulai terdengar kala Ketua Umum Partai Demokrat mengatakan bahwasannya pada Kongres Luar Biasa (KLB), terdapat beberapa oknum kader di partainya yang beruapa mengambil alih partai dan jabatannya. Isu dari adanya Kongres Luar Biasa ini untuk memilih pemimpin yang baru dalam mempersiapkan calon pada pemilihan umum 2024 nanti. Adapun nama yang sorak terdengar adalah kepala Kantor Staff Kepresidenan, Moeldoko yang diduga sebagai dalang dari rencana KLB di Deli Serdang. Namun Moeldoko membatah pernyataan tersebut.

Berikut kronologis awal dari konflik internal terkait dengan Kongres Luar Biasa Partai Demokrat di Deli Serdang.

a.       1 Februari 2021 AHY melakukan konfrensi press dengan mengatakan ada upaya yang mencoba mengkudeta AHY dari kepemimpinannya di Partai Demokrat. AHY juga mengatakan telah mengirimkan surat ke Presiden Joko Widodo namun surat tersebut tidak mendapat balasan dari presiden, sehingga Partai Demokrat kembali memberikan surat ke Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan yakni Mahfud MD untuk meminta perlindungan hukum dan upaya pencegahan terjadinya KLB terebut pada 4 Maret 2021.

b.      Pada 7 Februari, Herzaky Mahendra Putra selaku Kepala Badan Komunikasi Strategis Demokrat mengatakan bahwasannya partainya sangat kompak mendukung kepemimpinan dari AHY. Dan SBY juga memberikan keterangan terkait hal tersebut, SBY mengatakan adanya gerakan kemufakatan yang ingin merusak Demokrat serta mengkudeta AHY sebagai Ketua Umum Partai. Pada hari berikutnya Moeldoko mengatakan kalau dirinya sudah tidak terlalu mengikuti perkembangan Partai Demokrat, dan ia juga meminta agar dirinya tidak diinterventasi terus.

c.       Lalu pada tanggal 26 Februari, Partai Demokrat memecat sejumlah kadernya, yaitu: Yus Sudarso, Tri Yulianto, Syofwatillah Mohzaib, Ahmad Yahya, Damizal, dan Jhoni Allen Marbun. Kemudian Demokrat juga mengganti Jhoni Allen Marbun dari anggota DPR.

d.      Pada hari selanjytnya pendiri dari Partai Demokrat, Illal Ferhard juga mengatakan akan melangsungkan Kongres Luar Biasa dan mengatakan nama Moeldoko sebagai pengganti AHY. Darmizal selaku mantan Ketua Komisi Pengawas Demokrat mengatakan bahwa partainya akan melakukan Kongres Luar Biasa di Bali dan beberapa lokasi lainnya masih dirahasiakan, ia juga mengatakan bahwa memang sedang terjadinya perpecahan didalam internal Partai Demokrat, dan ia meyakini bahwa kubu AHY telh mengantongi 96% suara.

e.       2 Maret 2021 adanya barisan massa Partai Demokrat yang menginginkan kongres jilid kedua.

f.       5 Maret 2021 waktu 15.00 WIB. Benar terjadi diselenggarakannya KLB di The Hill Hotel and Resort Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara. Dengan nama yang diajukan adalah Moeldoko dan Marzuki Alie, namun hasil akhir dari KLB tersebut mengumungkan terpilihnya Moeldoko sebagai Ketua Umum Partai Demokrat periode 2021-2025 dengan melalui proses voting.

g.      SBY selaku Ketua majelis Tinggi Partai Demokrat angkat bicara soal Isu KLB yang terjadi di Deli Serdang. Ia berkata sangat sedih karena dengan adanya masalah ini akan menyerang kedaulatan partai sendiri.

h.      Pada Senin, 8 Maret 2021 AHY beserta 34 orang DPD Partai Demokrat dari seluruh Indonesia mendatangi kantor Menteri koordinator Politik, Hukum, dan HAM dengan membawa bukti-bukti berkas yang menguatkan bahwa KLB yang terjadi di Deli Serdang tidak sesuai dengan AD/ART Partai Demokrat.

i.        Pada Selasa, 9 Maret 2021 kubu dari Moeldoko kembali ajukan laporan dengan menyerahkan hasil KLB yang telah mereka selenggarakan di Deli Serdang.

j.        Rabu, 17 Maret 2021 Menteri Hukum dan HAM yakni Yasonna Laoly mengatakan akan mempelajari dokumen hasil kongres di Deli Serdang, menurutnya kalau tidak sesuai hukum dan tidak sesuai dengan AD/ART akan mengambil keputusan untuk menolak KLB tersebut.

Menurut Mahfud MD dan Yasonna Laoly aturan yang bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi pada Partai Demokrat adalah Undang-Undang Partai Politik dan Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 34 Tahun 2017 yang mengenai peraturan partai politik. Sesuai dengan peraturan menteri ini, Kemenkumham akan memutuskan persolaan kasus ini paling lambat setlah 21 hari laporan diterima. Dan hasil yang diperoleh dari keputusan tersebut adalah Yasonna H Laoly menolak mengesahkan hasil KLB yang dilakukan di Deli Sedang yang menjadikan Moeldoko sebagai Ketua Umum periode 2021-2025, namun kubu KLB 2021 Moeldoko tidak terima dan menggugat balik keputusan Yasonna Laoly ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Dengan adanya penolakan yang terjadi, pemerintah tetap mengakui Agus Harimurti Yudhoyono sebagai Ketua Umum Partai Demokrat periode 2020-2023. Alasan dari penolakan yang dilakukan Yasonna Laoly adalah karena pihak kubu KLB 2021 Moeldoko tidak dapat melengkapi dokumen dan tidak memenuhi syarat yang telah diatur oleh Peraturan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2017. Masalah internal Partai Demokrat adalah tentang dualisme kepengurusan setelah adanya KLB 2021 di Deli Serdang ini. Terdapat dua kubu, yakni kubu Munas 2020 (AHY) dan kubu KLB 2021 (Moeldoko).

Hadirnya partai politik juga merupakan wadah organisasi yang pemiliki ideologi untuk dijadikan sebagai tujuan bersama, adanya konflik internal terlebih di negara demokrasi adalah hal yang nyatanya sudah biasa terjadi. Konflik yang terjadi didalam Partai Demokrat tidak semata-mata menunjukan sisi negatifnya saja, tetapi dapat pula menimbulkan sisi positif. Oleh karena itu konflik bisa menguntungkan bagi sistem yang bersangkutan. Bagi Coser konflik merupakan salah satu bentuk interaksi dan tak perlu diingkari keberadaannya.

Setiap partai politik yang memiliki masalah internal pasti memiliki strategi tersendiri dalam membenahi masalah dalam partainya tersebut. Secara teori, ada tiga bagaimana partai politik membagikan strategi serta respon dalam menangani sebuah konflik, yakni:

a.       Reaktif dengan mengambil langkah dengan tidak pas saat terjadinya konflik, seperti yang terjadi pada Partai Demokrat. (Partai Demokrat dalam menghadapi konflik, karena banyaknya permasalahan yang dihadapi partai ini secara internal. Baik isu Kongres Luar Biasa dan permasalahan korupsi dari kader-kadernya. Analisis dari beberapa media masa nasional memberikan informasi terkaiit faktor yang menimpa posisi partai politik yang saat ini dinilai sedang hadapi krisis. Bisa diasumsikan kalau kekuatan media selaku penyebar data sanggup membentuk opini publik. Partai Demokrat adalah partai yang sangat banyak diberitakan menimpa krisis sekitar 34,2 %. Yang didominasikan oleh permasalahan korupsi sendiri)

b.      Proaktif mengambil langkah yang baik saat terjadinya konflik dalam partai.

c.       Adaptif lebih memandang suasana ketika terjadinya konflik dalam partai.

 

Kesimpulan

Manajemen partai politik tidak selamanya baik, pastinya disetiap partai memiliki konflik internalnya yang beragam, yang menyebabkan adanya perpecahan antar kader satu dengan kader yang lainnya. Konflik internal yang terjadi pada partai demokrat adalah hal yang pernah terjadi juga pada Partai PDI-P, dimana pada kongres yang dilakukan, ada usaha melengserkan Megawati dari jabatan Ketua Umum Partai. Konflik kepentingan yang terjadi di Partai Demokrat mengenai perebutan posisi untuk menjadi ketua umum partai dengan usaha mengkudeta Agus Harmurti Yudhoyono sebagai Ketua Umum Periode 2020-2024 menjadi Moeldoko periode 2021-2025. Permasalahan internal partai juga berdampak pada ke kinerja dan citra partai sendiri. Karena hal inilah segera lakukan evaluasi terkait beberapa masalah yang sedang dihadapi internal partai. Terutama serius dalam pengrekuitment kader-kader yang kompenten, yang senantiasa menjalankan AD/ART dengan baik. Konflik internal yang melanda Partai Demokrat dipicu oleh masalah yang bersifat pragmatis, yakni terkait dengan posisi atau jabatan di dalam partai. Konflik yang terjadi pada Partai Demokrat pada intinya karena sifat oligarki, karena sudah tidak ada kuasa jadi mereka berani melawan dinasti yang ada. Disinilah peran partai politik sudah seharusnya menerapkan kominikasi politik dalam membuat suatu perubahan sosial. Dan peran dari Agus Hartimurti Yudhoyono selaku Ketua Umum Partai Demokrat periode 2020-2024 untuk bersikap tegas, bijak, dan berani dalam mengambil dan menyelesaikan kebijakan dan permasalahan yang terjadi.  

 

 

 

Daftar Pustaka

Website

Timeline Sejarah Partai Demokrat (Sejarah - Partai Demokrat)

Kronologi Konflik Demokrat: dari Klaim Kepemimpinan hingga Saling Lapor (Kronologi Konflik Demokrat: dari Klaim Kepemimpinan hingga Saling Lapor Halaman all - Kompas.com)

Jurnal

Amanu, H., & Evanne, L. (2021). PERAN EFEK KOMUNIKASI POLITIK DALAM KEKISRUHAN DI PARTAI DEMOKRAT. Jurnal Ilmu Komunikasi Balayudha1(1), 26-32.

Karmila, L. (2021). PERAN KOMUNIKASI DALAM BUDAYA ORGANISASI DALAM FENOMENA KISRUH PARTAI DEMOKRAT. Jurnal Ilmu Komunikasi Balayudha1(1), 41-48.

Rachman, M. A. (2016). Penyelesaian Perselisihan Internal Partai Politik. Yuridika31(2), 189-219.

Cahyani, V. D. (2020). PELANGGARAN KODE ETIK DAN AD/ART SEBAGAI PERBUATAN MELAWAN HUKUM DALAM PERSELISIHAN INTERNAL PARTAI POLITIK (STUDI PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR: 375 K/PDT. SUS-PARPOL/2017). Verstek8(3).

Arnata, A. S., & Ilhamy, M. F. (2020). PENANGANAN KRISIS PARTAI DARI PANDANGAN PUBLIK. Wacana: Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Interdisiplin7(2), 152-156

 



[1] Abdul Bari Azed, dan Makmur Amir; “Pemilu dan Partai Politik di Indonesia”; Pusat Studi Hukum

Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, tahun 2005, hlm. 20.

[2] S Arikunto, Metodologi Penelitian Suatu Pendekatan Proposal (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002)

[4] Maswadi Rauf, consensus politik, sebuah penjejakan teoritis, Hlm. 2

[5] Surbakti, Ramlan. Dasar-dasar Ilmu Politik. Surabaya : Airlangga University Press, 1984, hlm 21-32

Etnis Tionghoa Pasca Orde Baru dan Politik Identitasnya

Etnis Tionghoa Pasca Orde Baru dan Politik Identitasnya             Etnisitas adalah sekelompok manusia yang memiliki kesamaan latar b...