Rabu, 08 Maret 2023

PEMIKIRAN JOHN LOCKE TERKAIT DENGAN FILSAFAT POLITIK

 

PEMIKIRAN JOHN LOCKE TERKAIT DENGAN FILSAFAT POLITIK


Abstrak

Studi ini membahas terkait dengan pemikiran John Locke. Locke bukan hanya seorang filsuf biasa, peranan semasa hidupnya banyak sekali memberikan dampak bagi penerusnya, terutama penanan Locke dalam pendekatan emperisme. Pemikiran John Locke sering sekali digunakan banyak pihak dalam menjelaskan suatu penulisan. Banyak sekali hasil karya John Locke, termasuk dalam dunia filsafat politik yang menjelaskan tentang bagaimana pemikiran John Locke dalam dunia politik yang seringkali mendapatkan perdebatan.

Kata Kunci: John Locke, Emperialsme, Liberalisme, Inggris.

 

PENDAHULUAN

John Locke adalah seorang filsuf yang berasal dari Inggris, John Lockepun menjadi salah satu tokoh utama dari pendekatan empirisme. Selain itu, di dalam bidang filsafat politik, Locke juga dikenal condong filsuf negara liberal. Bersama dengan rekannya, Isaac Newton, Locke dipandang sebagai salah satu figur terpenting di era Pencerahan. John Locke adalah salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam dunia filsafat politik di dunia, pemikirannya yang sekaligus menjadi awal mula dari trias politicanya Montesquieu ini, dan inilah alasan saya membahas pemikiran John Locke terkait dengan politik  adalah karena saya sangat tertarik dengan pola pikir John Locke sendiri. John Locke adalah pencetus dari gagasan terkait dengan sistem politik pemerintahan era modern-kontenporer, selain itu pemikirannya terkait dengan kepemilihan dan kebebasan individu yang menjadikan manusia saat ini mendudui sistem demokrasi yang didukung oleh liberailsme. Ini termasuk dengan bagaimana Amerika menganut filsafat politiknya John Locke dalam sistem politk pemerintahannya. John Locke mempunyai pemeikiran yang berbeda dari filsuf pada umumnya, terlebih dengan cara pandangnya terhadap manusia, menurut John Locke sendiri adalah keadaan alami manusia pada umumnya adalah baik dan damai, sehingga tugas negara untuk memproteksi keadaan alamiah yang terjadi. Locke ingin kita masing-masing menggunakan alasan untuk mencari kebenaran daripada hanya menerima pendapat pihak berwenang atau tunduk pada takhayul. Dia ingin kita menyetujui proposisi dengan bukti untuk mereka. Pada tingkat lembaga, menjadi penting untuk membedakan fungsi lembaga yang sah dan tidak sah dan membuat perbedaan yang sesuai untuk penggunaan kekuatan oleh lembaga-lembaga ini. Locke percaya bahwa menggunakan akal untuk mencoba memahami kebenaran, dan menentukan fungsi yang sah dari lembaga akan mengoptimalkan manusia untuk berkembang biak bagi individu dan masyarakat baik dalam hal kesejahteraan material dan spiritual. Ini pada gilirannya, berarti mengikuti hukum alam dan pemenuhan tujuan ilahi bagi umat manusia.

Rumusan Masalah

1.      Siapakah John Locke?

2.      Pemikiran dari John Locke tentang apa yang berkaitan dengan filsafat politik?

Tujuan Masalah

1.      Menjelaskan siapa itu John Locke.

2.      Menjelaskan tentang pemikiran John Locke yang paling berpengaruh dalam dunia politik saat ini.

Metode Penelitian

Metode penelitian yang penulis gunakan adalah metode penelitian kualitatif, degan jenis penelitian yanng diigunakan adalah kajian pustaka (library research), yaitu studi kepustakaan dari berbagai referensi yang relevan dengan pokok pembahasan mengenai Pemikiran John Locke terhadap filsafat politik. Dan juga menggunakan metode deskriptif, menurut (Ress Effendi 2010:33) mengatakan bahwa penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggunakan suatu observasi, wawancara atau angket mengenai keadaan sekarang ini, mengenai subjek yang sedang kita teliti. Melalui angket dan sebagainya kita mengumpulkan data untuk menguji hipotensis atau menjawab suatu pertanyaan. Melalui penelitian deskriptif ini peneliti akan memaparkan yang sebenarnya terjadi mengenai keadaan sekarang ini yang sedang diteliti. Sugiyono (2017:2) mengatakan bahwa, metode penelitian pada dasarnya merupakan ciri-ciri ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Metode yang digunakan dalam pendekatan kuantitatif.

 

Kerangka Teori

a.       Emperisme

Menurt (Yesmil Anwar & Adang : 2008) Pengertian empiris di dalam sosiologi ialah merupakan suatu ilmu pengetahuan yang didasarkan oleh akal sehat, tidak spekulatif serta dengan berdasarkan observasi terhadap kenyataan. Studi empiris ini adalah ilmu pengetahuan yang dilakukan itu dengan berdasarkan data data eksperimental hasil pengamatan dan pengalaman serta trial and error atau uji coba, juga dengan menggunakan ke 5 panca indera manusia yakni (penglihatan, perasa, penciuman, pendengaran, sentuhan) serta juga bukan secara teoritis & spekulasi, lebih untuk ilmu pengetahuan dan juga penelitian.

b.      Liberalisme

 

Liberalisme adalah suatu faham yang kemudian menghendaki adanya kebebasan kemerdekaan individu di semua bidang, baik itu di dalam bidang politik, ekonomi ataupun juga agama. Secara umum, liberalisme tersebut ini ialah mencita-citakan masyarakat yang bebas, yang kemudian dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi tiap-tiap atau masing-masing individu. Dalam suatu sistrm masyarakat modern, liberalisme akan tumbuh di dalam ajaran sistem demokrasi, hal tersebut disebabkan oleh karena ke-2nya itu sama-sama dilandaskan pada kebebasan mayoritas.

c.       Demokrasi

Menurut John L. Esposito adalah definisi demokrasi pada dasarnya adalah kekuasaan dari dan untuk rakyat. Oleh karenanya, semuanya berhak untuk berpartisipasi, baik terlibat aktif maupun mengontrol kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Selain itu, tentu saja lembaga resmi pemerintah terdapat pemisahan yang jelas antara unsur eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.

 

Gambaran Umum Obyek Kajian

John Locke adalah seorang filsuf berkebangsaan Inggris yang dikenal karena dianggap sebagai pencetusnya pendekatan empirisme, lahir pada 29 Agustus 1632 dan wafat diumur kr 72 tahun pada 28 Oktober 1704. Selain terkenal sebagai pencetus dalam pendekatan empirisme, John Locke juga terkenal menjadi seorang filsuf pada negara liberal. Pada tahun dimana John Locke hidup, ini adalah tahun emasnya kehidupan perpolitikan di Inggris, di mana konflik antara Mahkota dan Parlemen dan konflik yang tumpang tindih antara Protestan, Anglikan dan Katolik berubah menjadi perang saudara di 1640-an. Dengan kekalahan dan kematian Charles I, dimulailah eksperimen besar di lembaga-lembaga pemerintah termasuk penghapusan monarki, House of Lords dan gereja Anglikan, dan pembentukan Protektorat Oliver Cromwell di tahun 1650-an. Runtuhnya Protektorat setelah kematian Cromwell diikuti oleh Pemulihan Charles II — kembalinya monarki, House of Lords, dan Gereja Anglikan.

 

Semua karya yang dibuat oleh John Locke, banyak sekali yang terkenal, salah satunya adalah The Second Treatise of Government di mana menurutnya, bahwa kedaulatan berada di masyarakat dan menjelaskan sifat pemerintahan yang sah dalam hal hak alam dan kontrak sosial. Bukan hanya itu saja, pada 1696 Dewan Perdagangan dihidupkan kembali. Locke memainkan peran penting dalam kebangkitannya dan menjabat sebagai anggota yang paling berpengaruh di atasnya hingga 1700. Dewan Perdagangan yang baru memiliki kekuasaan administratif dan, pada kenyataannya, prihatin dengan berbagai masalah, dari perdagangan wol Irlandia dan penindasan. pembajakan, perlakuan terhadap orang miskin di Inggris dan pemerintahan koloni. Itu adalah, dalam ungkapan Peter Laslett "badan yang mengatur Amerika Serikat sebelum Revolusi Amerika" (Laslett 1954 [1990: 127].

 

PEMBAHASAN

Pada masa di mana Inggris menjadikan monariki absolut menjadi sitrm politik pemerintahana,  ini terbukti tidak dapat dilepaskan dari konteks politik praktis pada waktu itu. Inggris menjadikan monarki absolut sebagai sistem politik pemerintahannya dengan Charles II sebagai raja sekaligus penguasa. Lebih-lebih kekuasaan Charles II ditopang oleh teori doktrinal ala Sir Robert Filmer dengan patriarcha yang mendukung monarki absolut dengan raja sebagai titisan Tuhan (Henry J. Schmandt, 2002: 329).

Dalam teori politik, atau filsafat politik, John Locke membantah teori hak ilahi raja dan berpendapat bahwa semua orang diberkahi dengan hak-hak alami untuk kehidupan, kebebasan, dan properti dan bahwa penguasa yang gagal melindungi hak-hak itu dapat dihapus oleh rakyat, dengan paksa jika perlu. John Locke menyatakan pandangannya bahwa pemerintah berkewajiban untuk melayani rakyat, dengan melindungi kehidupan, kebebasan, dan properti. Juga, dia pergi tentang membatasi kekuasaan pemerintah. Dia memihak pemerintahan perwakilan dan aturan hukum. Hal ini terjadi karena di antara hak-hak alam mendasar ini, kata Locke, adalah "kehidupan, kebebasan, dan properti." Locke percaya bahwa hukum manusia yang paling mendasar alam adalah pelestarian umat manusia. Untuk melayani tujuan itu, ia beralasan, individu memiliki hak dan kewajiban untuk melestarikan kehidupan mereka sendiri. Dalam dunia politik, terutama pada masa revolusi Perancis pada 14 Juli 1989, John Locke sangat berpengaruh dalam bidang politik terutama di negara-negara Eropa, seperti Inggris, Prancis, Jerman, bahkan hingga Amerika Serikat. Bahkan  para pendiri dari negara Amerika Serikat, seperti Jonathan EdwardsHamilton, dan Thomas Jefferson jugga terpengaruh dampak dari ide-ide politik Locke.  Kemudian para filsuf Pencerahan Prancis, seperti Voltaire dan Montesquieu, juga dipengaruhi oleh Locke.  Pemikiran politik Locke yang terkenal adalah pembagian/pemisahan kekuasaan menjadi tiga:

a.       Eksekutif (menjalankan undang-undang),

b.      Legislatif (membuat undang-undang), dan

c.       Federatif (memerintah daerah-daerah jajahan).

PEMBAHASAN

Pada masa di mana Inggris menjadikan monariki absolut menjadi sitrm politik pemerintahana,  ini terbukti tidak dapat dilepaskan dari konteks politik praktis pada waktu itu. Inggris menjadikan monarki absolut sebagai sistem politik pemerintahannya dengan Charles II sebagai raja sekaligus penguasa. Lebih-lebih kekuasaan Charles II ditopang oleh teori doktrinal ala Sir Robert Filmer dengan patriarcha yang mendukung monarki absolut dengan raja sebagai titisan Tuhan (Henry J. Schmandt, 2002: 329).

Dalam teori politik, atau filsafat politik, John Locke membantah teori hak ilahi raja dan berpendapat bahwa semua orang diberkahi dengan hak-hak alami untuk kehidupan, kebebasan, dan properti dan bahwa penguasa yang gagal melindungi hak-hak itu dapat dihapus oleh rakyat, dengan paksa jika perlu. John Locke menyatakan pandangannya bahwa pemerintah berkewajiban untuk melayani rakyat, dengan melindungi kehidupan, kebebasan, dan properti. Juga, dia pergi tentang membatasi kekuasaan pemerintah. Dia memihak pemerintahan perwakilan dan aturan hukum. Hal ini terjadi karena di antara hak-hak alam mendasar ini, kata Locke, adalah "kehidupan, kebebasan, dan properti." Locke percaya bahwa hukum manusia yang paling mendasar alam adalah pelestarian umat manusia. Untuk melayani tujuan itu, ia beralasan, individu memiliki hak dan kewajiban untuk melestarikan kehidupan mereka sendiri. Dalam dunia politik, terutama pada masa revolusi Perancis pada 14 Juli 1989, John Locke sangat berpengaruh dalam bidang politik terutama di negara-negara Eropa, seperti Inggris, Prancis, Jerman, bahkan hingga Amerika Serikat. Bahkan  para pendiri dari negara Amerika Serikat, seperti Jonathan EdwardsHamilton, dan Thomas Jefferson jugga terpengaruh dampak dari ide-ide politik Locke.  Kemudian para filsuf Pencerahan Prancis, seperti Voltaire dan Montesquieu, juga dipengaruhi oleh Locke. 

Pemikiran politik Locke yang terkenal adalah pembagian/pemisahan kekuasaan menjadi tiga:

a.       Eksekutif (menjalankan undang-undang),

Eksekutif adalah suatu yang bergantung dengan legislatif, tapi menurutnya ini tidak selalu tentang mendasar dengan undang-unadang, malah terkadang tidak mendasar dengan suatu undang-undang.

b.      Legislatif (membuat undang-undang), dan

Badan ini dibentuk dan dipilih leh masyarakat, mempunyai tanggungjawa yang besar, dan tidak boleh menyelewengkan jabatannya atas kepentingan pribadi.

c.       Federatif (memerintah daerah-daerah jajahan).

Yang berkaitan dengan perang dan damai, dengan membuat suatu perjanjian yang berhubungan dengan orang luar negara, dan diatur oleh badan legislatif. 

 

Terlepas dari apapun pemikirannya, namun tujuan utama dari semuanya adalah bersatu, bersatu dalam membentuk suatu negara dalam satu pemerintahan, untuk melindungii masyarakatnya.

 

Kesimpulan

Dari pembahasan diatas, diketahui bahwa menurut John Locke sendiri manusia adalah mahkluk yang bebas dan memilihi persamaan, termasuk dalam politiknya. Locke juga tidak sepakat terkait dengan kekuasaan atas pemerintahan itu atas dasar grais keturunan, locke juga beranggap bahwa tentang pembentukan karakter politik inii, tidak bisa atas dasar paksaan, karena sejatinya itu lahir dengan sendirinya atau sudah hukum alamnya demikian. atas dasar tersebutlah maka terbagilah pemikiran John Locke menjadi tiga bagian, dua diantaranya masih relevan, kecuali Federatf. Namun kekurangan dari prmikiran Locke sendiri terdapat pada peranan Locke yang mementingkan kaum bangsawan, karena pada dasarnya rakyat biasa tidak diikut sertakann dalam lembaga legslatif itu sendiri.

 

 

 

 

 

 


 

Daftar Pustaka

Buku:

Locke, J. (1997). Locke: political essays. Cambridge University Press.

Locke, J. (2003). Locke: political writings. Hackett Publishing.

Dunn, J. (1982). The Political Thought of John Locke: An historical account of the argument of the'Two Treatises of Government'. Cambridge University Press.

 

Jurnal:

Dunn, J. (1984). The concept of trust in the politics of John Locke. Philosophy in history: Essays on the historiography of philosophy, 279-301.

Juhari, J. (2013). Muatan Sosiologi dalam Pemikiran Filsafat John Locke. Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah19(1).

Wijaya, D. N. (2015). John Locke dalam Demokrasi. Jurnal Sejarah dan Budaya8(1), 13-24.

Djatah, S. (2008). GAGASAN TEOLOGI DALAM FILSAFAT JOHN LOCKE. Jurnal Amanat Agung4(2), 227-244.

 

Membaca Ulang Pemikiran Gandhi Tentang Kemanusiaan

 

Critical Review Jurnal Membaca Ulang Pemikiran Gandhi Tentang Kemanusiaan

 

Keunggulan : Menurut saya dalam metode penelitian jurnal tersebut sudah baik, penulis berusaha mencari dari berbagai sumber baik internet, perpustakaan, atau hasil wawancara, yang nantinya setelah semua berhasil di rangkum, mereka mengambil kesimpulan dalam membuat jurnal ini sendiri.

Kelemahan : Menurut saya penulis masih kurang menjelaskan bagaimana perlakuan kurang baik apa yang Gandhi dapatkan dalam masa kolonial itu sendiri, atau perlakuan tidak etis apa yang Gandhi dapatkan, sehingga Gandhi tidak ingin melakukan tindakan kekerasan balik ke orang yang melukainya.

Keunikan : Penulis mencoba mengajak kita dengan menganalisis bagaimana teori Gandhi ini di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari, yang nantinya akan menyelesaikan masalah dengan tanpa kekerasan, dan belajar bagaimana sifat asli manusia dengan mahluk yang kompleks dan unik gampang berubah, manusia sendiri pasti memiliki rasa cinta dalam dirinya, dan dengan cinta sendiri adalah salah satu cara yang dapat merubah sifat manusia menjadi lebih baik.

Gaya Penulisan : Gaya penulisan jurnal sudah baik dan dapat di mengerti dengan semestinya.

Refersnsi : Wisarja, I. K., & Sudarsana, I. K. (2018). MEMBACA ULANG PEMIKIRAN GANDHI TENTANG KEMANUSIAAN. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora7(1), 9-22.

 

Critical Review Artikel Politik Tanpa Prinsip

Keunggulan : Memberikan informasi tentang bagaimana seorang Gandhi memperkenalkan Tujuh Dosa Sosialnya, yakni : politik tanpa prinsip, bisnis tanpa moralitas, pengetahuan tanpa karakter, sains tanpa kemanusiaan, kaya tanpa kerja, kenikmatan tanpa hati nurani, dan ibadah tanpa pengorbanan diri.

Kelemahan : Menurut saya disini tidak secara jelas menjelaskan bagaimana Politik Tanpa Prinsip yang dimaksudkan oleh Gandhi, hanya lebih ke bercerita bagaimana sosok Gandhi menurut narasumber yang di wawancarai, sehingga dari judul artikel tersebut sudah clickbait yang malah ujungnya membingungkan pembaca, karena tidak mendapatkan inti yang jelas.

Keunikan :  Karena ini menurut sudut pandang narasumber yang memiliki ketertarikan dengan tujuh dosa sosial yang Mahatma Gandhi perkenalkan, dengan bagaimana narasumber itu ingin mengimplemetasikan tujuh dosa sosial Gandhi.

Gaya Penulisan : Karena ini berbasis dengan artiken menurut saya gaya penulisannya masih baik, dan jika ada point penting di bold.

Referensi : https://historia.id/politik/articles/politik-tanpa-prinsip-DB4MG/page/2

 

Critical Review Artikel Religiusitas dan Politik Kemanusiaan Gandhi

 

Keunggulan : Menjelaskan bagaimana religiusitas dan perjuangan yang diajarkannya oleh Gandhi dapat direfleksikan. Kesederhanaan Gandhi inilah yang mendasari konsep religiusitas Gandhi akan Tuhan, yang menjadi kebenaran, dan Menurut Gandhi bila agama kehilangan inti kebenaran dan cinta-kasih, maka banyaknya terjadi kekerasan, di dalam artikel menjelaskan bawa orang yang melakukan kejahatan itu sebenarnya adalah orang yang lemah dan tak mampu mengemban ajaran agama. Dari sini berlanjut bagaimana Gandhi dengan dasar agama yang kuat menjalankan politik kemanusiaan yang sangat damai.

Kelemahan : menurut saya tidak ada karena dalam artikel ini di jelaskan secara padar, singkat, dan jelas bagaimana proses Ganhdi dalam perjuangannya berkaitan dengan agama, politik, dan kemanusiaan.

Keunikan : kita belajar bahwa saat ini kebanyakan politik yang memperalat agama untuk mencapai kesukseannya, namun menurut Gandhi agama adalah syarat religius sebagai dasar dari politik dan kemanusiaan itu, tanpa ada maksud lain, dan kitapun belajar bahwa dengan landasan agama tindakan berpolitis menjadi tindakan yang begitu etis, dan menurut Gandhi politik itu adalah pusat dari perjuangan dalam mewujudkan impian religiusnya tentang kemanusiaan.

Gaya Penulisan : menurut saya gaya penulisan sangat baik, kalimat mudah di pahai, dengan font dan ukuran kalimat yang memudahkan pembaca dalam menganalis karya tulis tersebut.

Referensi : http://deklarasi-sancang.org/religiusitas-dan-kemanusiaan-gandhi/

Resensi Film The War on Democracy – Latin America Dalam Mata Kuliah Perbandingan Politik

 

Resensi Film The War on Democracy – Latin America Dalam Mata Kuliah Perbandingan Politik


KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat  Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas perkuliahan mata kuliah Perbandingan Politik yang berjudulResensi Film The War on Democracy – Latin America dalam mata kuliah Perbandingan Politik”,  makalah ini membahas informasi tentang peran mahasiswa dalam menganalisis film, dan membandingkannya dengan perbandingan politik yang sudah dipelajari selama proses perkulihan berlangsung.

Penulis berharap dengan adanya makalah ini dapat memberikan pengetahuan lebih dan nantinya makalah ini dapat bermanfaat untuk para pembaca, penulis menyadari dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari kata sempurna sehingga kritik dan saran sangat penulis harapkan dari para pembaca.

 

Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung saya dalam penyusunan makalah ini sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan sebagaimana mestinya. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi kita semua, aamiin.

 

 

 

 

 

Penulis

Intan Fatwa Kharismatunnisa.

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Film dekomenter ini tentang perjuangan masyarakat untuk membeaskan diri dari bentuk perbudakan yang moderen, juga menjelaskan bagaimana gambaran dunia bukan hanya sebagai orang Amerika Serikat yang ingin terlihat berguna. Dalam film ini juga menjelaskan kekuatan, keberanian dan kemanusiaan di antara orang-orang yang hampir tidak memiliki apa-apa, dan mendapatkan kembali sebuah kata-kata mulia seperti demokrasi, dari film ini kita meilihat bagaimana orang Amerika Latin sendiri dikucilkan oleh Serikatnya, dan pada akhirnya mereka menujukan kepercayaan yang merupakan suau gerakan perubahan luar biasa yang datang dalam kehidupan mereka. Film ini bertujuan untuk mengetahui tentang hubungan masa lalu Washington dengan beberapa negara bagian dari Amerika Latin seperti : Venezuela, Chile, Guatemala, dan Bolivia. Sang kreator film, yakni John Pilger mengumpulkan beberapa rekaman dari sebuah arsip dan mewawancarai berbagai narasumber, salah satunya adalah Presiden Venezuela Hugo Chavez. Dalam film ini kita dapat mengerti bahwa bagaimana AS berperan dalam proses intervensi kepada Amerika Latin, dan mengubah bagaimana sistem pemerintahan yang sebelumnya telah di bangun oleh Amerika Latin sejak 1950an. Dengan semua rangkauian yang di miliki AS untuk mengintervensi Amerika Latin, malah nyatanya hal ini berimbas terjadinya banyak kekacauan di masing-masing wilayah, walaupun pada akhirnya terlepas dari apapun yang Amerika Serikat lakukan dalam bentuk penindasan ke Amerika Latin. Di dalam film ini kita dapat bandingkan dengan Venezuela, Chili, dan Bolivian tentang bagaimana yang dilakukan Amerika Serikat ke Amerika Latin. Film ini di sutradarai oleh Christopher Martin dan John Pilger, dan rilis pada tahun 2007, berdurasi 96 menit. Film ini diambil dari beberapa kejadian politik di negara- negara bagian Amerika Latin, dalam film ini mengkritik bagaimana intervensi Amerika Serikat terhadap politik domestik negara asing dan perang melawan terorisme.

1.2 Rumusan Masalah

a.       Apa tujuan dari perbandingan yang dilakukan dalam film tersebut?

b.      Jelaskan teori yang digunakan dalam perbandingan yang terdapat dalam film tersebut!

c.       Jelaskan variable-variable yang terapat dalam perbandingan tersebut!

d.      Jelaskan hipotesis yang ditawarkan dari perbandingan tersebut!

e.       Jelaskan, apakah perbandingan tersebut menggunakan Single case? atau Small-n? atau Large-n?

 

1.3  Tujuan Masalah

a.       Untuk mengetahui tujuan perbandingan yang terdapat di dalam film tersebut.

b.      Menjelaskan teori perbandingan apa saja yang terdapat da;am film tersebut.

c.       Menjelaskan variabel yang terdapat di dalam film tersebut.

d.      Menjelaskan hipotesis apa saja yang ditawarkan dalam film tersebut.

e.       Menjelaskan perbandingan apa yang digunakan dalam film tersebut.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Tujuan Perbandingan Yang Terdapat Dalam Film

a. Venezuela

Bermula di Venezuela, Venezuela sendiri adalah salah satu negara terkaya di Amerika Latin, yang kekayaan negara tersebut berasal dari olahan minyak. Hugo Chavez adalah Presiden dari Venezuela yang telah menjabat selama 8 tahun, Hugo adalah simbol kebangkitan, kekuatan besar rakyat yang didorong oleh popularitas besar, namun beluai cukup di benci oleh AS karena apa yang Amerika Serikat inginkan tidak sejalan dengan Hugo Chaves jalankan, karena yang Hugo lakukan adalah ancaman sendiri untuk Amerika Serikat, sehingga Hugo dianggap sebagai criminal goverment. Bahkan oleh salah satu politisi AS Hugo dianggap menjadi ancaman yang ekstrim, bukan hanya di Venezuela namun dibelahan bumi mereka. Tentang latar belakang Hugo Chaves ini, disalah satu wawancara yang dilakukan oleh John Pilger, Hugo menjawab, “bahwa beliau lahir dari keluarga miskin, rumah biasa aja, dan memiliki pengalaman kemiskinan, orang tua yang berkerja sebagai guru, namun neneknya yang berasal dari India mengajarkan banyak sekali hal, salah satunya tentang solidarity with other peolpe, berbagi roti walaupun sedikit, dan bagaimana masa seklahnya yang melanjutkan sebagai tentara dan bersekolah di sekolah militer. Setelah terpilihnya Hugo pada tahun 1999, Venezuela memilik konstitusi, di masa kepemimpinannya itu, masyarakat memilai bahwa Hugo adalah pemimpin yang baik dan memihak orang kecil. 10 tahun sebelumnya masyarakat sangat sulit untuk mendapatkan atau menikmati fasilitas kesehatan, bahkan untuk pendidikan untuk anak-anak mereka yang menjamin full day at school, ibu rumah tangga yang dibayar untuk bekerja, para lansia atau masyarakat miskin melek budaya literasi, dan pertama kali masyarakat bebas merdeka dibawah konstitusi. Karena masyarakat sebelumnya sangat tidak pernah mearsa diperhatikan oleh pemerintah, bahkan untuk ke rakyat kecil. Walaupun Hugo dianggap fasis dan seperti Nazi untuk kaum yang membencinya, namun bagi kebanyakan masyarakat Hugo Chaves is a rightfull president, people love him and they will defend him.

Ada sebuah fakta menarik tentang National Endowment For Democracy, yang dimana pemerintah AS menginvestasikan lebih dari 2 juta dollar untuk membiayai organisasi ini (dana nasional untuk demokrasi) selama kurang lebih 6 bulan. Selain itu organisasi ini membagikan uang kepada kelompok yang pemimpinannya memberikan jabatan kabinet untuk waktu yang singkat (rezim illegal). Roger Noriega selaku asisten menteri luar negeri Amerika Serikat periode 2003-2005 menjelaskan bahwa AS tidak berinvestasi ke organisasi tersebut.

b. Guatemala

Merupakan salah satu negara kecil di pusat Amerika, dan termasuk ke dalam negara miskin, pada tahun 1950an Jacobo Arberiz menjadi presiden pertama di Guatemala dan dipilih secara demokrastis oleh kebanyakan orang. Reformasi gaya perjanjian baru, AS tidak bisa mengontrol tentang ekonomi yang ada di Guatemala, dan pemimpinya yang baru, Arberiz memiliki branding sebagai komunis, diktaktir baru dalam demokrasi, bahkan Vice President, Richard Nixon mengucapkan selamat untuk ke diktaktor baru itu. Dalam masa kepimpinannya kurang lebih sebanyak 2000an orang mati di masa kepemimpinan Arberiz, menurut Richard Helms juga mereka merasa bahwa jika Amerika Serikat tidak mengendalikan pemerintahan Amerika Latin.

c. Chile

National Stadium in Santiago, Chile adalah sebuah tempat bersejarah yang di mana di tempat ini banyak memiliki cerita tentang perjuangan masyarakat Chile dalam masa-masa tidak beruntungnya. Chile di bawah kepemimpinan Allende menjadi sebuah inspirasi rahasia. Bahkan ada sebuah dokumen pada bulan Oktober tahun 1970, CIA mengirim telegram sebagai man in Chile, dan itu adalah sebuah kebijakan yang tegas dan berkesinambungan bahwa Allende dgulingkan dengan kudet, Chile mengkudeta ssangat sempurna. Dan satu lagi, seorang elite Amerika Latin senang diselamatkan oleh fasisme. Menurut Duane Clarridge Chile adalah satu-satunya alasan itu karena Pinochet. Pemerintah Chili, Salvador Allende yang terpilih secara demokratis, misalnya, digulingkan oleh kudeta yang didukung AS pada tahun 1973 dan digantikan oleh kediktatoran militer Jenderal Pinochet. Guatemala, Panama, Nikaragua, Honduras, dan El Salvador semuanya telah diserang oleh Amerika Serikat. Pada akhir tahun 1970an di Amerika Latin di kontrol oleh diktaktor, yang seperti Pinochet, selain fasis, Pinochet juga dianggap menjadi biang oenderitaan bagi kebanyakan rakyat Chile saat itu. Lantas bagaimanakah tentang peran pemerintaham Amerika Serikat dalam pelanggaran hak asasi manusia?

Di akhir tahun 1980an, kebijakan Washington berubah, seorang diktaktor seperti Pinochet di pandang sebagai rasa malu yang tidak perlu dibincangkan lagi. Kebijakan ini adalah suatu cara baru dan inovatif untuk mengendalikan bangsa-bangsa. Pada tahun 1990an, nama demokrasi ini diganti menjadi dic, dan pada tahun yang sama demokrasi ini menggantikan kediktaktoran di Amerika Latin, dengan Chile menjadi pendomannya. Chile sekarang adalah negara demokrasi secara teori, namun menurut implementasinya mungkin sudah mati, dan Chile masih meninggalkan semangat sisa-sisa militernya.

d. Bolivia

Adalah negara dengan kebebasan bereksperimen, dengan masyarakatmya kebanyakan brutal tertinggi di Andes. Gonzaki Sanchez de Lozada atau dikenal dengan Goni adalah presiden Bolivia pada tahun 2003, beliau dibesarkan di Washington, pada masa kepemimpinan beliau banyak sekali terjadi aksi besar-besarkan untuk menuntut pemimpin mereka yang lama kembali, kondisi ini sama seoerti di Venezuela, dalam aksi masa ini mereka menuntut negara mereka kembali, ternyata apa yang mereka suarakan di dengar, Goni secara sadar mengundurkan diri dan di sambut dengan rasa semangat oleh kebanyakan masysrakat, dan pada bulan Oktober 2004, kongres Bolivia memerintahkan lambang jabatannya.

Amerika Latin Saat Ini

Sekarang di Amerika Latin ada sekelompok pemimpin menawaarkan sebuah awal yang baru. Di mana masyarakat Venezuela yang sangat mencintai Hugo sampai akhir hayatna, apa yang terjadi di National Stadium in Santiago, Chile adalah memiliki tempat yang sangat spesial dalam memperjuangkan untuk kebebabsan dan demokrasi seluruh Amerika Latin dan dunia. Apa yang terjadi dalam kerusuhan pemerintahan Amerika Latin adalah karena adanya campur tangan dari Amerika Serikat, dan kebijakan publik Washington yang menjadikannya akar dari semua permasalahan yang terjadi di Amerika Latin. Perbandingan dalam film ini lebih untuk menyari tau tentang bagaimana kudeta yang di gancarkan Amerika Serikat di negara bagian Amerika Latin, Hugo Chavez adalah seorang pahlawan Bolivarian yang memiliki keberanian untuk bertahan hidup tanpa tunduk pada negara adidaya yang perkasa, yakni Amerika Serikat. Perbandingan ini mengungkap kisah nyata di balik upaya penggulingan Presiden Venezuela Hugo Chavez pada tahun 2002 dan bagaimana orang-orang di barrios Caracas bangkit untuk memaksanya kembali berkuasa. Di jelaskan juga bahwa perbandingan politik AS selalu ikut campur tangan di wilayah Amerika Latin untuk melindungi kepentingan ekonominya.

2.2 Metode Penelitian Berdasarkan Ulasan Teori Film

Metode Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan desain penelitian analisis wacana kritis Norman Fairclough. Metode penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif, yaitu ucapan atau tulisan, atau perilaku yang dapat diamati dari subjek itu sendiri (Fuchran, 1998: 11)

Untuk menganalisis wacana yang terdapat dalam film The War on Democracy peneliti menggunakan analisis yang dekembangkan oleh Norman Fairclough. dalam analisis wacana kritis Norman Fairclough. Model yang dikemukakannya sering disebut juga model perubahan sosial (social change) karena berusaha mengintegrasikan antara aspek linguistik dengan pemikiran sosial dan politik menuju perubahan sosial. Dalam model Fairclough, teks di sini dianalisis secara linguistik, dengan melihat kosakata, semantik, dan tata kalimat. Ia juga memasukan koherensi dan kohesivitas, bagaimana antar kalimat atau kalimat tersebut digabung sehingga menimbulkan pengertian. Fairclough membagi analisis wacana dalam tiga dimensi : teks (sic-pen), discourse practice, dan sosiocultural practice (Eriyanto, 2001:286).

Menurut Dana Ward, Database Review Antropologi Perang Melawan Demokrasi menunjukkan realitas brutal dari gagasan Amerika Serikat tentang menyebarkan demokrasi”. Bahwa pada kenyataannya, Amerika Serikat sebenarnya sedang melakukan perang terhadap demokrasi, dan bahwa demokrasi kerakyatan sejati sekarang lebih mungkin ditemukan di antara yang termiskin di Amerika Latin. Film dokumenter yang menggugah pemikiran ini akan membangkitkan beberapa ide dan mendorong para politisi serta warga yang memilih mereka untuk menemukan cara membuat perubahan sosial yang signifikan demi kepentingan semua kelas. Film ini sangat direkomendasikan untuk mahasiswa yang tertarik dalam studi Amerika Latin, sejarah Amerika Latin, budaya, dan ilmu politik."

Menurut Marcus Raskin, salah satu Pendiri, Institute for Policy Studies, penulis bersama Bob Spero, The Four Freedoms Under Siege: The Clear and Present Danger from Our National Security State

"John Pilger dan rekan-rekannya memiliki banyak hal untuk dijawab! Mereka berani menyajikan fakta yang keras dan keras kepala tentang kebijakan keamanan luar negeri dan nasional Amerika dalam periode di mana kita telah dipropagandakan untuk mengalihkan pandangan kita dari berbagai kebenaran hal, peristiwa, dan kondisi seperti mereka. Mereka telah menunjukkan tidak hanya kesombongan, tetapi juga kebodohan para pemimpin dan penasihat mereka yang menipu orang lain dan diri mereka sendiri. Dan akhirnya, para pemimpin Amerika ini berusaha untuk merendahkan, merusak, jika tidak menghancurkan peluang yang tidak berdaya dan celaka harus mengajari kita, orang kaya tapi tertipu sehingga kita akan berhenti bertingkah seperti tumit, bodoh, dan penjajah. Film ini adalah alat pengajaran penting yang harus digunakan di tingkat perguruan tinggi dan seterusnya, di teater komersial, serikat pekerja, dan gereja."

2.3 Variabel Dan Hipotesis Yang Terdapat Pada Film

Variabel dependent (tidak bebas) è hasil apa yang Anda minati

1.      Mengapa AS sangat mempertahankan hegemoninya?

2.      Bagaimanakah propagandan berjalan di  lingkungan demokrasi?

3.      Apakah uang membuat orang bahagia?

4.      Apakah faktor kemiskinan mempengaruhi sikap berpolitik?

5.      Mengapa ada negara sosialis dan ada yang tidak?

Variabel Independent (bebas) è factor penyebab apa yang Anda minati?

1.      Mengapa AS sangat mempertahankan hegemoninya?

2.      Bagaimanakah propagandan berjalan di  lingkungan demokrasi?

3.      Apakah uang membuat orang bahagia?

4.      Apakah faktor kemiskinan mempengaruhi sikap berpolitik?

5.      Mengapa ada negara sosialis dan ada yang tidak?

 

Hipotesis

  • Ho: Tidak adanya perbedaan kepemimpinan Amerika Serikat dengan Amerika Latin.
  • Ha: Terdapat adanya perbedaan kepemimpinan di Amerika Serikat dengan Amerika Latin.

2.4 Perbandingan Small-n

The War on Democracy – Latin America

Venezuela dan Boliviar memiliki persamaan karena pemimpin mereka berusaha di kudetakan oleh AS¸ dan tterlepas dari sejarah penindasan yang dilakukan terus menerus oleh Amerika Serikat, nyatanya gerakan demokrasi sudah mulai berkembang di Amerika Latin. Kasus yang di pilih John ini termasuk kasus besar yang cukup menonjol, yang memperlihatkan bahwa sejarah tidak hanya di tulis oleh yang menang saja, namun dari film ini kita dapat melihat dari sisi yang lainnya, dengan apa yang dilakukan AS terkait dengan menyuarakan demokrasi, nyatanya hal ini menghambat kemajuan AS, karena prinsip-prinsip demokrasi dapat ditemukan lebih mudah di antara orang-orang termiskin di Amerika Latin daripada di Amerika Serikat.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Amerika Serikat rela melakukan segala cara seperti menyiksa, bahkan membunuh demi mempertahankan apa yang mereka inginkan, film ini berdasarkan kisah nyata yang bersumber dari arsip dan wawancara kepada narasumber yang terdampak secara langsung, dalam film ini juga menunjukan bagaimana kebobrokan Amerika Serikat yang tanpa nuraninya berusaha mencoba mengacau di Amerika Latin tersebut, ini juga mengungkapkan bagaimana apa yang terjadi di Amerika Latin adalah metafora bagaimana bagian dunia lainnya "diatur".

Inti dari film ini adalah pada tema konstan dalam semua karyanya: kekuatan yang besar dan rakus itu jauh dari tak terkalahkan dan bahwa kekuatan manusia itu abadi. Fotaograf dalam video definisi tinggi, hanya sedikit film yang dibuat tepat waktu seperti The War on Democracy .

 

DAFTAR PUSTAKA

http://socialistreview.org.uk/315/war-democracy

http://johnpilger.com/videos/the-war-on-democracy

https://www.youtube.com/watch?v=xyWVh4kRyg4

Etnis Tionghoa Pasca Orde Baru dan Politik Identitasnya

Etnis Tionghoa Pasca Orde Baru dan Politik Identitasnya             Etnisitas adalah sekelompok manusia yang memiliki kesamaan latar b...