Senin, 06 Maret 2023

Konsep Implementasi Kebijakan (1)

 

Konsep Implementasi Kebijakan (1)

Kebijakan publik, setelah diputuskan atau ditetapkan, kesinambungannya terletak pada masalah implementasinya. Kebijakan publik tidak akan berarti apa-apa jika tidak diikuti dengan tindakan atau tindakan nyata, sekalipun kebijakan tersebut merupakan puncak dari proses politik yang panjang. Jika ya, bagaimana kebijakan tersebut diterapkan? Menurut Webster implementasi diartikan sebagai tindakan melaksanakan, yang mana dalam menyelesaikan sesuatu termasuk ke dalam memenuhi pokok penting dari implementasi.

Menrurut Jan Erik-Lane, terdapat definisi & pengertian implementasi kebijakan, sebagai berikut:  

1.      Implementation = F (Intention, Output, Outcome)

Tindakan yang berhubungan dengan tujuan intention, output, & outcome. Kebijakan publik dasarnya membutuhkan eksekusi & juga hasil dari tercapainya sasaran yang telah ditetapkan. Implementasi juga terdapat dua dasar pengertian: sebagai sebuah pernyataan akhir atau hasil pencapaian kebijakan. & sebagai sebuah proses atau eksekusi kebijakan.

2.      Implementation = F (Policy, Outcome, Formator, Implementor, Intiatir, Time)

Implrmrntasi adalah tindakan yang berhubungan dengan aspek kebijakan, dari penjelasan sebelumnya, pada nomor dua ini penekannya lebih ke pada proses atau fenomena karena didalamnya menyangkut banyak faktor yang terlibat.

Fenomena implementasso kebijakan dipelajari agar dapat memahami:

Mengapa dapat terjadi gagalnya implementasi publik didaerah, mengapa jenis kebijakan lebih mudah implementasikan dibandingkan dengan kebijakan lain, mengapa perbedaan kelompo sasaran kebijakan mempengaruhi keberhasilan implementasi suatu kebijakan.

Pertemuan ke-3:

Konsep Implementasi Kebijakan (2)

            Studi implementasi kebijakan pertama kali dilakukan oleh J. Pressman & Aaron Wildafsky pada tahun 1966 yang melibatkan aktor lembaga termasuk dengan komunitas Afrika-Amerika. Walaupun program tersebut gagal, namun terdapat poin-poin keputusan yang membutuhkan izin daru aktor yang terlbat agar implementasi bisa maju, namun sayangnya hal itu tidak terwujud sebab terjadinya diskriminasi & mendapatkan dukungan politik federal dan dana yang besar. Oleh karena itulah konsep implementasi kebijakan menjadi bagian terpenting dalam studi kebijakan publik. Fenomena kebiakan implementasi menjadi perhatian ahli kebijakan & memperkaya pemahaman terhadap konsep implementasi, peahamn terhadap proses implementasi & menuju kepada model teorik untuk proses implementasi kebijakan publik.

            Studi implementasi kebijakan sudah masuk ke tahap ketiga, yang membedakannya adalah oada penggunaan metodologi penelitian didalam meneliti fenomena implementasi kebijakan. Pada generasi kesatu: (1970-1975) menggunakan metode studi kasus (case study) untuk meneliti fenomena implementasi kebijakan dalam waktu & tempat tertentu. Pada generasi kedua: (1975-1960) ahli kebijakan menggunakan metode penelitian positif (kuantitatif) dengan tujuan untuk menguji & membagun teori atau model implementasi dengan tujuan untuk mnguji & membangun model implementasi. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan atas-bawah (top down approach) & pendekatan bawah atas (down top approach). Pendekatan generasi ketiga: (1980) peneliti generasi ketiga disebut sebagai peneliti mplementasi & penelitiannya sebagai generasi tudi implementasi ditempatkan sebagai ilmiah arena enelitiannya dilakukan secara ilmiah. Atau singkatnya menurut Goggin (1990), studi implementasi generasi ke 3, penggunaan metode ilmiah semakin mengarahkan pada pemahaman yang lebuh baik tentang, apa itu implementasi kebiakan & mengapa orang-orang & lembaga yang terlibat dalam implementasi kebijakan berperilaku seperti yang mereka lakukan.

            Unsur implementasi kebijakan: Orang (secara individu atau kelompok : para birokrat, administrator (sebagai implementor). Organisasi (lembaga pemerintah, birokrasi sebagai implementor), Sumber daya (dana, sarana, waktu, & peralatan), desain omplementasi (hubungan atar orang & organisasi), kelompok sasaran (masyarakat & anggota masyarakayt).

Pertemuan ke-4

Perumusan Kebijakan Publik

Model Sistem Politik

Perumusan kebijakan merupakan tahap pertama dari rangkaian proses kebijakan publik. Agenda setting yang pada bab sebelumnya dikenal untuk mendorong dimulainya proses perumusan kebijakan & pendeatan-pendekatan. Menurut David Easton (1971) yang dikenal dengan sistem model politik. Easton mengemukakan bahwa proses kebijakan publik terdiri dari jaringan keputusan & tindakan untuk mengalokasikan nilai-nilai, yang mengalokasikan nilai-nilai ini adalah pemegang otoritas dalam sistem politik. Karena Easton mendefinisikan kebijakan.

Diketahui dari model Easton tentang proses kebijakan publik. Dimulai dari inputs (tuntutan, dukungan & masukan sumber-sumber dari lingkungan) lalu masuk ke proses sistem politik untuk perumusan keputusan yang di dalamnya melibatkan tiga komponen: pemegang otoritas (authority), pengemasan kesepkatan (bindingness) & penentuan alokasi nilai-nilai untuk masyarakat (allocation of values for society), kemudian outputs (berupa regulasi, peraturan, hukum) & outcomes (hasil, manfaat dari pembebanan regulasi).

Menurut Easton Outputs adalah keputusan formal yang diumumkan & lebih dimaksudkan untuk memberikan konsekuensi kepada tindakan pemerintah. Outcomes adalah urutan kedua berupa efek kebijakan & lebih merupakan keseluruhan dunia nyata dari kebijakan. Dari Eastin, kemudiakn pemikirannya diperluas oleh Jenkins yang mengatakan bahwa faktor lingkungan (sosial, ekonomi, politik, fisik dll termasuk waktu) selalu mempengaruhi bekerjanya proses perumusan kebijakan dari mulai inputs, sistem politik, outcomes, & feedback.

Pertemuan ke-5

Model Kingdon, Sabatier, & Baumgartner.

a.      J.W. Kingdon : Model Streams Metaphor.

J.W. Kingdon mencetuskan streams metaphor model untuk proses kebijakan publik. Gagasan modelnya sebenarnya diinspirasi dari deskripsi pengambilan keputusan dalam organisasi yang kompleks, yaitu garbagecan model yang dibangun oleh Cohen. Dengan menggunakan gagasan metapora aliran, Kingdon berpendapat bahwa isu-isu kebijakan akan meningkatkan status agenda & pemilihan alternatif ketika unsur-unsur dari tiga aliran datang bersamaan. Pada masing-masing aliran tersebut, di dalamnya berisi berbagai individu, kelompok,  lembaga-lembaga, terlibat dalam proses pembuatan kebijakan. Kingdon menjelaskan bahwa aliran pertama adalah the political stream yang meliputi keadaan politik & opini publik. Aliran kedua adalah the policy stream yang berisi solusi potensial untuk suatu masalah.

 

b.      Kerangka Koalisi Advokasi Sabatier: oleh Paul A. Sabatier.

Secara eksplisit ditujukan kepada dua fitur penting dari proses kebijakan, yaitu peran kelompok, parameter sistem & dinamika sistem dalam pembuatan kebijakan. Tradisi pluralis dalam ilmu politik berpendapat bahwa kebijakan publik dibuat dalam proses kompetisi antar kelompok namun dalam pemahaman Sabatier, puluhan kelompok yang bekerja independen tidaklah mungkin akan memiliki kekuatan sebesar yang mereka miliki jika mereka tidak datang bersama-sama dalam kelompok lebih besar, atau disebut koalisi advokasi. Dalam ACF, dua hingga empat koalisi advokasi biasanya terbentuk untuk domain kebijakan tertentu di mana kelompok-kelompok menyatukan serangkaian nilai-nilai & keyakinan mereka bersama. Koalisi ini terlibat dalam perdebatan soal kebijakan, bersaing & berkompromi dengan koalisi lain. Beberapa aktor, yang disebut ''broker kebijakan'', akan muncul menengahi persaingan di antara koalisi ini. Karena broker pun mencari hasil kebijakan tertentu atau ia memiliki kepentingan dalam mempromosikan harmoni politik. Dalam konteks ini kompromi sangat mungkin terjadi jika kebijakan yang muncul kebijakan baru atau perubahan kebijakan yang pada akhrnya, tidak mengancam keyakinan inti & nilai-nilai dari koalisi advokasi. Sebaliknya kemungkinan munculnya kebijakan baru atau perubahan kebijakan jauh lebih kecil jika polarisasi koalisi advokasi begitu besar sehingga tidak ada ruang untuk kompromi di dalam sistem kepercayaan kelompok. Dalam ACF, disadari bahwa pembuatan kebijakan dipengaruhi oleh relatif stabilnya parameter sistem & oleh dinamika sistem. Interaksi di antara keduanya bisa mempromosikan atau menghambat pembuatan kebijakan. Fitur parameter sistem yang stabil adalah kerangka konstitusional & norma-norma hukum, di dalamnya termasuk atribut dasar dari bidang masalah, distribusi dasar sumber daya alam di masyarakat, nilai-nilai budaya fundamenta, struktur sosial, struktur hukum dasar. Sedangkan fitur dinamika sistem adalah termasuk perubahan dalam kondisi sosial ekonomi, teknologi, perubahan koalisi pemerintahan sistemik, keputusan kebijakan & dampak dari subsistem lainnya. Seperti metafora aliran, model ACF Sabatier meliputi berbagai individu, aktor institusional. Memandang pembuatan kebijakan sebagai proses yang lama bertahun-tahun. ACF juga mempertimbangkan mekanisme untuk perubahan kebijakan & lebih sadar mencakup pengaruh implementasi & umpan balik pada sistem.

 

c.       F.R. Baumgartner & B.D. Jones : Model Punctuated Equilibrium.

F.R. Baumgartner & B.D. Jones membawa konsep punctuated equilibrium dari evolusi biologi untuk melukiskan proses kebijakan. Mereka berpendapat bahwa keseimbangan kekuatan politik di antara kelompok-kelompok kepentingan bisa relatif stabil dalam jangka waktu yang lama diselingi oleh pergeseran yang relatif mendadak dalam pemahaman masyarakat tentang masalah & keseimbangan kekuatan antar kelompok yang berusaha memperjuangkan kepentingan yang tertanam. Kunci dari teori equilibrium adalah gagasan monopoli kebijakan yang cocok dengan gagasan sub-sistem kebijakan. Monopoli kebijakan adalah sistem yang cukup terkonsentrasi, tertutup, & hanya aktor-aktor paling penting yang terlibat dalam pembuatan kebijakan.

Pertemuan ke-6

Implementasi Kebijakan Publik (1)

Konsep

Bila demikian apakah implementasi kebijakan itu?

Sebuah kebijakan publik pada dasarnya membutuhkan eksekusi & juga hasil, yakni tercapainya sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. Sebagai sebuah pernyataan akhir dari kebijakan atau hasil pencapaian kebijakan. Pengertian ini fokus kepada terealisasinya sasaran-sasaran kebijakan & pernyataan bahwa kebijakan telah diimplementasikan.

·         Sebagai proses maka implementasi kebijakan dikonseptualisasikan sebagai serangkaian keputusan & tindakan agar keputusan legislatif bisa dijalankan.

·         Sebagai keluaran maka implementasi kebijakan dikonseptualisasi kan sebagai seberapa jauh tujuan-tujuan yang telah direncanakan kebijakan mendapat dukungan sumber daya seperti anggaran belanja, teknis & program.

·         Sebagai dampak maka implementasi kebijakan dikonseptualisa sikan kepada perubahan-perubahan yang dapat diukur terkait dengan program, UU, regulasi, keputusan yudisial.

Pertemuan ke-7

Implementasi Kebijakan Publik (2)

Sebagai Studi

Ada poin-poin keputusan yang membutuhkan izin dari para aktor yang terlibat tersebut agar implementasi bisa maju tetapi itu tidak terwujud padahal program tersebut mendapat dukungan politik federal yang besar. Hasil penelitian ini kemudian oleh Pressman & Wildafsky dituangkan kedalam sebuah buku dengan judul Implementation & sejak itu konsep implementasi kebijakan menjadi bagian penting dalam studi kebijakan publik. Studi implementasi kebijakan, setelah itu, banyak dilakukan oleh para ahli kebijakan publik untuk mengungkap faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu kebijakan publik saat diimplementasikan. Fenomena implementasi kebijakan pada akhirnya menjadi perhatian para ahli kebijakan & setiap penelitian yang mereka lakukan memperkaya pemahaman terhadap konsep implementasi, pemahaman terhadap proses implementasi & menuju kepada model teoritik untuk proses implementasi kebijakan publik.

Akhirnya, pentingnya implementasi datang melalui kontribusi praktik yang pada dasarnya merupakan ujian teori kebijakan & dengan menguji ini kita belajar. Jadi proses implementasi yang dirancang dengan baik harus menyediakan mekanisme ntuk pemantauan, umpan balik kebijakan, pembelajaran, peningkatan. Studi implementasi kebijakan saat ini telah masuk tahap generasi ketiga. Perbedaan tiap generasi terletak pada penggunaan metodologi penelitian di dalam meneliti fenomena implementasi kebijakan sehingga kontribusi yang diberikan terhadap studi implementasi pun berbeda pula.

Pada generasi 1 para ahli kebijakan menggunakan metode studi kasus untuk meneliti fenomena implementasi kebijakan dalam waktu & tempat tertentu. Hasil penelitian umumnya berupa penjelasan deskriptif atas implementasi kebijakan tertentu, bisa berupa kegagalan atau keberhasilan implementasi kebijakan tersebut. Lahir pemikiran tentang syarat keberhasilan implementasi kebijakan sebagai sebuah konsep atau acuan bagi implementasi kebijakan publik.

Penjelasan tentang pendekatan & model-model implementasi kebijakan ini akan disajikan dalam perkuliahan berikutnya. Para peneliti generasi 3 ini kemudian disebut sebagai peneliti implementasi & penelitiannya sebagai penelitian implementasi. Jadi pada generasi ini studi implementasi ditempatkan sebagai ilmiah karena penelitiannya dilakukan secara ilmiah. Ada kasus-kasus implementasi yang cukup, terutama yang spesifik & beragam, untuk memberi ruang analisis & menjelaskan hubungan sebab-akibat dari fenomena implementasi.

Ringkasnya, Goggin menyebutkan bahwa, Dalam studi implementasi generasi 3, penggunaan metode ilmiah semakin mengarahkan pada pemahaman yang lebih baik tentang apa itu implementasi kebijakan & mengapa orang-orang & lembaga yang terlibat dalam implementasi kebijakan berperilaku seperti yang mereka lakukan.

Pertemuan ke-9

Kapasitas Organisasional Dalam Implementasi Kebijakan

Kapasitas organisasional lembaga-lembaga pemerintah merupakan kunci utama dalam implementasi kebijakan publik. Pada konteks implementasi kebijakan ini Goggin memberikan penjelasan tentang kapasitas organisasional mengingat sebagian besar implementasi kebijakan publik terjadi di lembaga-lembaga pemerintah, & aktor-aktor birokrasi. Kapasitas organisasional diartikan sebagai kemampuan atau kepiawaian pemerintah untuk membuat atau menempatkan sesuatu menjadi tindakan bersama, melembagakan struktur, rutinitas & mengkoordinasikan usaha-usaha mengubah perilaku atau keinginan masyarakat kearah yang diinginkan kebijakan melalui capaian hasil nyata. Goggin menjelaskan bahwa implementation style adalah dimensi perilaku dalam lembaga yang menginterpretasikan antara putusan penentuan tujuan kebijakan yang biasanya sarat dengan politik dengan keputusan administratif tentang strategi implementasi untuk mencapai tujuan kebijakan yang biasanya sarat degan analisis.

Pertemuan ke-10

Kapasitas Ekologi Negara Dalam Implementasi Kebijakan

Kapasitas Ekologi Negara secara sederhana didefinisikan sebagai kapasitas lingkungan negara yang mempengaruhi kebebasan pemerintah untuk bertindak.

·         Konstitusi & Lingkungan Budaya,

·         Hubungan Antar Tingkat Pemerintahan,

·         Ketersediaan Sumber Finansial,

·         Tingkat Industrialisasi Dalam Negara,

·         Tingkat Urbanisasi,

·         Tingkat Pendidikan Penduduk.

 

Oleh karena itu kapasitas ekologi negara dapat menjadi pertimbangan untuk menilai kekuatan pemerintah dalam mengimplementasikan kebijakan. Kapasitas ekonomi negara umumnya ditunjukkan oleh tersedianya sumber-sumber fiskal sehingga menjadi kekuatan keuangan negara untuk membiayai kegiatan pemerintah di semua tingkatan. Kondisi keuangan negara yang buruk jelas sangat berpengaruh terhadap penyediaan finansial sehingga dapat menghambat tindakan lembaga & personil di dalam mengimplementasikan kebijakan.

Menurut Goggin kapasitas lingkungan politik yang dapat mempengaruhi implementasi kebijakan publik adalah berkembang keterbukaan & inovasi dalam negara. Budaya politik dapat mempengaruhi tingkat partisipasi warga negara karena terkait dengan sikap, kepercayaan & harapan terhadap tindakan pemerintah. Karakteristik politik negara menjadi lingkungan implementasi kebijakan publik. Variabel situasi merupakan determinan sukses implementasi. Tersembunyinya problem negara. Dua variabel tersebut berhubungan & keberadaannya mempengaruhi kapasitas negara. Apabila kapasitas negara dalam menghadapi dua variabel tersebut rendah maka keberhasilan implementasi kebijakan jelas rendah.

Pertemuan ke-11

Paradigma Teori Impelemtasi Kebijakan Publik

Menurut Harold D. Lasswell (1956) implementasi merupakan salah satu bagian yang diperlukan dalam proses kebijakan publik. Apabila sudah ada kebijakan publik yang sudah ditentukan namun tidak dijalankan, maka akan menyebabkan missing link, sehingga kita jadi tidak mengetahui apakah rumusan itu ada feedbacknya atau tidak.

Menurut Peter deLeon perhatian terhadap studi implementasi terhalang lama karena adanya persepsi, yakni:

(1) dianggap sulit untuk masuk ke wilayah operasi lembaga di mana para administrator secara khas banyak bertindak di bawah otoritasnya sendiri bahkan terkadang menyerang pembuat kebijakan, atau sebaliknya.

(2) dianggap terlalu sederhana di mana para administrator secara otomatis menjalankan kebijakan apapun yang dibebankan kepadanya sehingga tidak memegang peran kunci dan tidak menarik. Pada kenyataannya masalah implementasi tidak dapat diabaikan karena banyak ditemukan kebijakan yang gagal, dan satu sumber kegagalannya muncul dari aspek politik dan birokrasi dalam proses implementasi, yang hal ini di luar pertimbangan pemerintah dan analis kebijakan.

Menurut Peter deLeon :

a.       Studi implementasi generasi pertama (J. Pressman & Aaron Wildavsky): bersifat analisis studi kasus untuk menyingkap proses implementasi yang rumit.

b.      Studi implementasi generasi kedua (Daniel Mazmanian & Paul Sabatier (1983), Robert Nakamura & Frank Smallwood (1980), Paul Brenan (1980)): teori-teori implementasi mulai terbangun. Dilakukan menggunakan lensa empiris, serangkaian hipotesis, berorientasi kelembamgaan, dan mengambil perspektif top-down (hirarkhis, perintah & pengawasan) sebagai komitmen untuk jalur implementasi kebijakan.

c.       Studi implementasi generasi ketiga (Malcolm Goggin (1990): meneliti perilaku implementasi pada lintas kebijakan, antar unit pemerintah dan jenis-jenis perilaku implementasi yang mungkin terjadi di masa depan. Studi ini bertujuan supaya lebih ilmiah dan menyadari dengan benar soal kerumitan di antara agensi (badan pemerintah). Pada generasi ini, salah satu teori implementasi kebijakan di antaranya muncul dari Malcolm Goggin (1990) yang dikenal dengan teori Model Komunikasi Implenmentasi Kebijakan Antar Pemerintahan (Communications Model of Intergovermental policy Implementation).

Berdasarkani uraian dimuka dapat disimpulkan bahwa dalam teori implementasi kebijakan :

a.       Terdapat perspektif implementasi dan selanjutnya dikenal dengan pendekatan (approach) implementasi kebijakan, yaitu top-down dan bottom-up.

b.      Terdapat model (teoritik) implementasi kebijakan yang diperoleh dari studi para ahli kebijakan.

Pertemuan ke-12

Pendekatan Implementasi Kebijakan Publik

Pendekatan Atas-Bawah (Top-Down Approach)

Apabila kita ingin mempelajari suatu obyek maka sudut pandang atau sisi apa yang akan kita gunakan untuk melihat & mempelajari obyek tersebut. Dalam studi implementasi kebijakan publik, sebuah pendekatan seringkali didasarkan pada cara logika berpikir yang dianggap bermanfaat untuk mempelajari proses implementasi kebijakan publik. Jadi pendekatan top-down dipakai untuk menilai proses implementasi kebijakan oleh lembaga-lembaga pemerintah sehingga dapat diketahui penyebab kegagalan atau keberhasilan implementasi.

Pertemuan ke-13

Pendekatan Implementasi Kebijakan Publik

Pendekatan Atas-Bawah (Top-Down Approach)

Powerpoint sama seperti materi ke-12:

Apabila kita ingin mempelajari suatu obyek maka sudut pandang atau sisi apa yang akan kita gunakan untuk melihat & mempelajari obyek tersebut. Dalam studi implementasi kebijakan publik, sebuah pendekatan seringkali didasarkan pada cara logika berpikir yang dianggap bermanfaat untuk mempelajari proses implementasi kebijakan publik. Jadi pendekatan top-down dipakai untuk menilai proses implementasi kebijakan oleh lembaga-lembaga pemerintah sehingga dapat diketahui penyebab kegagalan atau keberhasilan implementasi.

Pertemuan ke-14

Pendekatan Implementasi Kebijakan Publik

Pendekatan Bawah-Atas (Bottom-Up Approach)

Pendekatan bottom-up adalah cara logika pikir dalam mempelajari proses implementasi kebijakan yang menganggap bahwa implementasi kebijakan ditentukan oleh kerja birokrat tingkat bawah & penerimaan kelompok sasaran. Pendekatan bottom-up muncul pada akhir 1970-an & awal 1980-an sebagai reaksi para ahli kebijakan terhadap pendekatan top-down. Para ahli kebijakan penganut pendekata bottom-up lebih jauh berpendapat bahwa implementasi kebijakan akan lebih berhasil apabila kelompok sasaran sejak awal juga dilibatkan dalam proses perencanaan kebijakan maupun implemenasi kebijakan.

Etnis Tionghoa Pasca Orde Baru dan Politik Identitasnya

Etnis Tionghoa Pasca Orde Baru dan Politik Identitasnya             Etnisitas adalah sekelompok manusia yang memiliki kesamaan latar b...